Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari (Bukan untuk menjawab tantangan bisnis hari ini)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 2 November 2015, dihalaman 7. Diperolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                BERKALI-KALI saya mencoba meminta peserta latih saya dalam banyak Pelatihan yang saya bawakan untuk menggambar dengan waktu yang singkat. Hasilnya, lebih dari 80 % menggambar materi yang sama. Bentuknya adalah sekitar 2 buah gunung, lalu jalan di tengah yang berujung di gunung tersebut, petak-petak sawah di kanan kiri jalan, matahari di sudut gunung dan beberapa angka 3 tengkurap sebagai gambar burung yang sedang terbang di atas gunung.
                Peserta latih saya itu bukanlah anak usia TK atau SD, mereka sudah berumur, bahkan ada diantaranya yang sudah lama dapat title PHD dan Professor. Pertanyaannya adalah mengapa orang tua itu menggambar sesuatu yang sudah sangat lama kejadiannya?
Mengapa mereka menggambar sesuatu persis seperti mereka masih TK atau SD? Padahal mereka dalam proses hidupnya mengenal banyak objek yang mudah untuk digambarkan? Tinjauan secara psikologis, gambar spontan dan cepat itu ternyata adalah potret yang tersimpan di alam bawah sadar kebanyakan orang Indonesia.
Fakta itulah yang sebenarnya menjawab pertanyaan, mengapa manusia tidak mudah berubah. Bagaimana kemampuan masa lalu dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini apalagi tantangan masa depan.

BERUBAH
Tulisan ini adalah buah obrolan virtual saya dengan bang Dicky Zulkarnain yang sudah jatuh bangun menghadapi perubahan.
Ketika Raksasa Industri Telepon Selular Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, CEO Nokia Jorma Ollila harus melakukan konferensi pers. Saat itu ia harus  mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft atas Nokia. Kalimat terakhirnya; "Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah", diikuti puluhan eksekutif Nokia yang juga tidak tahan untuk menitikkan air mata.
Kami sepakat bahwa Nokia adalah perusahaan yang mengagumkan. Konon Nokia menguasai pangsa pasar terbesar di Seluruh Dunia.
Boleh dibilang Nokia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi dunia berubah terlalu cepat. Mereka terlena, kurang belajar, tidak respons terhadap perubahan, dan akhirnya kehilangan kesempatan. Nokia bukan saja melewatkan kesempatan untuk membuat uang, tetapi kesempatan untuk bertahan hidup.

TAKUT GAGAL
Saya melihat bahwa jatuhnya Nokia cenderung karena takut gagal. Antisipasi perkembangan Android begitu pesat sementara Symbian dan Microsoft mengganggu pengambilan keputusan mereka. Keraguan itulah yang membuat Nokia memasuki tahap galau inovasi. Mereka takut gagal.
Rasa takut itu tidak diantisipasi dengan tidak ‘menyatukan seluruh telur dalam satu keranjang’. Langkah antisipasi menjadi penting agar keberanian berubah diiringi dengan jaminan kemanan disisi yang lain.
Obrolan ini adalah pengingat bagi kita. Semua bisa jatuh tersungkur, bahkan raksasa sebesar Nokia sekalipun.
Jangan takut berubah, karena berubah itu harus. Keunggulan kemarin akan digantikan oleh tren/kecenderungan esok. Jangan gunakan teknologi dan cara masa lalu untuk menghadapi masa kini dan tantangan masa yang akan datang.
Hidup dalam kekhawatiran cenderung menghambat perubahan dan ujungnya akan mati pelan-pelan. Merubah diri sendiri namanya kelahiran kembali, dirubah oleh orang lain namanya tersingkir. Tidak mau menerima tren/perkembangan zaman, pasti akan tersingkir dari pasaran.
Berubah adalah Sunatullah. Sudah merupakan aturan yang diberikan Sang Pencipta. Di Dunia ini, tidak ada yang tidak berubah. Bahkan dalam pikiran saya, komitmen untuk berubah adalah peryataan yang berlawanan dengan aturan Tuhan itu sendiri.
… Perbaharuilah potret dalam pikiran kita, pasti ada gambar yang ‘terkini’ daripada Gunung, Sawah, Jalan dan Matahari.

                                           
                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »