“Emang Sikit, Tapi kali-nya..”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 September 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

              SAYA punya konsultan untuk masalah pajak yang hanya datang satu kali dalam satu bulan. Itupun biasanya hanya beberapa menit saja, selebihnya ngobrol-ngobrol dan pulang. Honor yang saya berikan menurut saya tidak seberapa besar. Karena kebaikannya, saya merasa berhutang budi dan dengan sedikit bangga saya tawarkan kepadanya untuk bekerja secara permanen untuk perusahaan saya.
               Ketika mendengar tawaran saya, konsultan saya tersebut senyum-senyum dan menolak dengan halus. Dengan penolakannya tersebut saya menjadi penasaran dan ingin sedikit tahu mengapa dia menolak tawaran saya tersebut.
                Selidik punya selidik, ternyata selain saya, konsultan itu juga memberikan jasa konsultasi kepada ratusan klien. Saya baru tersadar, nilai gaji yang saya tawarkan ternyata bernilai tak seberapa dibanding dengan yang ia dapat dari jasa konsultasinya. Saya coba bayangkan, seratus klien dikalikan sejumlah rupiah! Pantas sekali ia menolak tawaran saya.

Faktor Kali
              Dengan prinsip yang sama dengan konsultan saya diatas, bisnis kadang kala harus dihitung dengan pertimbangan faktor kali. Bisa saja hitungan per unitnya memberikan kontribusi keuntungan yang rendah, tetapi jika dikalikan dengan volume yang banyak, maka potensi keuntungannya juga akan menjadi banyak juga.
               Faktor kali ini harus dipertimbangkan untuk produk-produk yang fast moving –berputar cepat-- . produk ini umumnya adalah bahan-bahan kebutuhan sehari-hari seperti sembako. Bisa juga untuk bahan baku olahan yang akan dibuat menjadi produk turunan yang lebih bernilai.
                Mempertimbangkan strategi mengambil keuntungan sedikit tetapi berharap volume yang tinggi layak diaplikasikan untuk produk-produk yang pesaingnya lumayan banyak. Dalam hal ini perang harga menjadi isu sensitif yang tidak bisa diabaikan.
                Akan menarik jika produk yang kita jual bukan tunggal, artinya ada produk lain yang bisa diharapkan bisa berkontribusi keuntungan yang lebih banyak walau faktor kalinya relatif sedikit. Artinya ada potensi saling mendukung.

Faktor keberlanjutan
              Ini penting juga ketika mempertimbangkan strategi harga jual yang tipis untung tetapi volumenya tinggi. Faktor keberlanjutan yang saya maksud adalah bahwa bisnis dengan trik faktor kali bukanlah bisnis sekali tembak. Tetapi bisnis yang terus menerus dalam waktu yang panjang.
                Dengan waktu bisnis yang panjang, kita mendapatkan kepastian kentungan dari faktor kali dan waktu. Semakin panjang dan berkelanjutan, maka keuntungan itu bisa diprediksi dengan baik dan kita bisa sedikit nekat untuk melakukan terobosan-terobosan dalam bentuk strategi harga dll.
                Pertimbangan faktor keberlanjutan dalam hal ini akan memudahkan kita membuat rencana kerja dan rencana keuangan dengan lebih baik. Pada skala tertentu, setelah beralan beberapa waktu, kita sangat bisa membuka peluang-peluang lain. Hal ini terjadi karena pola binis ini akan berulang sama. kita hanya dituntut untuk menjaga saja. Dan ketika itulah kita memiliki waktu dan kesempatan untuk menambah bisnis atau mencari peluang lainnya.

Faktor modal
               Dalam bisnis berpola keuntungan tipis, kita harus mendapatkan suplay dengan harga yang cantik, sehingga kita bisa leluasa menekan harga dan mampu bersaing dengan percara diri. Dan untuk mendapatkan suplay dengan harga yang miring, salah satu kuncinya adalah pembayaran yang lebih cepat dan berbanding sama dengan volume, tentu modal yang dipersiapkan juga lumayan besar.
                Faktor modal ini umunya dituntut pada tahap-tahap awal, dimana tingkat kepercayaan dari pihak suplayer masih belum terbangun. Dengan berjalannya waktu, faktor ini bisa akan lebih ramah; misalnya pola kredit dan waktu yang lebih longgar.

                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »