Rasa Takut, Peluang Binis dan Tantangannya

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 6 Juli 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebtkan sumbernya

NEGARA super power Amerika belum lama ini ‘tutup’ selama beberapa waktu. Kini Negeri tua dan besar dalam sejarah dunia –Yunani—sedang dalam tahap kebangkrutan yang nyata. Menyusul dibelakangnya, bebepara negara termasuk Indonesia. Sungguh itu menakutkan bagi kita.
Krisi yang menakutkan ini sangat beralasan, karena krisis yang sekarang ini berbeda dibanding krisis pada akhir tahun 90an. Dulu, yang bangkrut adalah pihak swastanya dan kini yang bangkrut adalah negara-nya. Sungguh mengkhawatirkan.

TAKUT.
Dalam pola yang lebih kecil, perilaku khawatir dan takut juga terjadi dalam psikologis pasar saat ini. Lihatlah pasar yang berebut sembako takut tidak lagi ada di pasaran. Lihatlah pasar yang khawatir berlebihan dengan meletusnya Gunung Sinabung sehingga mengancam pasokan sayuran dan harganya melangit.
Lihatlah simpanan mata uang asing terus meningkat walaupun sekarang diwajibkan bertransaksi dalam mata uang rupiah. Lihatlah banyak orang yang tidak cukup memiliki satu asuransi kematiannya. Lihatlah bagaimana calon pembeli sepeda motor galau memilih sebuah merek, ia sudah takut harga jual kembalinya akan jatuh padahal belum pun ia membeli sepeda motor pilihannya.

PELUANG
“Ancaman’ –apapun bentuknya—biasanya sangat penting untuk meningkatkan daya beli pasar. Contohnya adalah ketika anda membuat promosi dengan diskon bagus tetapi masa berlakunya sempit. Lihatlah pasar akan tergopoh-gopoh mengejar anda selama masa promosi berlangsung. Mereka akan lebih memaksa diri untuk segera membeli sebelum masa promosi berlalu. Kini ribuan orang ‘terpaksa’ berbelanja pada tengah malam demi mendapatkan harga bagus itu.
Bursa perdagangan property selalu memanfaatkan tekanan perasaan takut ini. Mereka dengan sengaja menyebutkan bahwa harga akan segera naik pada waktu tertentu dan tiada opsi sama sekali untuk turun.

Tantangan
Ingat, bahwa semua rasa tiada yang abadi. Termasuk didalamnya adalah rasa takut. Ia akan datang menguat, membebani dan nanti akan hilang sendiri. Begitulaah rasa bekerja, ia akan datang dan pergi seiring kemampuan kita mengendalikannya.
Ketika rasa khawatir dan takut tentang krisis ini semakin menjadi, saya selalu teringat obrolan dengan seorang Professor Sejarah dari universitas Diemen di Belanda tahun 2004 lalu. Ketika itu kami sedang dalam obrolan dengan beberapa rekan dari beberapa negara dunia ketiga yang mengkhawatirkan perokonomian dunia. Selama obrolan itu, si Proffesor tiada sedetikpun menunjukkan bahasa khawatir. Hingga seorang rekan dari Peru menanyakan sikap ‘dingin’nya itu.
Singkat cerita, si Proffesor meyakinkan kami bahwa semua krisis yang terjadi hari ini bukanlah krisis yang pertama kali dalam sejarah peradaban bumi. Sudah sejak ribuan tahun lalu, krisis semacam ini sudah terjadi bolak-balik dan dimana-mana.
Kata Proffesor, “Semua ada masa-nya”. “Dan secara alamiah semua penduduk bumi ini terlahir untuk mampu bertahan menghadapi krisis apapun”. Lalu, apakah kita termasuk kelompok yang selamat dari krisis tersebut?

PERNIAGAAN
                Saya teringat bahwa sejarah Nabi Mohammad SAW pernah mencatat krisis nasional yang sangat parah setelah proses hijrah besar-besaran dari Mekah ke Madinah. Sekian banyak pengungsi menganggur, tanpa pekerjaan dan pendapatan yang jelas.
                Pada puncak krisis itu, seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, apakah solusi untuk menghadapi krisis ekonomi tersebut. Ketika itulah Beliau menjelaskan bahwa dari 10 pintu-pintu rezeki, 9 diantaranya adalah perniagaan. Sebuah pengingat yang sebaiknya kita indahkan untuk bisa selamat menghadapi krisis ini.

                                                                              Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »