Sedikit – Banyak

Artikel ini sudah deterbikan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 1 Juni 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutan sumbernya

        Datang seorang berpenampilan agen dunia (agen apapun) memasuki kedai kopi ini. Ia menyapa sekumpulan tamu yang sedang duduk melingkar di sebuah meja bundar. Ia menarik satu kursi dan memaksa nyisip duduk diantara kumpulan itu. Siang yang panas itu bertambah seru ketika ia mengeluarkan berbagai dokumen berupa surat tanah dan proposal project yang nampaknya besar.
         Lelaki yang dipanggil Karim oleh rekan-rekannya itu dengan berapi-api mempresentasikan sebuah rencana bisnis besar. Karim akan membuat kasino dalam sebuah kapal besar yang beroperasi mengelilingi Danau Toba. Sebuah project dengan nilai fantastis, Rp. 3,5 Triliun!
      Karim larut dalam rencana bisnisnya yang hebat itu. Ia menyebutkan beberapa nama pembesar dan bahkan menyebutkan nama-nama yang terdengar seperti keluarga raja di timur tengah yang akan mensponsori projectnya.
       Karim tidak mengajak kawan-kawannya untuk bergabung dalam bisnis itu. Karim hanya memamerkan optimismenya yang bergelora. Ia meyakinkan kawan-kawannya bahwa segera ia akan kaya raya. Bisa membuat bangga orang tuanya dan segera ia bisa meminang gadis impiannya dan tak lagi harus bersusah payah berjualan pakan ternak di kampungnya.
               
Mimpi vs Cita-cita
      Benar bahwa semua penciptaan selalu terjadi 2 kali. Berawal dari penciptaan dalam mimpi/khayalan hingga pada akhirnya tercipta secara kongkrit. Tetapi mimpi tanpa perhitungan yang mapan dan realistis belum bisa dikategorikan sebagai cita-cita.
       Benar bahwa semua orang ingin mampan dan kaya raya, tetapi kaya mendadak tidaklah terjadi pada setiap orang. Yang sudah pasti terjadi pada banyak orang kaya raya, adalah sebuah proses panjang dari kondisi miskin hingga akhirnya setahap demi setahap terjadi perkembangan menjadi kaya raya.
           Ada sebuah proses yang jelas harus dilewati untuk seseorang menjadi besar, menjadi pintar, menjadi kaya raya dan menjadi sukses. Nah, kita sering kali menafikkan proses ini. Kita ingin serba cepat dan serba mudah.
      Hukum mendapatkan uang itu cuma ada dua. Ketika proses awal, kita bekerja untuk mendapatkan uang lalu ketika kita sudah sukses, uanglah yang akan bekerja untuk kita. bukan kebalikannya.
          Banyak contoh orang yang sukses mendadak yang tidak bisa menikmatinya dalam jangak panjang. Medadak kaya lalu mendadak miskin. Itu terjadi karena yang bersangkutan tidak memiliki basis proses yang mendasar dan kuat untuk menerima dan mengelola kekayaan yang ia dapatkan.
Banyak dari kita yang benar-benar malas mengikuti proses yang semestinya kita lewati, melalui keringat dan melalui proses jatuh dan bangun. Pantas sekali jika di negara kita jumlah perusahaan yang berhubungan dengan proyek dan borongan jumlahnya sangat banyak. Saya yakin, hanya sedikit dari mereka yang benar-benar berjalan dan menghasilkan uang dengan jumlah besar. Yang lain hanya bermimpi.
               
Besar dari kecil
          Perusahaan rokok yang beromzet milyaran rupiah saja berjualan produk dengan keuntungan kurang dari seribu rupiah perkotaknya. Perusahaan penerbangan yang bermodalkan milyaran rupiah mengais rejeki dari keuntungan puluhan ribu rupiah saja per lembar tiketnya.
        Jadi, ketika kita lebih memilih untuk mendapatkan uang dalam hitungan langsung besar dan menyepelekan uang kecil, saya pikir itu harus dikoreksi. Yang besar itu datang dari yang kecil.
       Kembali ke kedai kopi diatas; si Karim yang memiliki proyek triliunan itu akhirnya harus meninggalkan kedai kopi itu, ia segera berbenah mengumpulkan semua dokumen-dokumennya. Ketika berdiri, ia bilang kepada kawan disebelahnya, “lae, tolong bayarkan kopi ku ya!”

                                                                  Konsultai & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »