Karena, Penjual Telur Tidaklah Harus Bertelur

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 8 Juni 2015 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                BERKUNJUNG ke salah satu kota kecil di tengah Provinsi Sumatera Utara ini, ada yang menarik ketika saya mendapati Penjual Pecalnya adalah orang Batak, Pemilik Rumah Makan Minangnya suku Tionghoa dan Penjual Sate Padangnya adalah orang Jawa.
                Sama seperti Pemilik salah satu dive centre terkenal di ujung Sumatra adalah lulusan Sekolah Perbankan, pemilik bengkel besar di Medan lulusan Sekolah Periklanan dan Pimpinan Bank BUMD adalah Sarjana Pertanian dari IPB.
                   Pemilik Toko Cat langganan saya lebih suka otomotif dari pada design interior, designer interior saya sangat suka memancing dari pada melukis, dan distributor industri listrik lebih senang jadi tukang foto dari pada mengurusi barang elektronik.

TERSESAT
                Bisa jadi orang-orang diatas tersesat dari trah awalnya. Sebagian dari kita beranggapan, maunya penjual pecal adalah orang jawa, pengusaha RM Minang semestinya orang minang, idealnya lulusan perbankan bekerja di bidang perbankan, lulusan pertanian bekerja pada bidang pertanian.
                Tetapi ketika pada akhirnya anda tersesat di bidang bisnis yang diluar jalur pendidikan kita, pastilah anda bukan tersesat begitu saja. Bisa jadi anda sudah mencoba banyak bisnis sesuai dengan latar belakang pendidikan. Bisa jadi anda sudah mencoba bisnis sesuai dengan hobby yang anda sukai. Tetapi jika ternyata bidang bisnis yang terlajur sukses anda kerjakan adalah ‘bidang lain’, saran saya, tak usah menyesal.
                Memang, beberapa ahli menyarankan agar kita berprofesi sesuai dengan karakter dan kesenangan kita.  Tetapi untuk kita yang hidup di negara yang tidak memiliki sekolah dengan mata pelajaran “cara menjadi orang kaya’, maka pilihan apapun tetap bisa dianggap yang terbaik saat ini.
               Tanpa mata pelajaran formal itu, maka pelajaran yang sebenarnya adalah ketika kita praktek terjun langsung dan menikmati semua proses naik-turunnya perjalanan bisnis itu sendiri.

PILIHAN
             Ketika anda masih memiliki waktu dan kesempatan untuk memilih, ada bagusnya kesalahan memilih jurusan sekolah dan bidang usaha harusnya dihindari. Setidaknya untuk anak-anak anda yang masih ‘punya banyak waktu’.
                   Kesalahan pertama yang perlu diluruskan adalah, sekolah untuk bekerja dan sejahtera. Memang tidak sedikit pekerja yang sejahtera, tetapi menciptakan bisnis dan menciptakan lapangan kerja, potensi sejahteranya jauh lebih besar. Setidaknya, sadarilah bahwa sebesar apapun gaji pekerja, akan lebih besar pendapatan pemilik usaha tersebut.
             Kesalahan kedua, bisnis itu bukan menunggu setelah pensiun. Kerjakan sejak dini. Mulailah sejak usia belasan, karena pada tahap awal, kita hanya belajar mengenal uang, mengenal cara mendapatkan bahan, mengenal proses produksi, mengenal teknik menjual dan semua prinsip kewirasusahaan.
  Pada tahap ini, untung bukan tujuan utama. Biarlah andai juga harus bangkrut, karena tahap ini adalah pengenalan awal. Menjelang usia duapuluhan kita akan belajar lebih serius tentang manajemen bisnis. Jaringan lebih luas dan sebelum usia tigapuluhan kita akan sudah mencapai titik terbaik. Inilah yang saya sebut dengan masa emas. Puncaknya pada usia 35 hingga 37 tahun. Pada saat ini kita mengenal pengembangan bisnis, karena kita tidak lagi sibuk bekerja mencari uang, pada saat itu uanglah yang bekerja untuk kita.
  Jadi, pada usia berapapun kita memulai bisnis, semestinya mental kita persis seperti mental anak muda yang nekat, tidak takut dan banyak pertimbangan yang membuat kita lamban beraksi. Sekalipun bidang usaha itu bukanlah trah asli kita.

Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »