IKAN SALE BORU REGAR

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 18 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

            ADALAH dua orang lelaki bermarga Harahap. Lelaki pertama adalah Harahap original asli lahir di Gunung Tua, ia menikahi seorang perempuan jawa yang kemudian diberi marga Siregar. Lelaki yang kedua adalah keturunan Jawa yang memperistri Boru Siregar dari Sipirok hingga ia diberi marga Harahap.
            Mereka berdua bersahabat dan pada sebuah obrolan mereka bercerita tentang bisnis mereka, kuliner khas dari kampungnya. Ia menjual Ikan Sale. Makanan khas Tapanuli Selatan.
            Ide bisnis ini terbuka ketika mendapati fakta bahwa di Kota Medan dengan jumlah penduduk asal Tapsel yang cukup banyak tetapi yang menjual makanan khas Tapsel sangat sedikit. Sudah begitu, harga jualnya cukup mahal, Padahal harga modalnya cukup terjangkau.
            Si Harahap Original punya jaringan bagus terhadap para pemasok ikan keras khas Tapsel ini. Ia juga paham bagaimana orang Tapsel mengolahnya. Istri si Harahap KW yang asli Siregar ini sangat paham cara membuat masakan khas tapsel yang bisa menjadi pelengkap untuk menyantaop ikan sale tersebut. Lalu terjadilah kolaborasi antar Harahap dan Siregar ini.

BORU REGAR
            Singkat cerita, jadilah gerai makanan khas Tapsel ini dengan nama Ikan Sale Boru Regar. Pemilihan nama tersebut, bukan saja karena istri mereka bermarga Siregar, tetapi karena nama tersebut memberikan penjelasan asal makanan tersebut.
            Jika kemudian ada penjelasan dibawah merek itu sederet kata “Asli Gunung Tua”, itu karena si Harahap original memang berasal dari sana. Dan diyakini, nama Boru Regar dan Gunung Tua memiliki nilai magis yang sanggup meyakinkan pembeli untuk datang dan menyantap produk mereka.

TAKE OUT
            Konsep bisnis yang dikembangkan oleh kedua Harahap adalah tidak menggunakan ruko atau dalam bentuk restoran, tetapi menggunakan gerobak dan dibuka di areal kaki lima. Tulisan merek dibuat dengan kombinasi warna yang mencolok dan dengan ilustrasi gambar yang mengundang cita rasa lezat.
            Sengaja mereka membatasi jumlah kursi dan meja sehingga membuat pembeli lebih memilih untuk dibungkus dan dibawa pulang. Dengan cara bungkus ini, mereka menghemat biaya dan tenaga pencucian piring. Mereka juga menghemat jumlah pelayan. Karena rata-rata pembeli hanya bertahan selama proses pembungkusan saja.
            Dalam perhitungan mereka, menjual dengan dibungkus lebih efisien dan harga jual bisa dibuat lebih murah lagi. Dengan harga yang murah, pembeli jadi lebih banyak.

CABANG
            Mereka menyadari bahwa, jumlah penduduk medan sangat banyak dan tersebar luas. Oleh karenanya mereka membuka di 4 lokasi yang berbeda. Dalam perhitungan mereka, satu gerai sanggup memberikan keuntungan sebanyak Rp.40 juta per bulan, sehingga dengan 4 gerai mereka bisa mendapatkan Rp. 160 juta bersih setiap bulannya. Itu sama dengan Rp.1,920 milyard bersih setiap tahunnya. Sebuah angka yang fantastis.
            Harahap KW menyebutkan bahwa mereka tiap tahun ingin pergi umroh. Saya jadi merasa iri.

BERANI
            Terpana saya mendengar cerita mereka. Lengkap, detail dan penuh optimisme. Tapi saya menjadi terkejut ketika saya bertanya, dimana saya bisa membeli makanan itu. Jawaban mereka, “Ini masih rencana bang”. Lalu saya bertanya, Sudah berapa lama direncanakan, Jawab mereka, “Itulah bang, sudah lama sih”, sambil saling pandang seperti saling menyalahkan.
            Semoga kedua Harahap ini segera berani memulai impiannya. Betapa impian indah tak akan menjadi kenyataan jika tidak segera dilakoni. Dan banyak orang yang seperti mereka.


                                                                        Kosultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »