“Ngarapken Gestung Api Bas Lau”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Juni 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Sederet syair karo mendayu mendampingi percakapan kami minggu lalu. Lagu ini memelas mengisahkan sebuah keniscayaan. Sebuah pernyataan diri yang terbodoh mengharapkan api berkobar di dalam air.
Tema lagu itu senada dengan topik percakapan kami tentang banyaknya kawan-kawan kami yang gagal ketika membuat bisnis sendiri. Akhirnya memaksa mereka kembali menjalani kehidupan lama, kembali menjadi pekerja.

Jalan wirausaha
                Seperti jalan profesi yang lain, memilh menjadi wirausaha juga memerlukan proses yang tidak pendek. Untuk menjadi jendral, seseorang harus memilih jalan menjadi tentara. Mulai pendidikan formal ketentaraan, mendapat pangkat rendah, terus berporses lama hingga bisa menjadi seorang jendral. Untuk menjadi seorang manajer juga melalui lika-liku yang tidak pendek. Seperti juga untuk menjadi seorang seniman yang sukses. Pengorbanan dan kesungguhan yang fokus adalah syaratnya.
             Ketika kita meyakini bahwa menjadi wirausaha adalah pilihan yang tepat. Kita harus melalui proses yang panjang. Kegagalan terjadi karena kita tergoda adanya pilihan lain yang membuat kita tidak fokus dan menjadikan pilihan kita hanya sebagai uji coba saja.

Membangun Mental wirausaha.
           Menjadi apapun, akan dituntut pengabdian dan penyertaan mental yang utuh. Sangat bagus jika kita memulai belajar kewirausahaan sejak usia belasan. Usia 12-16 tahun adalah usia pencari tahu, usia penasaran.  Inilah tahap persiapan.  Tahap ini memberikan kesempatan bagi kita untuk belajar mengenal bisnis sederhana. Mengenal produk, mengenal pemasok, mengenal proses negosiasi dan transaksi, serta mengenal prinsip keuangan. Pada tahapan ini, kita mengendalikan dirinya sendiri untuk bisa mengenal dan menguasi objek bisnis tersebut. Pada tahapan ini tak harus dipatok keuntungan karena yang penting adalah proses pembelanjarannya.
Usia 17-20 tahun adalah usia logis, logika dan kedewasaan sudah bisa dibentuk. Dasar-dasar ilmu bisnis awal sudah mulai dikembangkan dalam hal bobot dan volume bisnisnya. Pada tahap ini kita diharapkan sudah memiliki ketetapan memilih bidang usaha yang lebih tetap. Belajar memulainya dengan baik dan serius dengan mempertimbangkan faktor keuntungan.
Usia 21-25 tahun adalah usia sosial dan ini adalah tahap pengembangan. Kemampuan dan insting bisnis sudah mulai matang dengan volume usaha yang sudah sedikit membesar. Keterlibatan jaringan bisnis semakin luas, nekat dan berani.
Usia 26-30 tahun adalah usia dewasa dan juga tahap pendewasaan karakter kewirausahaan. Pola bisnis dan karakter bisnis kita semakin matang. Dan mulai tumbuh kebutuhan sosial. Tanggungjawab semakin besar dan dituntu komitmen yang maksimal.
Usia 31-35 tahun adalah usia puncak ini adalah masa emas karakter kewirasuahaan. Kemampuan diri pada posisi puncak. Volume bisnis sudah besar dan potensi pengembangan dengan membuka cabang atau bidang bisnis lain sudah sangat mungkin dikerjakan pada tahap ini.
Setelah usia tersebut, potensi kita akan terus tidak terbendung. Jika kita terus mengembangkan kemampuannya, maka kapasitasnya terus akan berkembang dengan baik.

“Nyagak-ngayak perik sipulah”
                Terjemahan bebasnya adalah ‘mengejar-ngejar burung terbang’. Sebuah kesia-siaan jika mengerjakan sesuatu tanpa kemampuan untuk mengalahkan tantangannya.
               Maka, bagi siapapun yang ingin memulai berwirausaha pada usia yang sudah mapan, semestinya harus menggunakan karakter usia nekat seperti anak balasan hingga duapuluhan. Karakter usia mapan adalah cenderung pengecut, takut resiko dan tidak mau capek mengikuti prosesnya. Dan itulah awal kegagalan seperti mengharapkan kobaran api di air.
                Semestinya, dengan pengalaman usia mapan yang lebih banyak ditambah mental ‘nekat’ maka sukses pasti akan terjadi.

                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »