PERANGKAP UNTUK SI SERAKAH

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

               PASTI anda setuju, jika saya sebutkan bahwa Serakah, Rakus dan Tak Mudah Puas adalah sifat dasar manusiadan sifat itu menguasai manusia hingga seringkali mengalahkan logika jernihnya. yang menarik adalah bahwa sifat itu dimiliki oleh mayoritas penduduk bumi ini.
             Dari persentase yang sedemikian besar, tentu menjadi peluang yang baik untuk kita jadikan sasaran bisnis kita. Mereka ada dimana-mana. Mereka memiliki uang yang dengan kerakusannya akan diberikan kepada kita secara sukarela jika cara kita benar.
               
Rasa Puas
             Si rakus dan si serakah selalu berorientasi kepada rasa puas yang seolah-olah tiada batasnya. Bahkan ketika secara logika mereka tidak lagi sanggup menampung apapun yang mereka inginkan. Lihatlah contoh-contoh berikut ini;
                 Pertama; Ukuran perut manusia tiadalah tak terbatas. Untuk sampai tahap kenyang pasti bisa diperkirakan jumlahnya. Karenanya, banyak hotel dan restoran menawarkan paket makan sepuasnya dengan harga tertentu. Mereka menata makanan dalam susunan yang menarik selera di meja yang panjang dengan jumlah variasi makanan yang banyak. Dengan tidak mempertimbangkan harga paket, pembeli merasa sangat beruntung bisa diperbolehkan memilih sesuka hati makanan yang ada. Pembeli merasa bebas dan beruntung bisa makan sekenyang-kenyangnya.
           Dalam prakteknya, penjualan dengan sistem prasmanan akan lebih menarik daripada penjualan dengan sistem porsi yang terbatas. Dan dengan tata kelola pemilihan makanan yang tertentu, tingkat keuntungan akan jauh lebih tinggi sedang biaya pegawai lebih murah.
              Yang kedua; penjualan di toko swalayan akan lebih tinggi dibanding toko tradisional yang dilayani oleh penjual. Si pembeli merasakan kebebasan memilih daripada dipilihkan oleh penjual. Dalam sebuah studi, terbukti ada 41,7% transaksi di swalayan terjadi tanpa direncanakan oleh pembeli sebelumnya. Mereka dengan sifat yang rakus terjebak oleh tampilan kemasan dan pemajangan serta iklan-iklan diskon yang menggiurkan. Tak heran, jika ada orang yang hanya berniat membeli susu untuk anak di swalayan, tetapi pulang dengan menenteng belanjaan yang lebih banyak.
               Dalam prakteknya, menjual dengan sistem swalayan lebih menghemat biaya pegawai dan kecepatan pelayanan yang lebih tinggi.
             Yang ketiga; konsep menjual produk pertanian dengan memetik sendiri terbukti lebih menguntungkan daripada penjualan melalui sistem distribusi tradisional. Pembeli merasakan kepuasan yang luar biasa dengan memetik sendiri sayuran dan buah-buahan dari pohonnya.
           Sifat rakus yang tiada terpuaskan membuat mereka memetik buah dan sayuran jauh lebih banyak daripada yang diperlukannya. Lalu mereka menenangkan diri dengan beralasan akan dijadikan oleh-oleh untuk saudara dan tetangganya.
            Yang keempat; dalam transaksi modern untuk pembelian tiket pesawat terbang dan voucher hotel, kini penjualan langsung melalui internet melejit sangat tinggi. Itu terjadi karena rasa puas pembeli yang bisa memilih sendiri rute penerbangan dan hotel yang disukainya.
             Jangan heran ketika kini banyak orang sudah membeli tiket pesawat dan hotel setahun hingga dua tahun sebelum keberangkatan. Mereka merasa beruntung karena promosi harga murah yang disebut dalam iklan internet tersebut.

Bisnis anda
            Contoh-contoh diatas, membuktikan bahwa melayani kerakusan dan keserakahan konsumen adalah pintu-pintu keuntungan yang menarik.
            Hanya perlu memahami bagaimana cara melayani/menjual yang memberikan rasa kemerdekaan untuk pemuasan kebutuhan konsumen.
             Tetapi ingat, kata ‘konsumen rakus/serakah’ hanya dipakai antar kita saja sebagai pedagang. Kepada konsumen, harus diganti dengan kata-kata yang lebih santun dan seolah-olah pro kepada mereka.

                                                                                     Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »