Bisnis Lokasi Nongkrong di Medan

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 15 Juni 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebaekan dengan selalu menyebutkan sumbernya

JERITANNYA melengking menyakitkan telinga. Tangan dan badannya memaku kokoh ke lengan ibunya. Ia menangis sejadinya. Ia tak mau menginjakkan kakinya ke pucuk-pucuk duri runcing berwarna hijau yang terhampar di lapangan golf ini. Sontak seluruh pengunjung menyorotkan mata kepada satu titik yang sama, anak itu.
Ibunya sedikit keki dengan reaksi buah hatinya sambil sedikit tertawa geli. Si bunda berkali-kali mengatakan, “Nak, ini rumput!”. Si bunda meyakinkan si anak bahwa rumput tidaklah berbahaya. Walau bentuknya mirip duri yang runcing, tetapi rumput lembut dan enak untuk diinjak tanpa alas kaki.
Pembaca yang budiman, kisah diatas adalah fakta yang terjadi di Kota Medan sekira sebelas tahun yang lalu. Diantara kelucuan yang heboh itu, terselip sedikit rasa masgul ketika mendapati kenyataan bahwa ada orang Medan yang tidak pernah mengenal rumput hingga berusia 8 tahun. Rasanya aneh, tapi nyata.
Kemudian terungkap bahwa anak tadi bersama keluarganya tinggal di kota medan di rumah berbentuk ruko. Halamannya terlapis indah dengan keramik keras. Tiap hari pergi sekolah naik mobil. Sampai di sekolahnya si anak pun tiada mendapati rumput. Halaman sekolahnya bersemen untuk lapangan basket dan badminton. Dan ketika si anak diajak berwisata di akhir pekan, objeknya adalah plaza dan mall yang bertebaran di Kota Medan.
Kisah diatas membuka mata kita tentang model rumah tinggal yang umumnya ada di Medan. bentuk petak, bisa bertingkat dan tidak memiliki halaman. Rumahnya terdiri dari tembok disemua sisi tanpa pemandangan seperti rumah-rumah dalam buku cerita.

Menjawab kebosanan
        Artikel ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan pembaca tentang konsep tempat nongkrong yang idealnya di buat di Kota Medan.
               Melihat realita diatas, tentu akan menjadi menarik ketika setting produk lokasi nongkrong itu menjawab rasa bosan atas situasi rumah-rumah pelanggan. Artinya, yang pertama; jika mungkin, pilihlah lokasi yang tidak dalam bentuk ruko. Pilihah bentuk rumah tunggal yang memiliki halaman. Perbedaan yang mencolok dari kebanyakan rumah Warga kota Medan, akan menjadi daya tarik yang kuat.
           Tetapi, jika sudah terlanjur dibuat di ruko, pastikan design interiornya tidak mirip dengan rumah tinggal yang biasa.
           Yang kedua, rasa sumpeg itu akan terhibur ketika seseorang berada di posisi yang lebih tinggi dari tanah halaman. Setidaknya ada perasaan yang jelas bahwa seseorang yang datang ke lokasi usaha kita merasakan posisi yang lebih tinggi, tidak rendah seperti kebanyakan orang. Dalam konsep ini, lantai 2 bangunan atau balkon yang pasti akan menjadi pilihan pertama para pelanggan.
            Yang ketiga, tata letak kursi, meja, hiasan dinding dan semua yang terlihat hendaknya berbeda dari yang ada pada kebanyakan rumah warga Kota yang menjadi sasaran kita.

Produk
             Saya tidak menyarankan produk makanan dan minuman apa yang paling cocok dan banyak peminatnya. Karena pada dasarnya produk di lokasi nongkrong tidak begitu menjadi patokan. Kita sering menemukan resto dengan makanan enak tapi sepi dan yang makanannya biasa saja tetapi ramai.
              Yang pasti, tempat nongkrong bukan untuk makan buru-buru. Jadi jelas bukan tipe rumah makan minang.
Yang terakhir. Ingatlah bahwa rasa itu bukan dari lidah. Tetapi dimulai dari mata. Artinya jika mata merasa nyaman (dengan melihat bentuk, design, layout lokasi usaha) selanjutnya akan terasa nyaman termasuk ketika mencicipi makanan kita.

                                                                         Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »