Mengintip GoJek

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 Januari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan ddengan selalu menyebutkan sumbernya.

            GoJek, adalah sebuah jasa pelayanan Ojek (orang Medan sebut RBT) yang pengelolaan hubungan dengan pelanggannya dilakukan secara online. Ini dia kunci rahasianya. (yang sebenarnya bukan rahasia, karena ini bukan bisnis pertama yang menggunakan cara online).
            Nah, sekarang mari sama-sama kita amati lebih dalam tentang GoJek ini. GoJek melihat sebuah peluang bahwa banyak orang yang membutuhkan jasa transportasi yang cepat dan lincah di kemacetan kota berupa Ojek. Sialnya, ojek sebagai sarana transportasi tidak cukup memiliki jaminan kemanan dalam hal pertanggungjawaban jika ada apa-apa bagi penumpangnya. Tidak tahu kemana menuntut dan tidak tahu kepada siapa minta pertanggung jawaban.

SURVEI
           Mengamati peluang itu, dengan tidak gegabah manejemen GoJek mengambil hasil studi yang meneliti perbandingan antara ojek pangkalan dengan Gojek. Pada survei ini, terjajak pendapat terhadap 4.785 responden dari seluruh Indonesia dengan rincian 52 persen pria dan 48 persen wanita. Survei menemukan 82 persen responden setuju dengan keberadaan Gojek dibandingkan ojek pangkalan biasa.
Survei tersebut menemukan pada empat wilayah yang telah hadir layanan Gojek yaitu Jabodetabek, Bandung, Surabaya dan Makassar, ditemukan respons jauh lebih tinggi dibandingkan area yang mana layanan Gojek belum tersedia.
Menariknya, 68 persen responden pada kota yang belum tersedia layanan ojek online, menginginkan agar ojek online bisa segera hadir di kota mereka. Sedangkan 32 persen responden lainnya mengatakan tak peduli dengan keberadaaan Gojek.
Temuan lain dalam survei ini juga melihat alasan responden mendukung Gojek adalah:
1. Bisa menjemput pada tempat yang sudah ditentukan, saya tidak perlu keluar mencari ojek (74 persen). 2. Harga pas/tidak perlu menawar (70 persen) 3. Pengendara, kendaraan, dan helm yang digunakan memiliki standar tertentu yang membuat saya merasa aman berkendara (57 persen). 4. Tersedia di sekitar tempat saya (45 persen). 5. Layanan sudah termasuk masker dan pelindung kepala lebih higienis (44 persen).

INVESTASI SISTEM
          Jika kita perhatikan, ternyata GoJek tidak seperti penyedia transportasi publik yang lain. Gojek tidak perlu berinvestasi kendaraan dan perlengkapannnya. GoJek tidak menanggung gaji pegawai. GoJek tidak menanggung biaya maintemance kendaraan. Semuanya adalah milik pribadi si pengemudi. Hebat kan?
            GoJek menawarkan 4 (empat) jasa layanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pelanggannya: Instant Courier (Pengantaran Barang), Transport (Jasa Angkutan), Shopping (Belanja) dan Corporate (Kerjasama dengan perusahaan untuk jasa kurir) yang menekankan keunggulan dalam Kecepatan, Inovasi dan Interaksi Sosial.
         Keuntungan GoJek tidak saja dari komisi atas pembayaran penumpang, tetapi akan jauh lebih besar ketika memainkan sistem itu sendiri. Pendapatan dari iklan dan pengelolaan data-base justru jauh lebih besar lagi.

UNGGUL
Go-jek dianggap penting karena menjawab kebutuhan masyarakat. GoJek berbeda karena Go-jek melawan ketidakbiasaan. GoJek menjadi superior karena memiliki layanan jasa yang variatif seperti Personal Shopping dan juga Kurir. Lalu jasa ini ditawarkan dengan dikomunikasikan secara mudah kepada konsumen. Go-jek memimpin karena ia adalah Pelopor dan yang pasti terjangkau.
Sebegitu strategisnya jasa layanan ini, hingga ketika Menteri Perhubungan atas nama undang-undang dan kebaikan-kebaikan lainnya melarang beroperasinya ojek, justru malah Presiden membelanya.
Konsepnya sederhana. Banyak orang yang merasa sangat sanggup membuatnya. Tetapi ingat, bahwa bisnis bukan pekara siapa yang bisa ber-ide, berkonsep atau bermimpi. Bisnis adalah keindahan mengujudkan mimpi-mimpi yang sederhana. Tidak kurang, tidak lebih.

*referensi dari berbagai sumber

                                                Pelatihan & Konsultasi; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »