PEDANGANG KECIL DISIKSA, PEDAGANG BESAR DIPUJA

 Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 12 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
MAK JANES
                MAK JANES sudah bangun dipertiga sisa malam. Bergegas dia ke pasar tempat ia jualan belasan tahun belakangan. Ketika semua orang sedang lelap dalam tidur, ia sudah harus segera sampai di hiruk- pikuk pedagang yang berebut sayuran dari Berastagi untuk dijadikan barang dagangan. Telatlah ia satu detik, payahlah ia bisa mendapatkan rejeki hari itu.
                Segera sesudah berebut barang dagangan, ia segera memperebutkan lapak tempat ia jualan. Ini perkara hidup dan mati. Hanya pemberani yang bisa memenangkan perebutan itu. Sesudahnya ia kemas barang dagangannya dalam ikatan-ikatan yang lebih kecil, sehingga ia bisa jual dengan harga yang lebih terjangkau.
                Begitu jamaah sahalat adzan subuh bergerak keluar masjid, mulailah ia sibuk memanggil calon pembeli untuk membeli dagangannya. Satu persatu pelanggan datang dan pergi. Jumlah yang datang tidak otomatis sesuai dengan jumlah yang membeli. Apalagi jika yang datang adalah kaum ibu sepertinya.
                Modal seikat kangkung adalah Rp. 2.300,-  ia tawarkan dengan harga Rp.3.000,- . Jangan anda bayangkan ia akan mendapat untung Rp.700,- karena yang terjadi adalah para pembeli itu akan menawarnya mati-matian. Mereka mulai menawar dengan harga Rp.1.500,- jauh dibawah harga modalnya. Setelah lelah bernegosiasi, terlepaslah seikat kangkung dengan harga Rp. 2.500,-. Artinya ia hanya untung Rp.200,- saja.
                Tak cukup menawar dengan gila-gilaan, para pembeli itu juga menambah permintaan diskon gila itu dengan berbagai umpatan dan ejekan. Ada yang bilang produknya sudah layu. Ada yang bilang produknya jelek. Ada yang bilang di tempat lain lebih murah. Ada yang marah menuduh bahwa Mak Janes menjual dengan amat mahal dan mencari untung dengan membabi buta.
                Di penghujung pagi, ia harus segera bersiap-siap membayar retribusi kebersihan, retribusi kemanaan, dan berbagai pungutan yang bahkan tak jelas entah pungutan apa saja.

BANG ALEX
                Setiap pagi Bang Alex sempat sarapan bersama anak dan istrinya. melepas anak sekolah diantar sopir. Lalu membaca Koran atau berolah-raga pagi sebelum berangkat ke toko-nya di sebuah Mall paling mentereng di tengah kota Medan.
                Jam 10.00 ia memulai membuka tokonya. Ia mulai dengan melilhat karyawannya bekerja membersihkan toko dan barang dagangannya. Lalu ia mulai telepon para supplier untuk mengantar barang dagangan pesanannya. Tak perlu ia berjuang secara fisik sedasyat Mak Janes.
                Semua dagangnya di patok dengan harga yang lumayan mahal dengan jumlah nol yang lebih dari 6 digit. Semua produk dagangnya di beri label harga dan tidak ada mengenal tawar-menawar. Kecuali ketika ia sedang sepi pembeli, barulah ia mengeluarkan diskon dengan alasan perayaan hari raya tertentu.
                Para pelanggan yang datang berdandan rapih dan santun. Mereka tidak memaksa dan mengejek produknya. Pilihannya cuma satu, tertarik dan cocok, lalu bayar. Mereka Paham ketika melihat label harga dan tidak akan menawar.

SIKAP
                Konon, para pembeli yang datang ke toko Bang Alex, ada juga yang menjadi pelanggan Mak Janes. Tetapi perilaku menekan Mak Janes tidak mereka lakukan di toko Bang Alex. Ada perasaan bangga ketika mereka sanggup menawar dengan harga miring ketika berbelanja ke pasar tradisional seperti ke Mak Janes.
                Kisah diatas bisa dijadikan pertimbangan, ketika anda ingin jadi pedagang. Mau yang besar atau yang kecil. Semuanya ada konsekuensinya.

                                                                  Konsulatasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »