(TAK HARUS) SEPERTI BALI DAN JOGJA


Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal15 Februari 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

Contohlah Bali dan Jogja, orangnya ramah-ramah, santun, bicaranya lembut, melayani dengan sepenuh hati dan tidak kasar. Begitu yang sering saya dengar dari para pengamat kepariwisataan amatir yang baru sekali-dua kali berkunjung ke Bali atau Jogja dan membadingkannya dengan kepariwisataan Sumatera.
                Dalam kacamata kebanyakan pakar amatir itu, Bali dan Jogja adalah kiblat kesempurnaan destinasi Wisata. Saya tidak menyanggahnya. Insfrastruktur, kebijakan publik dan kesadaran masyarakat akan pentingnya wisatawan sebagai sumber penghasilan warga, kesemuanya tertata dengan baik dan relatif tiada cacat.
                Bali dan Jogja sudah menikmati proses travel (perjalanan) yang menstimulasi tumbuhnya trading (perdagagan) hingga mencipatakan investment (investasi). Dalam skala yang besar, industri pariwisata ini memberikan pendapatan yang baik kepada masyarakat secara langsung.
                Tetapi, mari kita analisa, apakah kita harus mengubah diri harus persis seperti orang Bali dan Jogja?

APA ADANYA
               Paris sebagai destinasi pariwisata yang tingkat kunjungan wisatanya menduduki kelompok peringkat tertinggi di dunia memiliki fakta-fakta menarik yang sepertinya berlawanan dengan konsep pelayanan yang banyak orang pikirkan.
            Di kota Paris, jumlah pencopet sangat banyak. Kasus pencopetan terhadap pelancong sangat tinggi. Hampir semua pemandu Wisata, selalu mengingatkan hal ini kepada rombongan tour yang dibawanya sebelum memasuki kota dan turun dari bus wisatanya. Konon bahkan pernah Karyawan Museum Louvre, Paris, sempat mogok kerja dan demo akibat ulah para pencopet yang sudah keterlaluan.
              Pencopetan dengan jumlah terbayak (CNN Indonesia) di destinasi Wisata juga terjadi di Barcelona, Roma, Praha, Madrid  dan Florence-italia. Dan fakta ini sudah menjadi rahasia umum. Tetapi orang-orang dari seluruh penjuru dunia masih saja tetap ingin berkunjung ke tempat-tempat indah itu.
               Johannesburg di Afrika Selatan termasuk daerah paling tinggi kriminalitasnya, tetapi orang-orang masih tetap mau mengunjunginya. Daerah Bronx di New York, hingga kini tidak pernah sepi dengan wisatawan yang ingin melihat sensasinya.
              Nepal yang serba kekurangan, masih juga hidup dari pariwisata. Bahkan di Asmat – Papua, tak sejengkal pun ada jalan aspal, tetap saja orang mau mengunjunginya.
             Artinya, kita jual saja Sumatera ini apa adanya. Tak harus malu dengan karakter daerah yang kita miliki. Biar saja kita bicara dengan keras dan nada tegas. Biar saja kita jadi diri sendiri. orang akan tetap menghormati kita apa adanya.
         Kalau orang-orang Seputar Danau Toba dan Sumatera dibuat persis Bali dan Jogja, artinya Sumatera hanya produk contekan, bukan asli. Pertanyaanya adalah, apa alasan orang harus datang ke tempat yang tidak asli? Kalau ada yang asli, mengapa harus datang ke tempat yang palsu?

BELAJAR
             Ada yang mungkin bisa kita contoh dari orang-orang Bali dan Jogja, yaitu sikapnya terhadap kepariwisataan. Mereka sudah bisa menemukan kesadaran bahwa pengunjung adalah tamu yang dari kantong mereka akan mengalir rejeki untuk masyarakat lokal. Karenanya mereka menghormati tamu dengan kelayakan seorang tuan rumah.
Yang kedua adalah kreatifitasnya. Mereka mencoba untuk tidak menjadi pengekor. Mereka dengan kreatf menciptakan berbagai variasi untuk menunjang bisnisnya. Mulai dari konsep akomodasi, interior dan exteriornya, makanan, souvenir, pertunjukan hingga tranportasinya.
Yang ketiga, secara kolektif masyarakat mampu mengarahkan pemerintah utuk lebih bersungguh mendukung infrastruktur dan kebijakan kepariwisataannya. Bukan saja pemerintah daerah, tetapi juga pemerintah pusat, hingga tidak heran jika banyak praktisi kepariwisataan Sumatera mengkritisi pemerintah pusat yang terkesan selalu Bali-centris.

                                                                     Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »