LAPAR MATA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 3 Agustus 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbenya.

          RAMADHAN tahun ini sudah usai. Ada yang jelas tertinggal kenangan dari ibadah puasa ini. Sebuah fenomana dimana ketika seseorang berpuasa, ada rasa lapar dan haus yang sangat menggoda. Bukan karena rasa lapar dan haus yang sesungguhnya tetapi karena rasa yang muncul sebagai akibat karena kita melihat makanan dan minuman.
          Orang awam menyabutnya dengan istilah “lapar mata”. Satu rasa lapar yang muncul karena mata kita melihat. Rasanya kita ingin memakan semua yang kita lihat. Semua makanan yang terlihat akan terasa sangat lezat, lalu karenanya kita ingin membeli semua makanan tersebut untuk berbuka nantinya.
      Ketika kita berencana untuk ‘hanya’ membeli kurma untuk berbuka puasa, pada akhirnya kita pulang ke rumah dengan mambawa berbagai jenis makanan pembuka puasa seperti kolak, bubur, cendol, bakwan, tahu, roti dan banyak lagi yang lainnya.

Efek Lapar Mata.
        Realita tersebut diatas adalah sebuah tanda. Sebuah petunjuk untuk kita yang berfokus kepada pemasaran. Jelas bahwa perilaku lapar mata ini adalah perilaku mayoritas konsumen kita. saya sebutkan mayoritas, karena sebagian kecil dari mereka sanggup mengendalikan dirinya. Artinya, lapar mata adalah salah satu pintu untuk mengundang hasrat berbelanja bagi konsumen. Lagi dan lagi.
            Efek lapar mata bagi konsumen yang pertama adalah memberikan rasa takjub, rasa tertarik, rasa lapar dan bahkan rasa lezat.
          Tentu saja, timbulnya rasa tersebut bermula dari stimulasi indra pengelihatan—mata--. Artinya; semua tampilan produk secara tunggal maupun pemajangannya secara bersama-sama/berkelompok adalah kunci dasarnya. Bermainlah dengan bentuk, warna, pencahayaan dan material. Saya sudah menuliskan di kolom ini tentang efek warna dalam pemasaran (silahkan buka kembali www.cahyopramono.com ).
           
Banyak, Lezat dan Murah.
            Siapa yang tidak tertarik untuk mendapatkan produk yang banyak dan lezat tetapi murah? Kali ini akan saya contohkan tata kelola penjualan produk melalui konsep tampilan yang menghasilkan ketiga perasaan itu; banyak, lezat dan murah.
           Saya mencontohkan paket berbuka puasa berupa makanan buffet (prasmanan) dengan harga Rp.75.000,- dengan pilihan menu sebanyak 75 pilihan. Mengapa disebut murah? Karena harga rata-rata pilihan menu tersebut jika dibeli dengan terpisah (ala carte) harga masing-masingnya bisa mencapai Rp. 50.000,- -- coba bayangkan Rp. 50.000,- x 75 pilihan = Rp. 3.750.000,- mahal bukan?—
            Ini rahasianya. Bagi pembeli, hanya efek lapar saja yang dituju. Konsumen akan langsung merasakan kemewahan dan rasa murah yang sangat hanya ketika mereka melihat dafar menu yang panjang berderet yang tidak akan sanggup mereka baca dalam waktu 1 menit.
Selanjutnya, konsumen akan terpesona dengan tampilan sajian yang tersusun dengan indah, penuh warna, pilihan yang benar-benar banyak dan dibagi dalam beberapa meja yang panjang dan konsumen akan merasakan kebebasan untuk memilih sesukanya dan dalam hatinya,  mereka pikir akan sanggup menghabiskan semuanya.
Pihak penjual tidak perlu khawatir, karena, tidak mungkin seseorang akan sanggup memakan kesemua menu pilihan tersebut. Ketika anda sudah makan satu mangkok sop, lalu setengah porsi nasi dan sayur plus satu lauk, pasti anda sudah merasakan kenyang yang sesungguhnya. Apalagi ketika anda memulainnya dengan 3 butir kurma, minuman yang manis seperti cendol. Paling anda masih sanggup sejenak untuk menambah sedikit buah dan sebuah kue tambahan.
           Rahasia harga murah dan tampilan lainnya akan saya tulisakan dalam kolom minggu berikutnya.
                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

Previous
Next Post »