“Beri Kacang, Dapatkan Monyet”

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 9 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
                INI cerita tentang kesungguhan. Ini cerita tentang fakta kehidupan. Ini cerita tentang realita bisnis. Jikapun ada yang berbeda, itu pengecualian yang sangat jarang. Dan saya mengingatkan agar Anda tidak usah bermimpi atas pengecualian itu.
               Filosofi “Jika anda memberi kacang maka anda akan mendapatkan monyet” ini sering disebutkan kepada pengusaha atau pimpinan yang jika hanya mau memberi gaji kecil, maka yang didapat adalah pekerja kelas (maaf) ‘monyet’.
                Tetapi sebenarnya, filosofi ini berlaku juga untuk sisi yang lain. Ini sesunggunya perkara keseriusan. Sebutlah jika anda dalam posisi sebagai pekerja dan anda hanya mengkontribusikan kemampuan dan potensi anda hanya sekelas ‘kacang’, sudah pasti anda hanya akan mendapatkan benefit sekelas ‘monyet’.

BERSUNGGUH
                Tidak saja pada hubungan atasan dan bawahan, pemberi dan penerima kerja; kebersungguhan ini juga berlaku dalam hal investasi. 
                 Sebutlah anda ingin jualan makanan, anda bisa saja membuat kedai di kaki lima, dengan piring plastik murahan atau daun pisang dan dengan pekerja yang tidak terlatih. Tentu ini  pilihan yang tiada salahnya.
                Tetapi anda bisa bayangkan jika anda memiliki kesempatan untuk lebih bersungguh mendapatkan lokasi yang strategis, bagus dan bergengsi. Lalu anda lengkapi perlengkapan makan anda dengan baik ditambah pekerja-pekerja yang terlatih. Pasti besaran potensi anda untuk mendapatkan yang lebih baik akan lebih besar.

UMPAN
                Sepertinya tidak ada memancing yang tanpa umpan – jika ada mungkin hanya di film kungfu Saolin--. Artinya, umpan adalah keharusan untuk dapat yang lebih besar. Disinilah kita harus bersungguh. Besaran umpan mempengaruhi besaran yang ditangkap. Jika umpan anda sebesar kelingking, mungkin ikan yang anda dapat adalah sebesar jempol. Jika umpan anda sebesar jempol, maka ikan yang akan anda tangkap mungkin sebesar kepalan tangan.
                Besaran umpan seperti besaran keseriusan anda dalam mengerjakan sesuatu termasuk bisnis. Terlalu banyak orang yang menjadi korban atas teori ekonomi dimana kondisi yang ideal adalah menggunakan modal sekecilnya dan mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.
                Teori itu tidaklah salah, tetapi para pemula biasanya salah menafsirkannya. Untuk pemula, tiada yang pantas kecuali kesungguhan yang sebenarnya. Penuh keringat, penuh resiko, penuh tantangan. Konsentrasi yang besar dalam memulai usaha dan lewat 2 tahun anda baru bisa dibilang sukses untuk tahap permulaan.
                Ketika anda sudah memasuki dunia bisnis jalur cepat, dimana anda sudah teruji dan berpengalaman dengan modal cukup, benar anda akan lebih mudah mendapatkan uang, tetapi umpan selalu menjadi komponen yang harus ada.
                Lihatlah, berapa banyak kedai kopi yang menjual kopi dengan harga Rp.20.000,- tetapi investasinya bisa bermilyaran rupiah. Ini karena uang bekerja untuk uang. Dan umpan yang diinvestasikan akan menghasilkan lebih banyak daripada kedai kopi yang menjual kopi dengan harga sama tetapi investasinya Rp.5 juta saja.
             Yang perlu diingat, umpan adalah bagian yang harus direlakan untuk hilang. Kadang beruntung mendapatkan yang kita pancing atau lepas ditengah jalan.

MONYET
                Bisa jadi anda memberi daging, tapi bisa jadi anda mendapat monyet yang berpenampilan seperti harimau. Waspadalah, saya sendiri sudah beberapa kali terjebak dalam permainan topeng monyet ini.
                Lagi-lagi kita perlu pengalaman yang sesungguhnya, karena lapangan yang kita hadapi bisa saja tiada dibahas dikelas kita sekolah dulu.
                Sering-seringlah ‘memancing’, maka anda akan berpengalaman memberikan umpan dan hasil yang anda kehendaki.


Konsultasi dan Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »