Karena, Cinta Tak Perlu Alasan


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.     
       
      PADA pintu toilet di Bandara Singapura saya melihat tulisan tangan dengan spidol tipis. Sepertinya saya kenal dengan penulis dengan model huruf-hurufnya. “By The Name of Love it’s Not Too far” (atas nama cinta, --jarak—ini tidaklah sangat jauh) .  Ya! Saya kenal dengan orang ini, karena dibawah tulisan itu ada tandatangan dan inisial namanya.

      Turun dari pesawat di bandara Schiphol setelah 12 jam perjalanan, rasanya tempat pertama yang harus dituju adalah toilet. Lagi-lagi ada tulisan dari tangan, “Another step to you” (selangkah lagi –mendekat-- kepadamu), dengan paraf dan inisial yang sama. Saya rasa pasti si penulis sedang berjalan jauh melintasi 3 benua untuk menemui kekasihnya. Sebagai kawan, saya merasa geli, lucu dan memiliki alasan untuk menggoda dia ketika suatu saat nanti kami bertemu. Sungguh mencolok tulisan itu karena jelas itu cuma satu-satunya tulisan yang ada dari sekian banyak toilet yang tersedia. Terbayang jika dia tertangkap, maka denda hukumannya pasti lumayan berat.
         Dua hari berikutnya, lagi-lagi saya menemukan tulisan yang sama, kali ini dipintu toilet kereta api jurusan Paris dari Deh Haag. Kalimatnya dalam bahasa perancis, “Tu vois, je t'aime comme ça” (lihatlah aku mencintaimu sampai begini). Sungguh gila kawan satu ini.
Sampai di Paris hampir semua stasiun radio memutar lagu yang dengan kalimat seperti tulisan kawan saya tersebut. Singkat cerita, saya akhirnya menonton pertunjukkan itu. Sungguh sebuah show yang indah dan saya tidak akan pernah lupa ketika lagu yang berjudul Je T’aime (Aku mencintaimu) itu dinyanyikan. Lara Febian –si penyanyi-- terdiam sejenak setelah intro musik dimulai, karena suara penonton sangat ribut, berteriak dalam bahasa yang saya sendiri kurang paham. Lalu dari monitor layar lebar terlihat jelas Lara Febian terkaget karena tanpa komando semua penonton menyanyikan lagu itu dengan serempak. Tak ayal pemain piano dari atas panggung ikut mengiringi lagu itu. Hampir utuh satu lagu itu tidak dinyanyikan oleh si penyanyi. Justru penontonlah yang dengan syahdu menyanyikannya.
Sekira 3 orang di depan saya berdirilah teman yang menuliskan semua perasaannya di semua toilet diatas. Dia memeluk pacarnya yang setahu saya selama ini tinggal di Norwegia guna menyelesaikan studinya.

Bisnis dan Cinta
Karena cinta, teman saya sudah mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk tiket pesawat, tiket kereta api, taksi dan penginapan. Belum lagi biaya visa, biaya makan dan sejumlah transaksi yang lain. Berbeda dengan transaksi di rumah sakit, semua pengeluaran ketika seseorang jatuh cinta sungguh tiada dirasa berat.
Menyasar pasar anak muda yang umumnya sedang jatuh cinta bukanlah pilihan yang jelek. Walau daya beli mereka realitif terbatas, tetapi mereka tiada memikirkannya. Jumlah anak muda sangat banyak, artinya pasarnya terbuka lebar. Selain harga, bisa jadi mereka juga tiada mempermasalahkan kualitas produk pelayanan kita, karena hatinya memang sedang berbunga.
Makanya tidak heran jika keindahan cinta sering menjadi tema promosi produk, diterjemahkan dalam tata interior, kemasan, nama produk bahkan menu makanan. Tantangannya adalah kreatifitas mengemas nuansa romantic menjadi penarik produk.
Dalam percakapan sesudah pertunjukkan diatas, teman saya mengaku bahwa dia baru saja melamar pacarnya dan dengan sengaja dilakukan dalam pertunjukkan itu, karena pacarnya senang dengan lagu je t’aime.
                       
                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »