MENANG TAPI KALAH

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 25 Januari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                SUNGGUH sebenarnya kunci manajemen bisnis adalah perkara mengurus manusia. Tanpa mengecilkan faktor modal, dan semua aspek manajemen lain, manusia adalah faktor utama penggerak bisnis. Ada pelanggan, ada bawahan, ada supplier, ada orang bank, ada petugas pemberi ijin, dan masih banyak lagi.
                Manusia-manusia itulah yang menjadi sumberdaya untuk menjalankan bisnis, memelihara dan meningkatkan nilai bisnis kita. Siapapun kita pasti membutuhkan orang lain untuk membantu kita. Tak mungkin kita akan sukses ketika semuanya kita kerjakan sendiri.
                Di sisi lain, mereka adalah manusia yang memiliki perasaan dan pikiran seperti layaknya kita. Artinya, memenangkan pikiran dan perasaan mereka untuk dapat mendukung kita adalah strategi penting yang kita lakukan.
                Membangun sebuah fisik bangunan bisnis, misal toko atau kantor, relatif hanya butuh uang. Dalam waktu sekejap bisa berdiri dengan megah. Tetapi, menjalankan bisnis itu, jelas memerlukan manusia dan diperlukan seni dalam mengelola sumber daya manusia tersebut.

BERSELISIH
                Tulisan saya kali ini akan membahas penting dan tidaknya kita harus berselisih dengan orang lain. Yang harus dipahami bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan secara natural tejadi. Bahkan kita sebagai individu juga tercipta dengan perbedaan yang sangat besar. Tiada dari kita yang sama persis walaupun kita terlahir sebagai kembar.
                Artinya, beda pikiran, pendapat dan pandangan adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Oleh karenanya, potensi perbedaan menuju perselisihan akan selalu ada dan terbuka lebar. Sementara disisi yang lain, kita masing-masing memiliki ego yang kadang sulit kita kendalikan. Kita dengan ego kita, sering merasa bahwa kitalah pemilik atau pusat kebenaran universal. Artinya, kita selalu terpicu untuk merasa dan menggap serta berfikir bahwa kitalah yang paling benar.
                Ketika dua orang berselisih dan masing-masing merasa benar, kuncinya adalah keberanian bersikap atas perbedaan itu. Yang membuat situasi menjadi sulit adalah ketika masing-masing pihak memaksa pihak lain untuk mengakui dan tuntuk kepada kebenaran pihaknya.
                Perselisihan itu terjadi ketika ego dan harga diri merasa harus ditinggikan, dengan menurunkan atau merendahkan ego dan harga diri lawannya.

MENANG
Pernah seorang sahabat yang mengirimkan pesan ini ke saya;

                Kalau berselisih dengan pelanggan, walaupun kita menang, Pelanggan tetap akan lari.
Kalau berselisih dengan rekan sekerja, walaupun kita menang, Tiada lagi semangat bekerja dalam tim.
Kalau kita berselisih dengan boss, walaupun kita menang, Tiada lagi masa depan di tempat itu.
Kalau kita berselisih dengan keluarga, walaupun kita menang, Hubungan kekeluargaan akan renggang.
Kalau kita berselisih dengan guru, walaupun kita menang, keberkahan menuntut ilmu dan kemesraan itu akan hilang.
Kalau berselisih dengan teman, walaupun kita menang, yang pasti kita akan kekurangan teman.
Kalau berselisih dengan pasangan, walaupun kita menang, perasaan sayang pasti akan berkurang.

Jika kita relakan diri berhening merenung sejenak, sesunggunya ketika kita berselisih , Walaupun menang, sejatinya kita tetap kalah. Yang terasa menang, hanya ego diri sendiri. Yang terlihat tinggi dan naik hanyalah emosi.
                Pertanyaan yang harus selalu kita tanyakan ketika berselisih adalah, “Lebih penting apa; menang atau hubungan baik?” apalah arti menang dalam perselisihan jika kalah dalam hubungan baik?
Salah satu tipsnya, apabila menerima teguran, tidak usah terus melenting atau berkelit, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita. cara pandang awal inilah yang akan menyelamatkan pikiran kita berikutnya.


Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »