Bisnis Payah Pada Bulan Ramadhan, Benarkah?


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 29 Juni 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                RASANYA setiap datang Bulan Ramadhan, kabar keceriannya tertutup oleh berita-berita berisi keluhan-keluhan publik. Sebutlah harga-harga yang semakin naik tinggi, stok produk yang terbatas, inflasi yang melonjak, dan kepanikan pasar yang dibesar-besarkan media membuat gusar penduduk negri ini.
               
Latah.
                Tiada satupun di dunia ini yang abadi. Termasuk grafik pendapatan bisnis. Seperti adanya siang dan malam, bisnis apapun juga akan mengalami pasang naik-turun. Itu hal yang wajar dan biasa terjadi. Semestinya tiada perlu di sikapi dengan kepanikan yang berlebihan.
           Kalangan perhotelan selalu mengeluhkan tingkat hunian yang  sepi. Gerak roda bisnis melemah. Tapi lihatlah hari ini –khususnya di kota—rasaya tidak ada hotel yang sepi saat berbuka puasa. Paket buka puasa mendapat respon yang baik dari pasar. Hampir tiada hotel yang sepi. Program buka puasa bersama memenuhi semua outlet makanan, dari hotel besar hingga rumah makan. Jangan harap anda dapat tempat duduk jika anda tidak pesan lebih awal. Bukan lagi jadi rahasia, jumlah orang di tempat makan bahkan lebih banyak daripada jumlah shaf shalat jamaah di masjid. Dan itu terjadi sepanjang Ramadhan.
              Rekan-rekan bisnis saya justru tidak sempat libur ketika ramadhan, mulai dari pedagang cat, pedagang bahan bagunan, garmen, makanan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Tidak aneh jika bahkan ada bisnis-bisnis khusus yang menjamur selama ramadhan.
              Saya menyebut kepanikan atas sepinya bisnis pada saat ramadhan hanyalah sikap latah yang harus disikapi dengan arif. Ketika orang-orang mengeluh bahwa harga-harga pasaran serba naik, justru pada saat ramadhanlah perputaran uang meningkat sangat tajam. Tingkat belanja masyarakat meningkat tinggi.
            Pejabat pemerintah heboh melakukan sidak ke pasar-pasar tradisional. Seolah-olah mereka mampu mengendalikan mekanisme pasar. Jika benar diperhatikan, mereka hanya ingin menunjukkan sikap bahwa mereka perduli. Sikap itu ditandai dengan foto-foto di Koran-koran ketika mereka mengunjungi pasar. Jika harga-harga naik, apalah yang mereka bisa lakukan?
             Benar bahwa ada beberapa penuruan transaksi pada bulan ramadhan. Yang saya amati bertahun-tahun ketika Ramadhan, yang sepi hanyalah bisnis obat yang mengandung penenang.

Rezeki Tuhan.
                Rejeki tiada yang tertukar. Ada jatah kita masing-masing yang dipersiapkan oleh Tuhan. Tidak perlu khawatir. Hanya perlu keyakinan yang akan memampukan sikap berserah diri  yang aktif. Penyerahan itu akan menghasilkan perasaan yang tenang dan damai. Perasaan tenang dan damai itu akan menstimulasi terjadinya rasa tenteram. Lalu kemudian munculah rasa syukur. Rasa berani, rasa tidak takut miskin dan rasa yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang lebih besar lagi.
                Dalam manajemen bisnis modern, kaya itu adalah sebuah hasil antara pengeluaran yang sedikit dan pendapatan besar. Dalam konsep kaya versi Tuhan yang saya yakini, kaya itu terjadi ketika kita banyak mengeluarkan (amal zariah) lalu rejeki Tuhan mengalir lebih banyak lagi.
Berani membagi (amal) yang lebih banyak dengan iklas hanya terjadi ketika seseorang memiliki keyakinan –bukan sekadar percaya—bahwa saat kita membelanjakan harta kita pada jalan Tuhan tanpa rasa khawatir, maka keajaiban rejeki akan datang mengalir dengan deras dari sumber-sumber yang tiada kita sangka-sangka.
Lebih hebat lagi, ketika niat bisnis yang kita lakukan bukanlah sekadar memperkaya diri, tetapi niat untuk ibadah menghidupi keluarga dan member manfaat untuk banyak orang.
Apa yang harus di khawatirkan? Bukankah sebelum kita lahir, Tuhan sudah mempersiapkan air susu ibu?

                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »