PROPOSAL HIDUP (pengantar renungan akhir tahun 1)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 21 Desember 2015, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            MENGADAKAN pesta malam tahun baru saja pihak panitia membuat proposal kegiatan. Bahkan perlombaan 17 agustusan di tingkat lingkungan saja ada proposal kegiatanya. Pertanyaannya, apakah anda sudah membuat proposal untuk hidup anda?
Sungguh aneh ketika hidup yang berharga ini dilalui begitu saja tanpa proposal yang tersusun dengan baik. Hidup yang mengalir begitu saja tentu tidak akan menjadi berwarna dan indah. Hidup yang mengalir tanpa kendali bagi saya adalah laksana buah kelapa kering yang jatuh keatas sungai, ia terombang ambing dibawa arus. Tak jelas mau kemana dan apa yang harus dilakukan.
Saya menuliskan artikel ini sebagai peringatan bagi kita semua bahwa jika kita tidak merencanakan hidup kita, maka kita akan lebih banyak membuang kesia-siaan belaka.
Saya pernah mengenal ‘rencana karir’ dan saya benar-benar menjalankannya. Dalam hitungan kurang dari 8 tahun, dari posisi paling rendah, saya sudah bisa menembus posisi puncak karir manajemen. Saya mencapai jabatan General Manajer di sebuah perusahaan dalam hitungan relative singkat.
Lalu saya pindah lagi ke perusahaan lain dengan posisi puncak juga. hingga akhirnya saya menghadapi kegalauan profesi. Saya menemukan kesalahan saya. Ketika itu, saya hanya merencanakan dan memimpikan posisi puncak saja. Tidak labih.
Saya hanya berencana menduduki posisi puncak, hingga akhirnya saya tidak tahu apa yang harus saya kejar untuk posisi berikutnya. Saya kehilangan orientasi. Ini terjadi karena saya tidak memiliki proposal hidup. Saya hanya memiliki proposal karir. Itupun hanya sampai posisi manajemen puncak. Tidak lebih.
Kegalauan saya berputar hingga menghabiskan belasan tahun dengan posisi karir yang datar. Benar bahwa saya memerlukan perenungan dan pendewasaan batin pada masa itu, tetapi lagi-lagi perjuangan saya terasa seperti tiada berujung.
Ini adalah pengalaman saya yang patut dijadikan catatan bagi anda yang belum memiliki rencana hidup.

Proposal Hidup
            Proposal Hidup adalah cita-cita. Proposal Hidup adalah doa. Dan ketika kita tidak punya Proposal Hidup, kita sebenarnya tidak memliki doa yang spesifik dan layak dipanjatkan kepada Sang Khalik. Ketika itu terjadi, kita hidup dalam posisi terbawa arus. Kita bukan pemimpin yang memberi warna, kita hanya pengikut yang diwarnai oleh pihak lain. Sungguh memprihatinkan.
            Seorang Jamil Azzaini adalah orang yang menggugah saya untuk menyadari bahwa hidup begitu mulia untuk dilewatkan begitu saja. Hidup adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Hidup adalah sebuah ikhtiar menuju Ridha Tuhan untuk bisa memasuki alam keabadian dengan kebahagiaan sejati.
          Proposal hidup tidak saja berisi rencana karir, rencana usaha, rencana pernikahan dan rencana rumah tangga, tetapi berisi rencana yang lebih holistic, menyeluruh dan pada akhirnya menjadi acuan dalam berdoa dan bekerja.

Tulisakan
Konon, satu penelitian yang dilakukan di Universitas Harvard menyatakan bahwa 3% orang yang diteliti membuat proposal hidupnya secara tertulis, 13% memiliki proposal hidup tetapi tidak ditulis, 84% tidak mempunyai proposal hidup atau dengan kata lain membiarkan hidupnya mengalir.
Beberapa tahun kemudian diteliti kembali bahwa 13% orang tersebut memiliki penghasilan dua kali lipat dibanding 84% orang yang tak memiliki proposal hidup serta 3% orang yang membuat proposal hidupnya secara tertulis memiliki penghasilan sepuluh kali lipat dibanding 97% orang lainnya.
           Mimpi-mimpi harus diubah menjadi cita-cita. Cara sederhana untuk memulai mengubahnya adalah dengan menuliskannya. Tuliskan apa yang anda kehendaki dalam hidup ini. Menjadi apa pada akhir hidup anda nanti. Prestasi apa yang dicapai. dan sebagai apa anda ingin dikenal oleh orang banyak.

                                                                Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »