SAMBAL “JANDA MENGAMUK" (Memilih Nama Produk Kuliner)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Juni 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

KETIKA nama merek usaha sudah diputuskan, anda mungkin harus membuat nama-nama produk yang banyak. Ketika produk anda bukanlah produk monopoli, tetapi produk yang bisa dibuat siapapun dan dimanapun serta kapanpun, artinya, tidak ada urgensi bagi pembeli untuk repot-repot berlanja ke lokasi anda dan memilih produk anda. Saat itulah Anda ditantang untuk mampu mengkondisikan, seolah-olah menu anda adalah produk satu-satunya dipasaran yang hanya ada ditempat anda. Tidak ada di tempat lain.
Sebutlah nasi goreng. Dimana-mana ada dijual nasi goreng. Secara umum bentuknya sama dan rasanya juga relatif sama. Yang bisa anda lakukan adalah mengkemasnya menjadi seolah-olah berbeda. Tentu saja itu harus dimulai dengan penamaan produk tersebut.
Ketika dalam daftar menu tersebut “nasi goreng”, pikiran pembeli jelas hanya kepada nasi goreng biasa. Jelas tidak menarik. Jika namanya ditambah menjadi “Nasi Goreng Istimewa”, itu juga tidak membuat orang tergiur apalagi meneteskan air liur. Yang pasti, hampir semua restoran ada menjual “Nasi Goreng Istimewa”, artinya; jelas itu tidak istimewa lagi.
Cobalah jika nama menu itu kita ganti dengan “Nasi Goreng Rembulan”, anda bisa bayangkan bagaimana calon pembeli mempersepsikan nama “Nasi Goreng Rembulan” itu. Mereka akan memerlukan waktu sekian detik untuk mencoba mengkreasikan pikiran dan memahami nama itu. Masa berfikir yang sekian detik itu bisa menjadi liar, mereka bisa saja mengira-ira seperti apa nasi goreng rembulan itu. Masa yang sekian detik itu adalah kesempatan baik untuk mencuri perhatian calon pembeli. Padahal, Nasi Gerang tersebut adalah nasi goreng biasa dengan telur mata sapi yang bulat seperti Rembulan yang di taruh diatasnya. Itu saja.

Berani
              Usia usaha kuliner yang pop biasanya tidak lama. Persaingan terbuka dan tajam. Maka, nama menu harus bombastis dan menohok perhatian. Saran saya ini hanya berlaku untuk semua gerai non Fine Dining, berlaku untuk rumah makan, restoran, café, kaki lima dan kedai. Untuk resto yang fine-dining, anda harus mempertahankan standard internasional yang baku, kaku dan elegan.
                Kembali ke konsep keberanian menentukan nama produk. Ada satu resto di yang pernah memperkenalkan menu sambal yang sangat pedas, namanya “Sambal Janda Mengamuk”. Mereka menggambarkan tingkat pedas yang sangat dasyat. Saya tidak akan membahas sensasi janda mengamuk ini, silahkan anda nikmati pikiran liar anda sendiri.
                Kini banyak contoh keberanian itu; Soto gebrak, Soto Rambut Setan, Tahu Mercon, Sate Tampar dan masih banyak lagi nama-nama produk yang unik dan mudah mencuri perhatian. Tetaplah ikuti kaidah dasar membangun merek seperti yang saya tulis minggu lalu, simple, mudah disebut, khusus dan bermakna positif, saya sangat tidak tahu, apakah “Resto Nasi Kentut” yang ada di Kota Medan bisa serta-merta laku dan bertahan lama. Memang benar resto itu berani, tetapi saya rasa maknanya kurang nyaman di pikiran orang yang mau makan.

UNGGULAN
            Jika anda memiliki banyak produk, jangan serakah untuk memperkenalkan semuanya secara bersamaan. Mata manusia tidak bisa mendua. Pilihlah satu yang menonjol untuk dikedepankan. Produk inilah yang nantinya akan menjadi identitas gerai anda.
 Ingat, produk kuliner sangat mudah ditiru. Jadi sekali lagi, anda hanya perlu mengkondisikan, seolah-olah produk anda hanya ada pada anda saja. Seolah-olah resepnya hanya milik anda. Tidak ada ditempat lain, dimanapun.


Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »