MANAJEMEN MUSIMAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

KOPI di sore akhir pekan lalu saya nikmati sendirian sembari menunggu seorang sahabat di sebuah cafe. Dalam kesendirian itu sempatlah saya memperhatikan sekitar. Kini dekorasi ruangan berubah dengan berbagai hiasan yang bertema Natal. Musik yang diputar adalah lagu-lagu natal dalam versi jazz. Tersadarlah saya bahwa ini sudah Bulan Desember, bulan perayaan Natal sudah tiba.
Seperti biasanya, menjelang natal, suasana menjadi romantis, sedikit melo dan syahdu. Ini adalah musim menjelang liburan akhir tahun. Musim dimana semua orang ingin segera libur dan berkumpul bersama keluarga.
Sesudah natal, suasana akan berubah menuju musim pesta besar pergantian tahun masehi. Perubahan suasana itu adalah musim yang direspon dengan cara dan suasana khusus pula.
Ketika sudah datang sahabat saya, mulailah kami ngobrol sana-sini hingga berputar pada topik tentang bisnis dan gaya manajemen pemiliknya.

GAYA MUSIMAN
              Kami sepakat bahwa pada skala bisnis mikro, kecil hingga sebagian kecil skala menengah, peran pemiliknya sangat sentral dan penting. Pada tataran ini keterlibatan pemilikya sangat besar. Pemilik mengendalikan semua hal. Mulai dari A sampai Z.
           Pada skala bisnis ini biasanya pemilik tidak mempraktekkan sistem delegasi yang baik. Apalagi ketika pemiliknya memulai dari Nol dan lupa bahwa semestinya ia harus mengembangkan sebuah cara agar pundaknya tidak penuh beban.
            Benar bahwa tidak mudah mempercayai orang lain. Benar bahwa tidak mudah mendapatkan pekerja yang loyal dan mau berkorban demi usaha kita. Benar bahwa mentalitas pekerja kita sangat memperihatinkan. Tetapi itu bukan alasan untuk memenjarakan diri dalam pusaran rutinitas yang menjebak dan tidak membuat keleluasaan bagi pemilik untuk mengembangkan usahanya.
            Konsekuensi logis dari situasi diatas adalah pada akhirnya suasana batin dan pikiran si pemilik usaha menjadi warna yang mencolok pada budaya manajemen usahanya. Secara sederhana; mood pemilik usaha sama dengan kinerja usahanya. Ketika pemilik senang dan semangat, maka kinerja perusahaannya akan mengikutinya maju dan dinamis. Tetapi ketika si pemilik sedang tidak bersemangat, maka otomatis semua pihak dan ritme kerja perusahaan juga melemah.
               
ANTI ANGIN-ANGINAN
Gaya manajemen yang angin-anginan ini sangat berbahaya bagi kinerja perusahaan dan jaminan kelangsungan bisnisnya. Sangat manusiawi dan memang wajar jika terjadi. Tetapi Ketika si pemilik usaha masih belum sukses mengembangkan sistem yang baik, maka sebaiknya dibangun sebuah cara agar komitmennya dalam menjalankan roda bisnis agar tidak angin-anginan.
Ada 2 cara sederhana, bagi anda yang keterlibatannya sangat dominan dan belum ada solusi manajemen yang lebih baik.
Yang pertama adalah usahakan untuk mengurangi rutinitas. Pilah-pilah pekerjaan yang bisa anda delegasikan. Delegasikan dan delegasikan lagi. Semakin banyak hal rutin yang anda bisa delegasikan, semakin bagus. karena mengurangi beban anda dan memberi peluang bagi anda untuk mengevaluasi, mencari solusi dan berfikir kreatif.
Pekerjaan rutin, tak perlu dikhawatirkan untuk didelegasikan, karena rutin dan standardnya pasti berulang.
Yang kedua, bangun teknik memotivasi diri. Misalnya dengan berkumpul dengan sesama pengusaha. Tidak penting apapun usaha kawan-kawan anda, karena dengan berkumpul dengan sesama pengusaha, anda akan termotivasi untuk terus maju dan berkembang seperti pengusaha-pengusaha lain itu. Sesekali saja boleh bergabung dengan orang-orang dari profesi lain untuk penyeimbang.
         Yang ketiga, luangkan waktu untuk melihat usaha lain agar menambah ide-inspirasi dan Intiplah pesaing anda. Jika mungkin ikutlah seminar-kursus untuk Pengembangan diri.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »