Membajak Karya Milik Sendiri


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 27 April 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

AKSI penjiplakan dan pembajakan karya cipta meresahkan para pencipta lagu, musik dan produsernya. Aksi ini benar-benar merugikan pemilik hak cipta tersebut. Realita pada sisi yang lain menunjukkan bahwa hukum negara dan perangkatnya sama sekali tidak bisa diharapkan.
Para pencipta mengorbankan banyak hal sementara para pembajak tidak mengeluarkan energy dan biaya apapun. Tidak perlu pusing menciptakan karya musik, tidak membayar penyanyi, tidak mengeluarkan biaya promosi, singkatnya tidak bermodal apapun.
Saya sisihkan dulu sudut pandang hukum dalam tulisan ini. Saya meyakini bahwa selama pasar masih lebih senang membeli barang murah dan tidak perduli dengan kualitas dan merasa tidak bersalah sudah membeli produk yang illegal, praktek pembajakan ini akan terus terjadi.
Ada seorang rekan yang melakukan trik jitu menghadapi delima itu. Saya berharap pengalaman rekan saya ini menjadi inspirasi bagi para pembaca dan berharap kebijaksanaan didalam memahaminya.
Namanya Edi, bertahun-tahun ia bergelut dalam produksi CD musik dan video musik. Ketika menyadari bahwa usahanya selalu kandas oleh para pembajak yang tidak bertanggungjawab, ia merasa tersudut, tak berdaya dan kalah. Hingga suatu ketika ia dengan cerdas mendapatkan ide untuk membajak karya aslinya sendiri.
Ketika Edi sudah selesai membuat album musik. Ia hanya membuat seri original-nya dalam jumlah terbatas – jumlah yang rata-rata mampu ia jual--. Lalu pada saat yang bersamaan, ia menggandakan album miliknya sendiri dalam versi dan kualitas bajakan dengan jumlah yang sangat besar – sesuai daya tampung pasar--. Edi membajak karyanya sendiri.
Tepat setelah 2 minggu ia mengedarkan seri originalnya, ia lalu mengedarkan versi ‘bajakan’nya tersebut. Sebuah trik yang manis. Edi mendapat keuntungan, dan pembeli merasa puas sudah mendapatkan harga murah.

Produk KW
         Yang dilakukan Edi, bisa saja terjadi dengan fenomena produk KW yang saat ini kegemaran pasar Indonesia. Artinya, bagi anda yang memiliki produk bagus dan mendapat respon positif dari pasar tetapi harga menjadi permasalahan lalu ada potensi pemalsuan yang akan menjadi pesaing. Lebih baik jika anda sendiri yang membuat produk KW tersebut. Anda memalsukan sendiri produk anda sendiri.
         Pemalsuan sengaja ini sepertinya masih harus dilakukan karena pasar memang menghendaki hal ini. Anda tinggal mendesign kelas kualitasnya sesuai daya beli pasar. Anda bisa mengklasifikannya dengan kelas KW Super, Replika, KW1, KW2 dan seterusnya.
Sekilas mungkin tiada beda antara produk original yang anda buat dengan produk ‘palsu’ anda sendiri, tetapi karena anda sendiri yang membuatnya, maka anda bisa menciptakan perbedaan-perbedaan mendasar yang hanya bisa diidentifikasikan jika diperhatikan dengan teliti.

Pesaing bayangan
              Pola lain untuk mengindari persaingan adalah dengan menciptakan produk sejenis dengan merek dan kualitas yang berbeda. kita memiliki pilihan harga sesuai dengan kemampuan beli pasar. Ketika kita memiliki sebutlah 3 sampai 5 merek yang berbeda, kita akan memenuhi pasar dengan produk kita. Dengan beredarnya merek yang banyak untuk produk yang sejenis, para calon pesaing akan berfikir 2 kali jika ingin bermain pada jenis produk yang sama. bisa jadi calon pesaing merasa sudah terlalu ramai persaingan itu.
           Tidak heran jika perusahaan-perusahaan besar kadang kala sengaja mengeluarkan produk yang didesign untuk tidak bertahan lama. Hanya untuk mengacaukan pasar. Karena ketika pasar kacau, kita akan mudah mengendalikannya.

                                                                           Konsultasi & Pelatihan ; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »