Bisnis Dari Komunitas Hobby

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tangal 1 Februari 2016, dihalman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

“Mas, sepeda ini dipakai oleh Polisi pada Jaman Penjajahan Belanda”, begitu sahabat saya berkisah tetang sepeda onthel yang sedang kami pandang bersama dengan beberapa penghobi sepeda onthel. Sejenak saya larut dalam angan masa lalu tentang Polisi dan sepeda antik ini.
Menurut mereka, Ada tiga merek yang diproduksi khusus untuk polisi pada jaman itu, yang pertama sepeda dengan merek HIMA yang dipakai oleh Polisi sejak PD II hingga pertengahan tahun 1950 an, kemudian memasuki awal tahun 60 an sepeda yg dipakai untuk inventaris polisi sudah bukan merk hima lagi namun di tambah dengan sepeda merk TEHA buatan belanda  dan yg terakhir adalah sepeda Inggeris merk Phillips .
Salah satu ciri yg selalu ada pada sepeda-sepeda yg dipakai sebagai inventaris maupun dinas bagi anggota kepolisian adalah tulisan POLISI yang diketok khusus pada kerangka sepeda, hal ini agar pihak umum mengetahui dan tidak sembarangan memperjual-belikan sepeda dengan tanda tulisan semacam itu. Dan sudah pasti para penadah atau pembeli akan takut menerima atau membelinya.  Karena berpotensi dituduh mencuri atau jadi penadah aset negara. 
Tak terasa waktu berlalu dan kami masih asik mengobrolkan sepeda-sepeda antik ini. Saya benar-benar terbengong habis ketika mereka dengan fanatiknya menuntut orisinalitas sepeda yang mereka miliki, mulai dari kerangka utama hingga ke jari-jari rodanya. Mereka rela mengeluarkan dana dan waktu demi catatan dan romantisme masa lalu ini.

BUKAN CERITA UANG
Ternyata sangat banyak orang yang tidak menempatkan uang sebagai prioritas pertimbangan ketika ingin membeli sesuatu. Dalam contoh diatas, para pencinta sepeda tua itu membeli sebuah nilai yang menjadi semakin mahal karena faktor waktu.
Jika dilihat dari faktor teknologi, jelas sepeda onthel sangatlah tertinggal dibanding dengan sepeda-sepeda modern yang diciptakan akhir-akhir ini. Tetapi, atas nama nilai yang hanya bisa diapresiasi oleh perasaan, banyak orang yang rela membeli dan menggunakannya.
Dan ternyata, perilaku seperti ini dirasakan pada komunitas-komunitas lain. Bahkan untuk memudahkan dan melampiaskan ketertarikan tersebut, mereka rela berkumpul dan membuat asosiasi atas nama kecintaannya tersebut.
                Saya tuliskan ini untuk sekali lagi menegaskan bahwa diluar sana tetap ada peluang bisnis dengan pasar yang terbuka lebar serta gaya belanja yang tidak menilai sebuah produk karena bahan bakunya, tetapi karena alasan-alasan lain yang berhubungan dengan romantisme perasaan.

BANGUN KOMUNITAS
Bisnis dengan basis hobby biasanya berhubungan dengan mode yang naik dan turun oleh suasana dan waktu. Oleh karenanya untuk menjaga agar bisnis tetap naik dan berkelanjutan, maka perlu ada sebuah strategi untuk menjerat ketertarikan peminatnya secara terus menerus.
Langkah yang paling sederhana adalah membangun komunitasnya. Dengan adanya komunitas sehobby, maka kita akan mudah mengakses mereka. anggota komunitas adalah pasar kita.
Kunci sukses komunitas adalah kegiatan-kegiatan yang melibatkan anggotanya dengan aktif. Keaktifan anggota tidak akan terjadi hanya dengan himbauan. Buat saja kegiatan yang bervariasi dan berkelanjutan.  Kegiatan itu pada dasarnya akan memaksa anggota untuk terlibat aktif. Tanpa mereka sadari akan terjadi dinamisme kelompok.
Ketika kelompok menjadi dimanis, maka anggotanya akan senang beraktifitas dan mereka membutuhkan bisnis kita. disanalah kita akan Berjaya.
Ingat jangan terjebak dalam intrik-intrik perpolitikan kepengurusan, biarkan saja berjalan apa adanya. Yang anda perlu adalah demam hobby yang berkelanjutan. Karena itulah yang akan memberi peluang bisnis yang tiada henti.

                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »