PEMERKOSAAN DI DANAU TOBA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 7 Maret 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            “TUBUH mulus dan indah itu kini sudah mulai terluka. Keperawanannya terkoyak dengan kasar dan menyakitkan. Sungguh para pemerkosa itu tiada bernurani”, begitu kata seorang wisatawan dari Eropa yang berkomentar tentang Danau Toba suatu ketika dalam sebuah event kepariwisataan.
             Tindak pemerkosaan yang dia maksudkan adalah betapa semena-mena para pengusaha dan penduduknya yang asal saja membangun rumah, kedai dan hotel tanpa mempertimbangkan faktor ekologis dan lingkungannya.
            Kini, banyak sekali bangunan tembok yang tanpa pikir panjang begitu saja didirikan di seputaran Danau Toba tanpa pertimbangan estetika sama sekali. Bangunan beton itu berbentuk kubus, mendadak muncul secara mencolok mata diantara keindahan alam Danau Toba. Sangat tidak serasi dengan alam sekitarnya.
             Berlawanan dengan niat utama untuk menjual keindahan Danau Toba, bangunan-bangunan itu menohok penglihatan dan merusak tema alam disekitarnya.

MEMINDAHKAN KOTA KE TOBA
            Tulisan ini saya dedikasikan kepada para pengusaha dan masyarakat seputaran Danau Toba. Mereka pendiri bangunan yang hanya berfikir membuat kamar dan ruangan. Itu saja. Mereka dengan kasar memindahkan bangunan kota ke Toba yang natural keindahannya.
            Keindahan tata bangunan yang semestinya didesign dengan tema natural, sama sekali tidak dipertimbangkan. Tiada kesadaran bahwa turis datang ke lokasi yang menjual keindahan alam karena mereka sudah bosan dengan tembok. Tiap hari, dia tempat asal wisatawan ini, mereka dibatasi tembok sempit dan kaku mulai dari rumah, sekolah, kantor, ruang rapat, pusat latih kebugaran, rumah sakit, terminal, airport hingga pusat perbelanjaan yang sering dikunjunginya.  Semuanya tembok, kotak dan kaku.
            Apakah mereka akan datang lagi ke Toba jika mereka hanya menemukan tembok lain yang sedang ingin mereka hindari?

SELARAS
            Design tata bangunan yang selaras dengan alam sekitar mestinya menjadi pertimbangan dasar ketika akan membangun sarana akomodasi di Danau Toba.
            Yang sama maksud dengan keselarasan adalah dimulai dengan pemilihan tema yang tepat. Apakah bertema air atau gunung. Lalu buat rancang bangun yang menyesuaikan dengan kontur tanah yang ada, bukan dengan main asal rata dengan traktor. Bahkan sangat baik jika bangunan itu tiada menebang pohon yang ada. Dengan mempertahankan pepohonan itu, maka keindahannya justru akan semakin sempurna.
            Hotel di daerah resort tidak indah jika berbentuk rata seperti ruko berjajar. Kini banyak sekali arsitek yang sanggup melakukan perencanaan design resort yang indah dan selaras dengan lingkunganya.
            Begitu selarasnya, sehingga dari luar atau dari jauh, bangunan-bangunan itu telihat menyatu dengan alam sekitarnya, tidak merusak mata tetapi malah menciptakan keindahan baru.
            Ketika memasuki ruang-ruang didalamnya, pengunjung disajikan tata design interior yang alami dan segar. Tidak bergantung kepada mesin pendingin ruangan dan yang paling penting adalah perasaan bahwa tamu tidak diblok oleh tembok yang kaku dan tidak indah.
            Satu contoh, mandi di kamar mandi dengan tembok rapat mungkin sudah biasa, tetapi mandi di kamar mandi yang di design seperti di pancuran alam bebas pasti berkesan lain. Design cerdas ini memastikan terjaganya privasi yang mandi tetapi dari dalam bisa dengan bebas melihat luas alam disekitarnya.
            Saya sudah berkomentar deretan kedai-kedai yang menutup akses pemdangan ke arah air danau, Padahal orang datang mau melihat danau.
            Cobalah berikan Danau Toba yang sebenarnya, bukan pemaksaan bangunan yang merusak keindahannya.


                                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »