Karena Telur Butuh Cangkang (Mendesain Kemasan)


Artikel ini sudah ditebitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 29 September 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KONON produk agro dari daratan Sumatera bisa bersaing dengan produk serupa dari Taiwan, Thailand dan China. Banyak pihak yang mengakuinya, sayangnya ketika berkumpul sebutlah di Port Klang, Malaysia -- salah satu pintu perdagangan Asean--, nampaknya produk kita cenderung kalah. Apa pasal? Ternyata masalah kemasan. Produk kita bahkan masih ada yang menggunakan bungkus Koran bekas.
Ketika produk UKM bersanding dengan produk pabrikan besar, ternyata yang sering membuatnya kalah adalah juga masalah kemasan. Seperti yang saya sebut minggu lalu, salah satu fungsi kemasan adalah sebagai penjual yang diam /silent salesman. Dia harus penuh pesona untuk langsung dilirik oleh calon pembeli dan informasinya membuat calon pembeli lebih jatuh cinta dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Mengingat pentingnya kemasan sebagai bagaian yang tidak terpisahkan dari produk yang sebenarnya, mari kita bahas bagaimana cara mendesain kemasan produk.

Makna
Bukan sulit, tetapi memang merancang kemasan ternyata tidak sesederhana yang dilihat. Rancang bangun kemasan memerlukan perhatian khusus mulai dari mendesain dasar sampai maksud yang terkandung didalamnya agar tercapai sasaran yang dikehendaki.
Produk yang dikemas sebenarnya akan dimaknakan sebagai produk apa? Apakah bersifat personal, sosial atau publik.  Dalam hal ini sifat komunikasi menjadi pertimbangannya. Komunikasi antara pengirim ke penerima pesan atau dari produsen ke konsumen, jika bermakna personal, kemasan harus punya nilai keintiman. Artinya, produk yang dikemas itu hanya ingin diketahui oleh pelakunya, jangan ada orang lain yang tahu apa isi produk dalam kemasan itu. Mungkin ini lebih cenderung tepat untuk produk-produk kado. Atau kemasan yang di desain khusus dengan jumlah terbatas. Pesan yang disampaikan sangat pribadi dan khusus.
Makna kemasan yang sosial, bisa jadi digunakan untuk produk yang bernilai penghargaan atau penghormatan atas prestasi atau hasil yang dicapai. Penghargaan adalah bentuk penghormatan, tentu saja pendekatannya adalah memposisikan lebih tinggi bagi penerimanya.
Sementara kemasan yang bernilai publik, biasanya untuk produk untuk komersial, jadi pesan kemasannya harus dapat dimengerti oleh semua orang yang membacanya.

Kemasan komersil
Mari kita coba fokus kepada makna publik yang lebih komersial.  Kemasan dengan makna ini adalah sebuah hasil desain untuk memastikan nilai jual produk menjadi lebih tinggi.
Setelah mempertimbangkan faktor bentuk fisik dimana kita harus menjawab pertanyaan, apakah kemasan ini adalah melekat pada produknya seperti kulit atau seperti cangkang yang melindungi produk disamping pertimbangan fungsi kemudahan dan praktis pembawaannya.
Faktor fungsi harus benar-benar diperhatikan. Jika produk yang dikemas adalah produk makanan, apakah makanan tersebut dimakan langsung dengan menggunakan kemasan sebagai alasnya, atau produk haru dituang ke media makan yang lain seperti gelas, piring dll. Pertimbangkan apakah penutupnya mudah dibuka dan ditutup. Pertimbangkan tinggi dan lebar kemasaan jika akan disimpan dan dibawa serta seluruh potensi yang berhubungan dengan sifat fisik produk.
Selanjutnya bahasa warna dan ilustrasi. Semua warna memiliki karakter dan pengaruh yang berbeda-beda. Warna merah menghasilkan pesan yang berbeda dengan warna hitam. Sebutlah untuk makanan, warna yang siring sukses adalah kombinasi warna merah, kuning, coklat dan hitam. Untuk produk kesehatan bisa dipilih warna biru, putih dan hijau.
Warna kemasan produk untuk anak-anak menuntut pewarnaan yang berbeda dibanding untuk orang tua. Produk untuk anak laki-laki dan perempuan juga pasti berbeda.  Lebih lanjut tentang warna, kita akan kita bahas pada tulisan beriktunya minggu depan.


Konsulatasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »