Membajak Diri Sendiri (Multiple Brand)


          
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Agustus 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


          Sebagian strategi kemenangan pasukan Napoleon dalam perang yang juga dilakukan oleh banyak pasukan lain seperti Pasukan Kaisar Cina di dinasti Ming, Gerilyawan Taliban, Bahkan oleh Pasukan Republik (TNI) ketika melawan agresi militer Belanda yang ke-2.
        Strateginya adalah teknik kamuflase. Mereka membuat berbagai macam tampilan yang dikesankan bahwa pasukan mereka memiliki perangkat perang yang lebih besar, pasukan yang banyak dan member kesan menakutkan. Ada yang membuat boneka prajurit dengan jumlah besar. Ada yang membuat tank tiruan dari balon yang jika diisi angin, akan terlihat seperti kendaraan baja yang berbahaya. Ada yang membuat api unggun di banyak lokasi dengan tujuan mengelabui musuh bahwa pasukan lawannya sudah mengepung pihak musuh.
          Startegi yang sama juga diaplikasikan dalam komunikasi politik dalam pencitraan media. Misalnya calon presiden yang mengunjungi satu kelompok petani lalu diberitakan bahwa kelompok tersebut membulatkan tekat untuk mendukung calon presiden tadi. Jadi seolah-olah seluruh petani di Negara ini memilih si calon presiden.
                Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana dengan merek-produk anda?”

Peniruan
           Ketika merek-produk anda menjadi terkenal – atau akan menjadi terkenal--, maka pembajakan, peniruan, dan aksi mengekor akan terjadi dengan segera.
            Konsep ATM – Amati, Tiru, Modifikasi—adalah langkah yang paling sering dilakukan pesaing anda. Jika anda memiliki merek-produk yang bagus dan diminati pasar, Ibarat menanam jamur di musim hujan, dalam hitungan segera, akan bertumbuhan banyak jamur yang sama.
     Ketika pesaing meniru merek-produk anda dengan sedikit modifikasi, maka anda tidak lagi bisa menjerat mereka secara hukum, karena pada dasarnya mereka memunculkan produk yang dianggap berbeda. Lagian, jika kita tidak cukup besar, memproses para pembajak dan peniru itu secara hukum akan memakan waktu, energy dan biaya yang tidak sedikit.
              Rejeki benar urusan Tuhan dan sangat personal. Tetapi menjaga rejeki tidak direbut orang lain adalah kewajiban. Jadi jangan sampai para penjiplak begitu saja mengambil keuntungan dari jerih payah anda.
            Sebelumnya, coba perhatikan ketika perusahaan mie instant terbesar di Indonesia, mereka memiliki beberapa merek dari produk yang sama dan masyarakat berfikir bahwa itu dari perusahaan yang berbeda. Lalu, ada setidaknya 3 merek shampoo terkenal yang sebenarnya dimiliki oleh satu perusahaan. Ada juga juga 3 merek pisau cukur yang beda walau sebenarnya dimiliki oleh satu perusahaan.
              Menciptakan produk sama dengan merek yang berbeda adalah salah satu cara menghempang peniruan oleh pesaing. Dengan tersedianya beberapa merek yang beda atas produk yang sama, setidaknya pesaing berfikir bahwa pemain di produk tersebut sudah banyak, sehingga para pesaiing berfikir ulang untuk menjiplak.
         Dengan merek yang banyak, masyarakat pembeli merasa ada alternatif. Mereka merasa terpuaskan karena mereka merasa memiliki kekuasaan untuk memilih. Beda merek, beda harga dan entah beda apapun yang dikesankan oleh pemilik produk.

Membajak Diri Sendiri
            Seorang kenalan saya adalah produser yang membuat rekaman lagu-lagu daerah. Dalam melawan pembajakan, ia memutuskan untuk membajak dirinya sendiri. Seminggu setelah produk aslinya ia edarkan, dengan serta merta ia mengedarkan produk bajakannya sendiri. Ia membuat produk yang seolah-olah palsu dengan kualitas yang lebih rendah. Dan hingga kini para pembeli produk bajakannya itu tidak pernah tahu bahwa mereka sebenarnya membeli produk asli dengan kualitas yang rendah. Sederhana dan efektif.


                                                                                             
                                                                                       Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »