Mengemis dapat 200ribu, jual Koran dapat 50ribu

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               BUKAN lagi sebuah rahasia jika sebenarnya lebih cepat dapat uang dengan mengemis dijalanan dibanding dengan menjual produk asongan di jalanan.
                Ilustrasi bagi pengemis di jalanan adalah bahwa dengan mendapatkan 100 penyumbang dengan pecahan Rp.2.000,- maka ia akan mendapatkan Rp.200.000,- bersih. 100 peyumbang bukanlah jumlah yang banyak. Rata-rata dalam sekali lampu merah di persimpangan jalan, pengemis bisa mendapat sedikitnya 5 mobil yang menyumbang. Maka, ia hanya perlu 20 kali nyala lampu merah. Jika masing-masing berjarak 3 menit, maka si pengemis hanya memerlukan 60 menit saja. Artinya dalam sehari ia bisa dapat jauh diatas nilai tersebut.
              Pengemis tidak memerlukan atribut dan perlengkapan yang berbiaya mahal. mereka hanya memerlukan perlengkapan yang cenderung sederhana dan tidak bernilai karena mereka menjual rasa iba. Tidak heran ketika ada fakta-fakta pemberitaan yang menyebutkan seorang pengemis bisa memiliki tabungan puluhan juta rupiah.
                Lain lagi kisah penjual asongan di jalanan. Sebutlah penjual Koran. Jika dibuat rata-rata, pengecer Koran maksimal mendapat Rp.500,- tiap eksemplarnya. Maka, untuk mendapatkan angka Rp.50.000,- penjual Koran harus menjual kepada 100 pembeli. Dan faktanya adalah bahwa membaca bukanlah gaya kita (orang Indonesia), hingga mengumpulkan 100 pembeli bisa jadi memerlukan lebih waktu dari 3 hingga 4 jam.
                Belum lagi ketika ada pemikiran bahwa kita secara umum kita tidak begitu merasa iba kepada mereka-mereka yang berdaya. Kita bisa memberikan pecahan Rp.2.000,- kepada pengemis dengan suka rela, tetapi kita masih bisa tega menunggu penjual Koran mengembalikan Rp.500,- kepada kita.
                Sebuah pertanyaan mendasar, apakah kita lebih memilih dengan menjadi pengemis atau kita memilih untuk menjadi pengusaha yang mendapat rejeki dari keringat yang bermartabat.

Martabat
                Saya tidak hendak mengatakan bahwa pengemis tidak bermartabat, tetapi saya ingin mengatakan bahwa rejeki yang halal dan bermartabat itu datang dengan keringat, dengan kepala tegak dan tidak meletakan tangan dibawah.
             Sungguh bahwa nilai uang yang didapat dari keringat itu jauh lebih berkah dan memberikan kebaikan. Saya mendukung siapapun yang masih berada dalam tahap usaha bisnis pemula dan kelas mikro. Saya ingin mengingatkan bahwa rejeki kita tidak selalu berupa angka. Karena dengan tabah untuk mendapatkan angka yang relative kecil dibanding dengan mengemis, kita sebenarnya sedang ditempa oleh Tuhan untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan tangguh.
                  Kita sedang diajari untuk memahami betapa uang yang terpuji tidak mudah didapatkan. Saya berkeyakinan bahwa uang yang susah kita dapatkan itu akan memberi manfaat yang jauh lebih hebat untuk keluarga dari pada dari uang mudah yang tidak bermartabat dalam proses untuk mendapatkannya.
               
Pilihan
              Benar bahwa hidup adalah tentang memilih. Kita diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih apapun dengan konsekuensi logisnya sendiri. Ada yang tangguh memegang keyakinan dan martabat dirinya, ada juga yang menyerah kalah.
Diantara kita justru lebih senang menjadi pengemis pemaksa, dalam skala kecil menipu dengan menggunakan surat edaran palsu yang mengatasnamakan lembaga sosial.
Dalam skala yang terlihat lebih elegan, sebagian diantara kita lebih senang mengemis kepada pemerintah untuk mendapatkan proyek-proyek yang relative dapat dikerjakan dengan mudah. Dengan menggunakan kekuasaan agar lebih mudah, lebih cepat dan lebih banyak untung, tanpa memperdulikan kritikan hati kecil yang selalu mengingatkan kita betapa cara-cara pengemis ini tidaklah terpuji.

                                                                              Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »