SAMPAH DAN KEKAYAAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 11 Mei 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

     ADA tiga orang kenalan saya yang sering dianggap sebagai pekerja kelas bawah, kotor dan hina, tetapi sebenarnya mereka adalah pengusaha yang lumayan berduit. Mereka berbisnis pembuangan sampah.
    Saya sengaja menuliskan pengalaman mereka ini untuk menunjukkan bahwa ketika sampah-sampah itu menghasilkan uang, ke-hinaan itu tiada lagi terasa menyakitkan. Sebuah inspirasi kewirausahaan.

Johan
              Adalah pengusaha yang mengkontrak pembuangan sampah dari hotel-hotel dan restoran/café di kota Medan. Dengan merendah, mereka mengaku hanya membantu menyelesaikan masalah sampah yang bau dan kotor bagi manajemen hotel/restoran tersebut.
            Benar, dalam prakteknya Johan dan pegawainya tiap hari—malam dan pagi—membersihkan tempat sampah langganannya lalu mengangkutnya ke mobil truk dan membuang jauh-jauh dari hotel/restoran tersebut. Pihak hotel/restoran rela membayar demi terbebas dari sampah yang kotor dan bau tersebut.
                Johan tidaklah membuang sampah yang diambilnya setiap hari begitu saja. Sebelum sampai lokasi pembuangan sampah terakhir milik pemerintah, johan terlebih dahulu mensortir sampah-sampah tersebut. Dari proses itu Johan bisa beruntung mendapatkan sampah makanan yang akan didaur ulang untuk makanan ternak. Ada juga sampah kertas, logam dan plastik yang juga laku dijual kiloan.
                Artinya, Johan mendapatkan bahan baku untuk dijual kembali nyaris tanpa modal. Ia mendapatkan ongkos pembuangan sampah dari pemilik sampah. Lalu ia juga mendapatkan hasil penjualan dari sampah itu sendiri.

Ramlan
             Pria paruh baya ini juga bekerja mengumpulkan sampah dan membantu membuangnya jauh-jauh dari orang-orang yang terganggu dari sampah ini. Ramlan dengan pegawainya adalah spesialis pembuang sampah bongkaran bangunan rumah.
             Ketika ada renovasi bangunan, maka akan ada banyak sampah bangunan berupa reruntuhan tembok bata, semen, kayu-kayu bekas, dan semua unsur bangunan yang tidak terpakai lagi termasuk perabotannya.
           Konsumen Ramlan tidak saja pemborong yang akan membuang sampahnya, tetapi juga pemborong bangunan yang hendak menimbun tanah untuk bangunan barunya.
            Dalam prose situ, Ramlan akan mensortir sampah yang dikumpulkannya tersebut kedalam berbagai kategori layak jual sebelum sampai ke tempat penimbunan tadi. Ramlan bisa menjual besi bekas, kusen-kusen bekas, dan bisa jadi potongan-potongan granit dan marmer yang masih bisa dimodifikasi untuk dijual kembali dengan harga bagus.

Tedjo
             Pria berbadan gelap ini adalah pegawai outsource di sebuah dinas kota yang menangani pengumpulan sampah-sampah masyarakat. Ia dengan truk sampah berwarna kuning setiap hari bekerja dalam tim sebanyak 4 orang. Konsep kerjanya hampir sama dengan yang dilakuan Johan serta Ramlan.
           Tedjo bekerja jauh lebih cepat. Proses sortir langsung dilakukan sejak pertama pengambilan sampah dari rumah-rumah Warga. Ada 2 orang diatas truk dengan beberapa wadah sortir. Setiap ada sampah dilempar keatas truk dari 2 orang yang bekerja di bawah, langsung saja proses sortir dilakukan. Dipilah plastik, kaca, logam, kertas dan sampah makanan.
         Singkat cerita, begitu proses pengumpulan selesai. Sampah yang ‘tidak laku’lah yang terbuang ke Tempat Penampungan Akhir. Selebihnya Tedjo dan kawan-kawan sudah mengantongi sortiran sampah yang laku dijual kembali.
               
Gengsi
          Lawan terberat yang dihadapi oleh Johan, Ramlan dan Tedjo adalah rasa gengsi. Dan mungkin juga yang anda rasakan, sehingga orang-orang seperti mereka sedikit jumlahnya.
Memakai kata-kata Ramlan, “Gengsi tak pernah bisa membayar uang sekolah anak, gengsi tidak akan bisa membeli rumah dan mobil, tetapi setelah kita berduit, kita otomatis menjadi bergengsi”

                                                                               Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »