SIKIT TAPI BANYAK

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 September 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                KORAN harian yang anda baca ini adalah media yang mengkhususkan dirinya kepada para pembaca yang membutuhkan informasi bisnis. Koran ini tidak latah seperti koran lain yang menjadi Koran Umum, artinya semua berita dimuat tanpa tema khusus yang jelas.
                Oleh karenanya, pembaca Koran ini cukup spesifik dan terbatas bagi mereka yang membutuhkan informasi bisnis. Jumlahnya pasti tidak sangat banyak, karena pelaku bisnis jumlahnya tidak banyak.
                Pertanyaannya adalah, apakah yang sedikit itu menghasilkan pendapatan yang juga sedikit? Tentu saja tidak. Justru yang sedikit itu berpotensi memberikan keuntungan yang jumlahnya besar.
                Sama seperti Metro TV, stasiun televisi inilah yang menyakini bahwa ada pasar yang belum digarap oleh pesaingnya yang lain yaitu berita. Ketika semua stasiun televisi lain berlomba menampilkan hiburan-hiburan semata, metro tv hadir dengan utuh menyajikan berita. Awalnya mengagetkan, tetapi lihatlah hingga kini metro tv menjadi referensi utama berita-berita yang dibutuhkan banyak pemirsa.
               
UNTUNG
                  Berbicara keuntungan membidik pasar yang khusus, spesifik dan terbatas adalah karena beberapa pertimbangan logis.
          Pertama; target pasarnya lebih jelas dan karakteristiknya lebih homogen sehingga memudahkan kita dalam melayani sektor ini. Pasar ini mudah dipetakan, sehingga mudah mencapainya.
            Kedua; karena sasarannya jelas, maka akan Lebih mudah dan lebih murah untuk menjangkau konsumen yang akan dibidik. Target yang sfesifik tidak terlalu luas, membuat strategi yang diciptakan akan lebih fokus. Energi perusahaan tidak akan terbuang percuma. Ibarat menembak. Sasaran yang sedikit ini mudah ditembak seperti sniper, satu peluru satu sasaran. Sedang untuk pasar yang umum dan masal, seperti memberondongkan peluru kepada sasaran yang luas. Kita tidak bisa pasti peluru yang keberapa yang akan mengenai sasaran.
             Ketiga; karena kespesifikannya, pesaing jumlahnya sedikit. Ketika kompetisi berkurang strategi bisnis akan lebih mudah dieksekusi.
   Keempat; pasar yang sedikit ini adalah pelanggan yang unik, kita hanya perlu lebih dalam mengetahui masalah dan kebutuhan pelanggan unik tersebut, selanjutnya kita bisa menawarkan sesuatu untuk memenuhi keinginan tersebut. Dan karena yang ditawarkan itu yang mereka cari, maka permintaannya pun akan tinggi.
  Kelima; ini adalah bisnis yang unik. Jika kita menawarkan sesuatu yang unik kepada pelanggan atau bisa jadi perusahaan kita yang pertama membuat produk unik tersebut makan dijamin produk kita akan diingat lebih lama oleh para konsumen.

NYATA
                 Kita baru tersentak setelah ada pelaku bisnis lain yang sukses menekuni bisnis untuk ceruk pasar pasar yang terbatas itu. Lihatlah ketika Aqua pertama berjualan air minum. Awalnya orang pikir itu biasa, ternyata kini suksesnya luar biasa.
                  Perusahaan yang bertitel John Rober Power mengkhususnya dirinya kepada pasar yang sedikit yang memerlukan perbaikan kepribadian. Pelanggannya kalangan tertentu saja yang membutuhkan bimbingan untuk bisa tampil menjadi pribadi yang lebih menarik dan berkualitas.
              Bahkan kini ada perusahaan semacam John Robert Power yang hanya fokus pada pelatihan membangun kapasitas kepemimpinan. Biayanya tidak kurang dari Rp.250.000.000,- per orang untuk satu paket pelatihannya. Mungkin anda berfikir siapa yang tertarik dengan pelatihan semahal itu, tetapi faktanya pelanggan perusahaan itu tidak pernah kosong. Selalu ada dan kini bahkan kita harus antri untuk bisa mendaftar.
                 Tantangan konsep ini hanyalah kejelian melihat peluang dan penangan pelanggan yang personal dan khusus. Artinya beda pelanggan bisa jadi beda kebutuhan. Itu saja.

                                                                                        Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »