SAYA PERNAH TUMPUR 5 KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 26 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                MENGAWALI bisnis pribadi, saya sudah 4 kali gagal dan bangkrut. Benar-benar palajaran yang tidak saya dapat di bangku kuliah. Tetapi itu sangat penting dan membawa kepada kesuksesan bisnis yang kini saya geluti.
             Minggu lalu saya sudah menuliskan beberapa penyebab ke gagalan bisnis saya. Diantaranya adalah kesalahan memilih partner, kesalahan memimpin pegawai dan kesalahan kaderisasi.

SALAH PATUNGAN
                Saya mengalami kesalahan membuat bisnis dengan patungan. Kesalahannya adalah ketika patungan tersebut tidak seimbang, dimana rekan saya menyetorkan modal dengan cara mencicil dimana kebutuhan modal sangat urgen sehingga proses produksi tersendat.
                Hambatan proses produksi berefek kepada gagal janji kepada pasar. Lalu penjualan tergangga dan seterusnya menghambat proses lainnya. Dan tidak sampai 2 tahun usaha patungan kami kandas.
                 Dalam hal ini, uang memancing uang, artinya kita harus sadar modal.

SALAH MEMILIH LOKASI
                Kesalahan ini terjadi karena alasan modal, sehingga kami membuat usaha kuliner yang lokasinya tidak cukup strategis. Awalnya kami pikir asal manakan enak, pasti orang akan datang. Ditambah manajemen promosi yang ala kadarnya, maka grafik penjualan menurun dan akhirnya usaha itu tiarap.
               Pada salah satu bisnis saya yang lain, saya terpaksa harus menutup salah satu toko kami, karena kami salah menilai pasar yang ada di daerah tersebut. Jumlah penduduk yang banyak bukan jaminan pasar yang pas untuk produk kita. Daya beli dan budaya belanja serta karakter produk kita harus dipertimbangkan ketika memilih lokasi. Untuk kasus ini, setahun saja kami buka toko di daerah tersebut.

SALAH KOMITMEN
                Yang saya maksud bukanlah komitment kepad pihak lain. Tetapi komitment kepada diri sendiri. Ketika kita lengah, ketika kita merasa capek, ketika kita merasa bosan dan ketika kita tidak sabar, disanalah mulai tumbuh penyakit berbahaya yang akan segera merobohkan bisnis kita.
               Bisnis bukan cerita uang, tetapi cerita komitmen dan dedikasi. Khususnya pada saat memulai sebuah bisnis.
                Komitmen kita sering tergoda oleh pikiran lain ketika kita berhadapan dengan masalah, mulailah kita berpikir bahwa kok bisa orang lain sukses. Lalu berprasangka bidang usaha lain mungkin akan lebih bagus dan lebih menguntungkan. Dan kita merasa bahwa jika kita tinggalkan bisnis yang ada saat ini, mungkin tingkat kerugian akan bisa dibatasi.
                Saya pernah mengalami kesalahan ini, saya lepaskan burung di tangan dan mengejar burung yang terbang di langit. Semuanya lepas dan tidak bisa di tangkap. Akhirnya gagal terkapar.

SALAH BERINVESTASI
                Dengan kegagalan yang berkali-kali,saya mencoba untuk hanya berinfestasi kepada orang lain. Lebih dari 5 kali saya juga pernah mengalami kegagalan investasi seperti ini.
                 Kesalahan saya adalah bahwa saya menginvestasikannya kepada para pemula. Mereka yang dengan semangat menggebu ingin segera mencapai suksesnya. Hitungan bisnisnya optimis, tapi karakter kewirausahaannya masih belia.
                Investasi saya yang lain gagal karena tidak tahu bahwa pelaksana bisnis itu ternyata terbelit hutang di bisnisnya yang lain. Tidak sampai 4 tahun, bisnis tersebut bangkrut.

BIDANG USAHA TIDAK SALAH
                 Hingga kini, saya meyakini bahwa tidak ada salah dengan pemilihan bidang usaha. Usaha apapun akan bagus. Bahkan untuk bidang usaha yang sedikit sekalipun pemainnya. Kesalahan terbesar yang saya temui adalah faktor etos kita sebagai pengusahanya.
                Pada akhirnya saya meyakini bahwa bisnis adalah perkara karakter. Hanya karakter pemenang yang akan bisa bertahan dan sukses.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »