KALAU DANAU TOBA ADA DI MEDAN

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            JIKA saja Danau Toba ada di Medan. Dekat kepada konsumennya. Maka akan banyak pengunjungnya setiap hari. Tak akan sepi sepanjang minggu. Tak harus menunggu hari libur untuk menunggu wisatawan datang.
             Sayangnya bukan itu faktanya. Danau vulkanik terbesar di jagar raya ini terletak 172 KM dari Kota Medan, yang sayangnya masih memerlukan 5 jam perjalanan untuk mencapainya. Benar bahwa hingga kini masih saja ada wisatawan yang datang, tetapi apakah frequensinya cukup sering dan jumlahnya banyak? tentu tidak.
            Saya pernah membuat survey sederhana dengan responden sekitar 350 orang selama 6 bulan pada tahun 2003. Saya bertanya kepada orang Sumut yang datang kesana. Sungguh mengejutkan ketika fakta mayoritas responden menyebutkan kunjungan mereka terakhir adalah rata-rata 8 tahun sebelumnya.
            Responden rata-rata pernah berukunjung ke danau toba sebanyak 3 kali dan 63 % alasan kunjungannya lebih mengagetkan. Mereka berkunjung hanya karena menemani saudara atau tamunya saja, bukan karena memang ingin sengaja datang berlibur ke danau indah ini.
            Artinya, selain frequensinya yang rendah, alasan kedatangan hanya karena menjadi tuan rumah yang menghormati tamunya, bukan pilihannya berlibur.   
            Ketika dianalisa lebih lanjut, alasan kunjungan yang rendah itu, ternyata secara umum berupa infrastruktur dan fasilitas. benar ada beberapa alasan lain, tetapi kali ini mari kita fokus ke 2 poin ini saja. 

INFRASTRUKTUR DAN FASILITAS
            Dalam skala bisnis kecil, akses dan infrastruktur menjadi penting untuk dapat mengundang konsumen. Tanpa akses yang bagus dan mudah, bagaimana mungkin orang tertarik untuk datang?
            Hanya untuk produk yang sudah sangat terkenal saja konsumen mau datang ke gang sempit dan sulit parkir.  Ketika produk anda masih belum terkenal, jangan sok hebat dengan kualitas produk anda. ingat, bahwa mutiara dalam lumpur tetap saja telihat seperti lumpur. Kita sepakat untuk menyebut mutiara ketika sudah bertengger indah di telinga, leher atau jari perempuan.
            Selanjutnya fasilitas. Jangan harap orang mau berlama-lama duduk di lokasi bisnis kita, jika kursinya jelek, reot dan usang. Jangan harap orang mau betah, jika sampah berserakan. Jangan harap orang mau kembali jika tak bersih di kamar mandi. Lalu, jaman ini manusia sangat takut mati internet. Tak cuma takut mati listrik. Artinya, harus ada banyak lubang sumber arus listrik yang dekat dengan tempat duduk dan ada jaringan internet dengan kecepatan tinggi.
           
PANTAI PANDAWA
            Ini bisa menjadi inspirasi bagi kita. kini di Bali ada lokasi wisata baru. namanya PANTAI Pandawa. Pantai ini begitu indah di pesisir selatan dengan pasir putih menghampar. Awalnya pantai ini tidak terjangaku, ia berada di bawah tebing tinggi tanpa jalan. Hingga ketika masyawakat bersatu padu berswadaya membeli tanah tebing itu dan membongkarnya, lalu membuat jalan akses masuk menuju lokasi.
            Kini Pantai Pandawa menjadi pilihan wajib bagi para pelancong yang datang ke Bali. Jalan menuju lokasinya sudah nyaman, indah dan tertata rapih. Sampai tebing di sisi jalan pun di tata degan patung-patung keluarga Pandawa berukuran raksasa.
            Infrastruktur dan fasilitas yang memudahkan ini mengundang banyak pengunjung, hingga perekonomian masyarakat lokal melonjak naik. Lapangan pekerjaan bertambah dan Bali tidak lagi hanya Pantai Kuta.
            Pantai Pandawa menjawab pertanyaan, Siapa duluan, Telur atau Ayamnya?


                                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »