ETIK

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 14 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

BUKAN Cuma DPR, dalam dunia bisnis juga ada Mahkamah Kehormatan yang setiap saat membuka Sidang Etik atas bisnis kita. Siapapun yang duduk di kursi pesakitan dalam sidang itu (maka kemungkinan besar), bisnisnya akan terganggu, bahkan bisa tutup.
Mereka adalah konsumen kita, para pendukung bisnis (supplier dan semua pihak yang terlibat) serta otoritas pemerintahan yang melakukan kontrol.
Mereka akan menilai dan menghakimi kita tanpa kenal ampun. Walau dunia bisnis kian modern, tetapi mereka –para hakim itu—akan bisa menilai diri dan nurani kita yang terselubung dalam karakter bisnis kita.
Dalam berbisnis, prinsip-prinsip etika adalah pilar utama dalam membangun kredibilitas bisnis. Reputasi masih tetap menjadi kunci pengakuan publik yang berujung pada sukses sebuah bisnis.
Inilah etika bisnis yang harusnya dijaga;

JUJUR
          Bisa saja kita menipu dan menutupi kekurangan dan kesalahan kita, tapi tunggulah ketika tipuan itu terbongkar, kita akan terjun jatuh kedasar jurang yang amat dalam.
          Semakin terbuka dan jujur atas kekurangan produk atau jasa kita, maka potensi tingkat kepercayaan akan semakin naik. Jika ada yang rusak, ada yang cacat, lebih bagus disampaikan diawal transaksi. Bahkan ketika kita tidak mampu mememuhi permintaan konsumen, jujurlah.
          Membuka isi kandungan nutrisi dan bahan baku makanan kepada konsumen adalah langkah berani yang pasti akan mendapat respon positif.

KONSEKUEN
Memenuhi janji atau komitmen adalah kunci untuk dapat dipercaya. Sekali janji diucap, sampai liang lahat pun orang akan mengejarnya. Bisa berupa Janji kualitas, janji waktu pengiriman, janji harga dan semua janji apapun. Pastikan tidak cedera. Penuhilah janji itu.
Oleh karenanya, jika tidak perlu, jangan sembarangan membuat janji.

IKUT ATURAN
Aturan dalam berbisnis ada yang tertulis dalam bentuk undang-undang ataupun aturan tak tertulis dalam bentuk norma masyarakat. Ikutilah aturan main itu. Mengikuti aturan akan menghindarkan diri dari pencemaran nama baik suatu saat jika terjadi krisis.
Pada semua bentuk kesepakatan bisnis, akan selalu menyantumkan aturan pelaksanaannya, ikutilah. Jika tidak, anda akan mendapaat label sebagai pelawan aturan. Dan tukang melawan biasanya tidak pantas untuk duduk sejajar.

PEDULI
Mementingkan diri sendiri adalah cara yang paling efektif untuk mengasingkan bisnis kita dari pusaran pasar. Perduli kepada pihak lain adalah tanggungjawab moral yang akan menuai simpati semua pihak. Rasa simpati itu adalah asset yang bernilai untuk meningkatkan kredibilitas bisnis.
         
MENGHARGAI
Menempatkan pihak lain pada posisinya, tidak mengecilkan, dan tidak mendiskriminasi adalah sikap etik yang unggul. Termasuk terhadap pesaing.
Tak harus merendahkan pihak lain untuk meninggikan bisnis. Tak harus menjilat untuk mendapat perhatian dan tak harus berlaku seperti binatang untuk bisa menguasai pasar.
Berilah pihak lain (pegawai, pembeli, pemasok dan pesaing) untuk menjaga wajah mereka, niscaya mereka akan lebih menghargai anda.
Yang terakhir, kemampuan Pebisnis membangun dan menjaga nama baik perusahaan beserta seluruh hal yang berada di dalamnya adalah rahasia medekatnya konsumen dan semua pendukung kepadanya.
Pasar bekerja karena sentimen, karena perasaannya! Dan mereka akan berani mengadili kesalahan kita yang tidak menjaga persepsi dan perasaanya. Mereka mengadili kita dalam Mahkamah Etik Sosial.
Ketika pebisnis sukses menjaga etik bisnisnya. Maka citra yang positiflah yang akan terbentuk. Citra itulah yang akan mendatangkan pembeli, memudahkan urusan perijinan dan keamanan, urusan permodalan, dukungan pegawai yang tiada henti dll.

                             Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »