SAYA PERNAH TUMPUR BERKALI-KALI

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                  SAYA ingin kaya raya. Saya yakin anda juga begitu. Iya kan?
                Sayangnya tidak ada sekolah formal di Negeri ini yang memberikan pelajaran bagaimana caranya menjadi kaya. Akhirnya saya bekerja, menjadi pegawai, dan disitu jelas menjauhkan impian saya. 
Keringat pegawai harus dibagi kepihak-pihak lain. Yang pertama, Boss pemilik usaha dimana ia bekerja. Sudah pasti Boss akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar dari gaji pegawainya. Yang kedua, hasil keringat pekerja harus dibagi kepada pemerintah. Siapa di negeri ini yang bisa mengelak dari pajak? Yang ketiga; dibagikan kepada Bank. Tanpa kredit ke bank, sangat sulit bagi pegawai untuk bisa memiliki kendaraan, rumah dan sekolah anak-anaknya.
Seperti disebut Rasullullah, “Dari 10 pintu rejeki, 9 diantaranya adalah dari perniagaan” lalu saya membuat usaha bisnis dan mempekerjakan orang lain. Sebuah impian yang mulia dan menyenangkan. Berkali-kali saya mendirikan bisnis dan berkali-kail tumpur. Saya relakan itu sebagai pelajaran menuju sukses yang saya yakini.
Hari ini saya bagikan kepada anda, siapa tahu juga menjadi pembelajaran positif bagi anda.

SALAH MEMILIH PARTNER
                Berkongsi dalam bisnis adalah hal baik dan umum terjadi. Tetapi perkongsian yang saya pernah alami berjalan tidak seperti yang kami harapkan. Dalam waktu 1 tahun, bisnis kami tumbang dan musnah.
                Setelah saya pelajari, ternyata masalahnya adalah karena salah memilih partner.  Usaha patungan awal saya terdiri dari kawan-kawan nongkrong yang sangat cocok dengan saya. Kami satu tipe. Kami pandai berencana tapi tak satupun dari kami yang bisa mengerjakannya.
                Perkongsian saya berikutnya juga gagal. Ternyata karena potensi kami yang tidak seimbang dan tidak ada yang fokus mengerjakan bisnis kami. Bisnis terbengkalai dan habislah modal.
                Saran saya pada perkongsian ini; cari partner yang tidak satu tipe –karakternya-- dengan kita. cari partner yang juga memahami bisnis. Cari partner dengan porsi seimbang, sehingga mereka juga ikut menjaga bisnis kita. Tidak semua kawan yang enak diajak bicara, akan otomatis cocok untuk menjadi partner bisnis.

SALAH MEMIMPIN PEGAWAI
                Yang benar pada awalnya sumber kesalahan sebenarnya bukan dari si pegawai, tetapi dari si pemilik usaha. Lalu kesalahan memilih pegawai bisa kita jadikan alasan untuk memperingan rasa bersalah kita.
                Kegagalan saya adalah ketika mempercayakan penjualan kepada sebuah tim salesman dengan seorang manager tapi saya tidak mengawasinya dengan benar. Jadilah mereka penipu dan maling. Ketika pada akhirnya bisa ketahuan, mereka lari entah kemana. Barang dagangan beredar luas tanpa bisa ditarik, uang bertebar dan tidak tahu kemana ditagih. Lalu tak sampai 2 tahun bangkrut.
                Saran saya; silahkan pilih pegawai apapun tapi jangan pernah membiarkan mereka bekerja tanpa pengawasan. Intinya, untuk usaha kelas kecil bahkan menengah. Si pemilik harus ikut sejak awal. Penuh konsentrasi dan benar-benar mengawasinya.

SALAH KADERISASI
                Salah satu bisnis saya yang mandek, adalah karena hampir semuanya saya kerjakan sendiri. Saya tidak mendelegasikan kepada bawahan. Dan saya kesulitan mendidik kader yang bisa menggantikan saya. Karena bidang bisnis tersebut adalah memang menuntut kecakapan khusus yang sulit untuk mendapatkannya.
                Semestinya saya mempersiapkan pengganti saya agar bisnis saya bisa berjalan walapun tanpa ada saya. Saya terjebak dalam rutinitas dan produktifitas menurun hingga ketika saya bosan, bisnis pun berhenti sejenak.
                Kesalahan saya yang lain akan saya tulis dikolom berikutnya.

                                                                                      Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »