Pijat Rp. 50.000,- - Massage Rp. 250.000,- (Jual Gengsi)


 
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Januari 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                BUKAN lagi jadi rahasia, kelemahan terdasar dari manusia adalah rasa gengsi. Perkara gengsi ini akan menjadi lebih serius jika ditermahkan sebagai marwah dan harga diri. Konon banyak orang yang rela mati jika tersangkut masalah ini.
                Bagi kita para pebisnis, fakor gengsi justru menjadi peluang yang menguntungkan. Asal kita tahu cara mendagangkan rasa yang menggelikan ini.
                Contoh diatas adalah bukti bahwa kemasan yang mencitrakan gengsi kadang efektif untuk menaikkan harga jual sebuah produk. Pijat, urut, kusuk  dan massage itu sejatinya sama saja. Tetapi, ketika produk itu disebut dalam bahasa asing yang menjanjikan kelas gengsi, harga jualnya lebih mahal.
                Contoh lain misalnya, oukup (mandi uap tradisional) dibandrol dengan harga Rp.50.000,- dan Sauna (mandi uap modern) dijual dengan harga Rp.300.000,-. Produk lain, roti panggang harganya Rp.5.000,- dan toast (roti bakar juga) berharga Rp. 25.000,-, Kopi tubruk Rp. 3.000,- tetapi Americano Black Coffee berharga Rp. 45.000,-

Bukan lokal
                Konon, dukun hebat biasanya lebih dikenal diluar kampungnya. Karena orang dikampung tersebut sejak awal mengenal si dukun, sehingga tahu masa-masa awal keetika si dukun belum hebat. Warga kampung disana merasa bahwa si dukun biasa saja seperti kebanyakan orang lain disana.
                Kata “pusat” (centre atau centra) dikalangan kita tekesan sebagai pusat, lebih hebat dan tiada yang menandingi dan itu bukan di kampung kita. sebutlah ketika ada berita bahwa ada pejabat dari “pusat” datang, maka semua orang tergopoh-gopoh menyambutnya. Padahal untuk kalangan orang pusat itu sendiri, mereka merasa biasa-biasa saja.
                Saking gila-nya orang-orang kita atas produk atau segala sesuatu yang berasal dari luar daerahnya. Mereka benar-benar buta dan sangat mudah ditipu. Sebutlah yang dialami oleh teman saya Haji Cucu, ketika hendak kembali dari Mekah, ia memborong puluhan kopiah/lobe. Niatnya untuk oleh-oleh bagi sanak keluarganya di Medan. betapa kecewanya Ia, ketika beberapa orang tetangganya yang mencibir ketika menerima hadiah itu. Usut punya usut, ternyata label yang lengket di lobe tersebut bertuliskan, “Made in Indonesia”.
                Jadi, ada produsen sepeda yang sengaja mendaftarkan produksi sepedanya di luar negeri dan seolah-olah menyebutkan bahwa itu produk inpor. Dan terbukti laku keras.
                Latah yang amat sangat itu menginspirasi para pengusaha untuk member nama produknya dengan kata-kata berbau asing. Sebutlah produk fashion, dari baju hingga sepatu, mereka menggunakan merek yang berbau bahasa Italia. Untuk produk elektronik mereka menyadur kata-kata yang berbau bahasa Jepang.  Dan hasilnya luar biasa.

Percuma ajak cinta produk lokal
                Bukan saya tidak cinta bangsa sendiri, tetapi pasar sudah terbentuk dan punya persepsi sendiri tentang buatan dalam negeri. Yang pasti, saat ini tak perlu meminta masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri.
                Kuncinya bukan meminta mereka untuk mencintai produk bangsa sendiri, tetapi promosikan saja produk-produk kita dengan maksimal. Biar saja konsumen mengira bahwa produknya adalah produk asing. Biar saja mereka merasa bergengsi dengan label itu. Sampai suatu saat mereka menyadari bahwa produk bergengsi tersebut sebenarnya adalah produk dalam negeri.
                Artinya, biarlah gengsi dinikmati oleh mereka yang memerlukanya. Hingga mereka sendiri yang menemukan realita sebenarnya.
Ingat, yang kita jual adalah rasa gengsi, bukan kita yang menjadi korban rasa gengsi itu sendiri. Yakinlah, ketika kita sudah kaya raya, otomatis kita akan menjadi bergengsi. Ya, otomatis…


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »