ROMANSA BUNGA TROTOAR DI DEPAN KAMPUS USU (Kompetisi dalam kelompok)

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 4 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            JALAN Dr. Mansur di depan kampus Universitas Sumatera Utara adalah salah satu titik pusat transaksi jalanan yang terlihat sederhana tetapi seru. Jika pihak pemelihara ketertiban umum sedang tidak rajin melakukan razia, maka berkumpulah para “Bunga Trotoar”. Mereka adalah para penjual Batagor, Es Durian, Stiker Potong dan Pulsa internet.
            Pulsa internet apapun ada dijual di sana. Ada produk dari si Merah, si Kuning, si Ungu dan banyak lagi. Mereka berjualan dalam mobil. Dulu, ketika pertama mulai, saya lihat mobil yang mangkal benar-benar mobil yang menarik perhatian dan mewah dan mahal. Kini, mobil butut yang sudah malas hidup pun tetap dipakai.
            Toko berjalan berikutnya juga menggunakan roda tetapi tidak menggunakan tenaga mesin. Mereka menggunakan gerobak dengan sepeda untuk menggerakkannya. Mereka adalah para penjual Batagor dan Es Durian.
           Toko berjalan berikutnya adalah pedagang stiker tempel. Mereka menggunakan sepeda motor yang lebih lincah dan menggunakan tali-tali antar pohon untuk memajang dagangannya. Kelompok ini termasuk kelompok terlama dan berkumpul di zona yang sama sejak lama.
           
Berkelompok
            Tanpa bermaksud menggalang kekuatan kolektif, para ‘bunga trotoar’ ini datang satu per satu dan akhirnya terlihat seperti sebuah kelompok besar. Efek kelompok besar ini adalah pemahaman publik bahwa disanalah ada produk-produk tersebut.
            Jika masyarakat ingin batagor, es durian, stiker potong dan pula internet, mereka akan pergi ke Jalan Dr. Mansur tersebut. Para pembeli bahkan tidak perlu repot cari parkir atau bahkan turun dari kendaraannya. Cukup mendekat, panggil penjual dan tunggu lalu bayar. Sederhana sekali.
            Tanpa mereka sadari, berjualan berkelompok adalah salah satu cara strategi pemsaran jitu ‘yang tak disengaja’. Pembeli tahu kemana mereka harus pergi dan pembeli tidak khawatir jika yang mereka inginkan tidak tersedia di salah satu penjual, karena masih banyak lagi penjual yang lain. Pembeli bebas memilih dengan jaminan akan terpenuhi kebutuhannya.

SERAGAM VS KOMPETISI
            Dalam kondisi tertentu, seragam akan menghasilkan keindahan. Tetapi keindahan bukan satu-satunya komponen penting dalam pemasaran. Keseragaman yang dibuat para pedagang ini sepertinya sudah menjadi bumerang.
            Sebutlah pedagang Es Durian dan Batagor. Mereka menggunakan spanduk merek yang relatif sama, baik ukuran, warna dan jenis hurufnya. Anda bisa keliru memesan es durian kepada penjual batagor.
            Keseragaman ini menuai curiga. Apakah ini milik satu orang keseluruhannya? atau pedagang ini hanya menjualkan saja produk milik satu orang? atau para pedagang ini benar-benar tidak kreatif, sehingga semua spanduknya sama.
            Tanda tanya itu akan mengantarkan rasa tidak percara dalam pikiran pembeli. Dan rasa tidak percaya itu sangat berbahaya.

OVER MESAGE
            Produk yang dijual oleh pedagang pulsa jumlahnya sangat banyak. Paket-paket promosinya juga tidak tunggal. Akhirnya mereka menuliskan semua harga dan paket tersebut. Karena medianya terbatas, terpaksa mereka menuliskannya dengan huruf kecil.
            Apakah huruf kecil akan mengundang orang yang lalu untuk singgah? Tentu tidak, akhirnya, orang singgah hanya karena faktor arus lalu lintas. Jika mungkin mereka baru singgah.
            Pesan yang terlalu banyak dan tidak fokus, tidak akan mengundang orang. Tetapi pesan yang tidak tertulis seperti para pedagang stiker juga menyulitkan pembeli. Mereka mengandalkan tanya jawab dan pembeli takut jika terjebak dalam harga yang terlalu mahal dan merasa tertipu.


                                                            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »