NARSIS (Pesan penentu dalam Label produk)


 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 Oktober 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            ADA dua orang calon direktur utama sebuah Perusahaan Dearah Milik Pemerintah Daerah yang sedang mengikuti ujian fit & proper test. Dihadapan mereka ada seorang professor, seorang ahli ekonomi bergelar PHD, dan Seorang Praktisi bisnis yang berpengalaman.
               Pertanyaan pertama dari para penalis adalah, “Coba saudara presentasikan kepada kami, apa kompetensi anda sehingga merasa yakin akan mampu memimpin perusahaan ini?”
                Kandidat pertama dengan yakin memperkenalkan diri, “Saya adalah sarjana dari universitas terkemuka (maaf saya tidak sebut namanya) Di kota (sebutlah Y) yang sangat tepat dengan bidang usaha perusahaan ini. “Saya juga alumni dari China dalam bidang yang juga sangat tepat”. “Saya sekarang menjabat pimpinan pada perusahaan multinasional (sebutlah PT. X) yang bidang usahanya yang sesuai dengan perusahaan ini”. “Saya berpengalaman puluhan tahun dan sangat menguasai bidang usaha perusahaan ini dari hulu hingga hilir” dan banyak lagi kalimat pengakuan dengan detail dan teknis disebutkan oleh kandidat pertama yang bahkan tidak dikuasai oleh para panelis.
            Kandidat kedua, menjawab singkat dan padat, “Saya 10 tahun menjadi anggota legislatif, jangankan menjadi direktur perusahaan daerah ini, jadi walikota saja saya sanggup!”.
               Akhirnya, kandidat pertama gagal dan terpilihlah kandidat yang kedua. Padahal sebenarnya latar belakang pendidikan dan pengalaman kandidat kedua sedikit jauh dari bidang usaha perusahaan daerah tersebut.

Pengakuan
              Pesan moral dari kisah diatas adalah bahwa suatu ketika, ada masanya dimana anda harus mengaku meningkatkan posisi tawar anda. Sama juga kondisinya untuk produk-produk yang anda jual. Harus mengaku, sehingga ”para panelis” akan memilh produk anda yang dipajang bersaing dengan produk lain. Para pembeli anda adalah panelis yang ‘berkuasa’. Mereka memiliki latarbelakang yang bervariasi, ada professor, ada manajer, ada ibu rumah tangga, ada remaja dan sebagainya.
               Dalam tulisan terdahulu, sudah kita bahas bagaimana merayu “para panelis” melalui stretegi pemilihan nama merek, strategi pemilihan bentuk kemasan, strategi pemilihan warna kemasan dan warna produk, dan sekarang kita bahas bagaimana mengaplikasikan strategi pengakuan dalam label produk.

Silent Salesman
Tulisan dalam label adalah pengganti salesman yang tidak bisa hadir ketika produk dilihat oleh calon pembeli. Karenanya, harus dipastikan tulisan tersebut bisa merayu dan mengarahkan pembeli untuk memilih produk anda.
Yang pertama, pastikan siapa pasar akan anda tuju. Bahasa untuk orang yang berpendidikan sangat berbeda dengan orang biasa yang awam. Bahasa untuk remaja berbeda dengan bahasa untuk ibu rumahtangga.
Yang kedua, pilih slogan yang sederhana, tepat dan mewakili keunggulan anda. Ingat, hindarkan kata-kata usang yang tidak bermakna seperti, “kami memang beda”.
Ketiga, sertakan manfaat dan keuntungan pembeli jika membeli dan atau mengkonsumsi produk anda. Pastikan manfaatnya yang nyata, jangan asal sebut dan jangan buat seperti kebanyakan produk herbal yang bisa menyembuhkan hampir semua penyakit. Dengan jujur sebutkan ketidak cocokan yang mungkin terjadi pada kondisi tertentu.
Keempat, ikuti aturan Negara yang menyebutkan masa kadaluarsa, kode produksi, ukuran, kondisi dan syarat serta ijin dan sertifikasi yang dimiliki. Ijin dan sertifikasi kadangkala malah memberikan keuntungan lebih seperti ijin dari Depkes dan tanda Halal dari MUI. Tanda halal jadi acuan banyak pihak bahkan konon kini orang-orang non muslim lebih memilih produk yang bertanda itu.
                 Selamat mencoba.

                                                                                                    Konsulatasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »