Ssst…! Ini SARA Betulan..! (Warna, Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan)

 
 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Oktober 2014, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

SATU kesalahan para pemasang iklan adalah bahwa sejatinya mereka tiada memperhatikan iklan orang lain. Ketika membuka koran, mereka akan melewatkan halaman iklan. Lalu mereka akan melihat halaman itu hanya ketika mereka ada memasang iklan. Artinya, mereka hanya ingin melihat iklan mereka sendiri.
Iklan dan semua produk pemasaran semestinya bukan untuk dinikmati sendiri, tetapi diarahkan untuk dinikmati oleh orang lain dan mendapat perhatian dari orang lain. Tentu saja, ketika produk pemasaran itu ditujukan untuk orang lain, maka harus dipertimbangkan latar belakang target serta kebiasaan budayanya sekaligus preferensi yang umumnya mereka miliki.
Melanjutkan topik tentang warna untuk merek/produk, mari kita bahas lebih dalam hal sasaran yang dituju dari desain produk promosi yang kita maksud.

SARA
Kunci utama untuk sukses mempengaruhi orang lain adalah bahwa boleh saja kita ini cerdas dan pintar sekelas professor, tetapi jika berkomunikasi harusnya kita menggunakan bahasa pihak yang dituju. Artinya, Suku, Ras, Agama dan Golongan adalah pertimbangan absolut untuk dipahami dan diperhatikan. Ketika kita mengenal dan memahami siapa yang akan kita tundukkan, maka kita akan memenangkan pertempuran itu.
Dalam kontek pemilihan warna untuk produk, merek dan kemasan, sangat bijaksana jika faktor SARA juga diperhatikan. Masyarakat bereaksi berbeda-beda terhadap warna karena faktor tingkat kemajuan ekononi, pendidikan serta kondisi iklim dan ras yang berbeda.
Manusia mempunyai prasangka terhadap warna, terutama yang berlatar belakang agama, suku, ras dan golongan; warna yang digunakan harus menarik mayoritas pembeli. Kombinasi warna yang digunakan penting sekali dan jangan sampai menimbulkan asosiasi yang tidak menyenangkan
Ketika kita mengidentifikasikan warna-warna dan suku, agama, ras dan golongan, sepertinya sudah terjadi kesepakatan bersama yang tidak tertulis yang melabelkan warna-warna tersebut dengan kelompok-kelompok tersebut.
Masyarakat pada level sosial sederhana umumnya menyukai warna yang kuat, mencolok. Juga mereka yang tinggal di daerah tropis, karena warna harus berkompetisi dengan teriknya sinar matahari. Orang-orang yang tinggal di daerah beriklim sedang bereaksi lebih baik pada warna sederhana.
Pendukung kesebelasan MU memiliki warna khusus yang berbeda dengan warna Chelsea, jika ingin menjaring pasar pendukung MU, pastikan tidak menggunakan warna Chelsea.
Ketika warna hijau dan kuning sering diartikan sebagai warna kelompok Muslim, akan berganti kesan ketika warna hijau bertemu warna merah pada saat Natal tiba.
Warna merah juga menjadi cirri khas Kelompok etnis Tiong Hoa. Lihatlah bagaimana warna ini mendominasi suasana imlek dan hampir semua aspek kehidupan mereka.
Kelompok partai politik lebih sensitif lagi dengan warnanya. Mereka lebih fanatik dalam hal klaim warna partainya.

Berpihak
        Ketika kita ingin memasuki kelompok pasar tertentu dengan pendekatan SARA, maka kita harus masuk secara utuh layaknya sasaran tersebut. Konsekuensi logisnya, produk tersebut khusus didedikasikan kepada kelompok tersebut. Lalu bagaimana untuk pasar kelompok yang lain? Jawabannya hanya satu, buat produk lain, dengan merek, kemasan dan warna yang berbeda dan kusus juga untuk kelompok lain tersebut.
        Tapi sedikit sekali produsen yang berani memilih segmen khusus tersebut. Yang terjadi adalah bahwa produsen mengambil jalan tengan, jalan umum dan berusaha untuk menjadi non partisan, non golongan, universal dan mengglobal. Artinya mereka mendesain merek, produk dan warna yang universal sehingga bisa diterima oleh Ras, Suku, dan Golongan manapun.

                                        Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »