TAK MUDAH UNTUK LUPA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 5 Oktober 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KALANGAN LSM penggiat lingkungan di Amerika direpotkan oleh sekelompok masyarakat yang membenci keberadaan Serigala di daerah pedalaman Washington dan Idaho. Mereka menolak program pengembalian sekelompok Srigala ke areal tersebut setelah 100 tahun hewan ini punah dari dua daerah ini. Kelompok penentang ini sangat tidak setuju adanya Serigala diantara mereka. menurut para pembenci binatang ini, Srigala adalah binatang yang menjijikkan dan berbahaya, sehingga layak untuk dimusnahkan. Hingga akhinya presiden Barack Obama mengijinkan perburuan Srigala yang sebenarnya termasuk langka di daerah tersebut.
Menurut ahli lingkungan, keberadaan Srigala sebagai predator sangat penting dalam upaya alam mengendalikan populasi binatang yang bisa berkembang masal dengan cepat, seperti kijang, menjangan, kelinci, burung dan ikan salem.
Menurut mereka tidak perlu sangat dikhawatirkan, karena binatang yang bisa dimangsa bukanlah binatang yang sehat dan kuat, tetapi yang cenderung lemah dan tua. Artinya, keberadaan predator justru akan memperkuat kelompok binatang yang jadi mangsanya.

TANTANGAN RE-LAUNCHING
                Kisah diatas adalah salah satu bukti bahwa pola pikir manusia relatif sama dimanapun mereka berada. Bahkan di negara yang sudah dianggap sebagai negara maju. Mereka tidak mudah lupa untuk hal yang menurut mereka buruk dan tidak mudah menerima kembali sesuatu yang dahulunya pernah berakibat buruk bagi mereka.
               Saya pikir pasar dan pelanggan kita juga berpikir yang sama. Artinya, ketika sebuah produk pernah gagal karena dianggap tidak baik oleh pasar. Maka kemunculannya lagi juga tidak akan mudah di terima oleh pasar.
                Tentu saja saran yang bijaksana untuk anda yang ingin mengembalikan sebuah produk kepada masyarakat, pertimbangkan nama dan kesan pasar pada waktu dahulu. Jika negative, saya rasa lebih baik pemunculannya diganti dengan merek atau nama lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan merek yang sudah rusak tersebut.

LOKASI BEKAS USAHA GAGAL
               Sama juga dengan pemilihan lokasi usaha dimana dahulunya pernah ada usaha yang pernah gagal. Saya sendiri belum menemukan solusi pendekatan pemikiran secara manajemen modern; mengapa sering kali usaha/binis akan menghadapi kegagalan ketika didirikan pada lokasi yang dahulunya adalah usaha yang pernah gagal.
              Saya mengamati beberapa lokasi yang sangat tersebut. Dalam kacamata bisnis manajemen modern, sebenarnya lokasi tersebut sangat strategis, dekat dengan pasar, mudah diakses, mencolok dan bergengsi. Belum lagi upaya pihak manajemen usaha baru yang melakukan strategi dan terobosan serius. Mulai dari renovasi menyeluruh, interior yang baru dan langkah promosi yang gencar. Tapi tetap saja usaha mereka tidak sukses.
                   Saya sementara ini berasumsi bahwa kegagalan itu terjadi karena faktor persepsi pasar terhadap lokasi tersebut. Ketika dahulu pernah terkesan jelek, maka tidak mudah pasar akan melupakannya. Walaupun berganti produk dan berganti kemasan, tetapi nuansa persepsi akan lokasi itu terlanjur negative dan sulit dilupakan oleh pasar/masyarakat.
               Jika ada lokasi yang bisa berubah dan sukses, biasanya lokasi yang berubah 100%, digusur habis dan didirikan bagunan baru yang lebih besar serta merubah persepsi masyarakat secara menyeluruh.
                 Ingatan masyarakat dan keenggannan pasar untuk melupakan masa lalu jelas sangat sulit terjadi. Mungkin bagi anda yang tinggal di Kota Medan, akan menyebutkan lokasi simpangan yang hingga kini masih terpelihara dalam pikiran masyarakat dan tidak juga berubah seiring perubahan jaman. Ada simpang Limun (yang pabrik minumnya entah dimana) dan simpang Majestik/Golden (yang sudah tidak ada lagi bagunannya).

                                                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »