Bukan Agen, Tapi Konsultan

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 31 Agustus 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

             KINI agen perjalanan dan wisata sudah mulai tergerus dan kalah bersaing ketika dihadapkan dengan agen-agen penjualan yang berbasis sistem internet. Sebutlah Traveloka, Agoda, Booking.com, Raja Kamar dan banyak lagi yang lainnya.
                Pesaing baru ini bekerja dengan sangat efektif dan murah. Tinggal klik, bayar dan dapat tiket atau voucher hotel dengan mudah dan murah. Berbeda dengan perusahaan agen perjalanan yang berposisi sebagai agen atau pihak tengah antara pemilik produk (Hotel, restoran, pesawat dll) dengan pihak konsumen.
              Gaya belanja melalui perusahaan agen perjalanan wisata menjadi berbelit, lama dan lebih mahal karena harus ada komisi agensi yang harus ditanggung oleh pihak pelanggan atau pihak pemilik produk. Gaya belanja yang begini tidak lagi trend pada saat ini. Saya menggambarkan menggunakan perusahaan agen perjalanan wisata seperti berbelanja di kedai kelontong tradisional, kita bilang kepada penjual, nanti si penjual sibuk mencarikan barangnya satu persatu, lambat dan tidak efisien. Sedangkan berbelanja melalui internet seperti berbelanja ke swalayan yang modern, bisa memilih sendiri, bisa menentukan harga yang pas sesuai kebutuhan dan mudah. Jelas gaya belanja yang berbeda.

AGEN
             Saat ini, pengertian dan persepsi yang muncul di otak kita ketika mendengar kata agen tidaklah begitu positif. Kita langsung memberikan label kepada si agen, dengan pemikiran tentang broker, pihak perantara, pihak yang mengambil keuntungan dari kedua belah pihak; penjual dan pembeli.
              Bagi penjual, agen seringkali dicurigai sebagai pihak yang akan mengurangi keuntungan dengan beban komisi agen. Bagi pihak pembeli, agen akan dicurigai sebagai pihak yang akan menambah beban biaya dengan komisi agen.
            Baik bagi pembeli dan penjual, agen sering dicurigai sebagai pihak yang menutupi dan menghalangi kebebasan pertemuan dan kesepakatan antara pembeli dan penjual.
               Dalam hal perjalanan wisata, agen dianggap tidak lagi penting, karena pembeli dan penjual kini dengan bebas bisa berhubungan melalui teknologi komunikasi.

KONSULTAN
                Realita Agen diatas sudah selayaknya disikapi dengan cermat dan cerdas. Harus ada upaya untuk memposisikan ulang posisi bisnis agen perjalanan wisata dimata konsumen. Saya sangat setuju dengan persepsi Tokoh Travel Agent nasional Ben Sukma. Beliau berfikir bahwa agen sudah harus berubah ke posisi yang lebih positif.  Posisi yang bisa diterima dengan baik oleh konsumen dan memainkan peran yang tidak bisa dilakukan oleh mesin-mesin berteknologi yang jadi saingannya sekarang.
              Adalah posisi penasehat/konsultan yang kurang bisa dilakukan oleh mesin. Sebutlah ketika konsumen memilih hotel, apakah mesin saat ini bisa menyebutkan bahwa posisi hotel tersebut rawan macet? Atau posisi hotel tersebut dekat dengan pusat kriminalitas yang tinggi? Atau jalur perjalanan antar negara yang paling efektif?
                 Pertanyaan yang sama, apakah mesin bisa menyarankan secara detail dan personal hal-hal yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang pelancong? Apakah mesin dengan mudah meminta kenaikan kelas kamar atau kelas tiket pesawat?
            Perubahan nama dari agen perjalanan wisata menjadi konsultan perjalanan wisata akan memberikan dampak kesan yang berbeda. kesan positif ini akan membuka peluang bisnis yang lebih baik. Tinggal selanjutnya, cara kerja dan kemasan seorang konsultan jelas berbeda dengan seorang agen. Konsultan lebih cenderung terkesan memberikan saran dari pada menjual. konsultan seolah-olah hanya memberikan masukan objektif. Konsultan pro dengan kebutuhan dan orientasi konsumennya.
   
                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com

   
Previous
Next Post »