KELEDAI TUA DAN SUMUR TUA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 28 Maret 2016, dihalman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            Dikisahkan seekor keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sebuah sumur tua. Sementara si petani, sang pemilik keledai, memikirkan apa yang harus dilakukannya. Menyadari bahwa hewan itu sudah tua dan sumur tua itu pun perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi ia berpikir tidak ada gunanya menolong si keledai. Kemudian ia mengajak tetangganya untuk membantunya menimbun sumur tua itu. Merekapun membawa sekop dan cangkul dan mulai menimbunkan tanah ke dalam sumur.
            Ketika keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Namun kemudian ia menjadi mendadak diam. Si keledai berhasil melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya hingga tanah yang menimpa punggungnya jatuh lalu ia menginjak-injak tanah itu. Begitu seterusnya, hingga tanah timbunan itu hampir memehuhi sumur tua itu dan kemudian melompatah si keledai tua itu.
            Saya tidak tahu secara pasti dari mana asal kisah ini, tetapi saya pikir kisah ini sangat cocok dengan beberapa pertanyaan tentang bagaimana mengurus perusahaan yang sudah tua dan relatif tidak menguntungkan lagi.
            Banyak perusahaan yang dahulu jaya, kini menjadi kalah dalam persaingan sehingga terseok-seok untuk bisa bertahan.

MATI SEBELUM MATI
            Beberapa kasus yang saya temui selama perjalanan karir saya, adalah sikap manajemen yang merasa sudah tidak berdaya dan kalah bersaing sebelum mencobanya. Mereka kalah sebelum perang.
            Sikap ini selalu terjadi karena prasangka dan teknik mengira-ira oleh pihak manajemen yang tidak cukup dilengkapi dengan motivasi yang handal. Manajemen yang rapuh ini terjadi karena mereka salah menilai pesaing. Belum lagi ditambah rasa frustrasi atas kekurangan-kekurangan yang dialami atau terjadi di dalam internal perusahaannya.
            Jika kembali ke kisah keledai diatas, kita bisa simpulkan bahwa dalam hitungan diatas kertas, si keledai mestinya sudah mati. Sudah Tua dan tiada diharap lagi oleh pemiliknya. Bisa jadi si pemilik dan si keledai sama-sama sepakat bahwa sudah tiada lagi yang bisa diharapkan. Dan sikap inilah yang saya sebut dengan Mati sebelum Mati yang sebenarnya.

MAN BEHIND THE GUN
            Rahasia sukses dan gagalnya sebuah manajemen salah satunya yang paling penting adalah unsur manusianya. Membuat produk sangat mudah karena relatif hanya berhubungan dengan modal keuangan saja. Sebutlah membuat sebuah hotel. Dengan modal uang, dalam waktu singkat bisa berdiri. Tetapi begitu produk tercipta, untuk menjaga, mempertahankan dan meningkatkannya, hanya manusia yang bisa melakukannya.
            Termasuk dalam hal bersaing. Harus diingat, bahwa sarana fisik/produk fisik hanyalah salah satu unsur saja, selebihnya tergantung manusianya. Artinya, jika seseorang merasa takut karena fasilitas fisik pesaingnya lebih unggul, sejatinya itu bukan sikap yang positif.
            Yang harus diwaspadai adalah siapa, orang-orang yang akan mengelola sarana fisik tersebut. Kenalilah orang-orang yang menjadi pesaing kita. Kenali karakternya, karena semua strategi dikemudian hari akan muncul dari kepala mereka.
            Artinya, sikap positif adalah kunci sukses menghadapi semua krisis. Jangan pernah gagalkan diri sendiri dengan prasangka dan cara berfikir yang bisa menggerus rasa percaya diri.
            Teruslah bergerak. Karena diam dan statis akan mengubur diri sendiri. Pergerakan itu hanya terjadi ketika keyakinan dan harapan terus dikobarkan. Kobarannya sangat tergantung dari cara berfikir dan bersikap. Mati dan hidup itu urusan Tuhan, urusan kita hanyalah berusaha tanpa menyerah.


                                                           Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »