Oh No… Oh Yes…

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 25 April 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutan sumbernya.
           
Sekali waktu ada pertanyaan dari seorang dosen di sebuah universitas unggulan. Dia mengajar di Fakultas Ekonomi dan Sang dosen bertanya kepada saya tentang cara yang efektif untuk mencapai kemerdekaan keuangan. Ia merasa bahwa pendapatannya sebagai pekerja (dosen) kurang cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya. Bahkan untuk melanjutkan kuliah di program S-3 baginya juga terasa berat.
            Sebelum saya menjawab, saya tanya, apakah benar sang dosen ingin kaya. Jawabnya dengan tegas “Iya dong”. Lalu saya tanya, selain menjadi pekerja, apakah ada potensi pintu-pintu lain untuk membuka rejekinya. Sang dosen menjawab, “Ya buat bisnis”.
           Saya pikir sang dosen sudah sangat mengerti dan hafal tentang teori untuk mencapai kemerdekaan keuangan, yaitu berbisnis. Yang jadi pertanyaan lanjutannya adalah bentuk bisnis apa yang cocok baginya dan dengan modal sebesar apa hingga resiko apa yang harus ditanggungnya.

LUMBUNG PADI
            Lingkungan sang dosen sangat bagus untuk  berbisnis. Yang pertama, dikampusnya ada ribuan orang mahasiswa ditambah ratusan orang dosen dan pegawai lainnya. Jumlah pasar yang besar.
           Yang kedua, uang kuliah dikampus sang dosen termasuk yang paling mahal diantara unversitas lain di kota itu. Artinya, ribuan orang mahasiswa itu memiliki daya bayar/daya beli yang relatif lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa di kampus lainnya.
           Yang ketiga, sang dosen menjabat posisi sebagai penggiat kewirausahaan mahasiswa. Artinya, jika sang dosen berbisnis di kampus, bisa dianggap itu sebagai bagian dari upaya mengemban amanah jabatan itu.
            Yang keempat, karena jabatannya, sang dosen difasilitasi sebuah areal untuk dijadikan toko dan areal bisnis di kampusnya dengan lokasi yang strategis. Artinya, jika sang dosen ingin berbisnis, setidaknya ada tempat untuk menumpang di kampus tersebut.
            Yang kelima, sang dosen memiliki beberapa pekerja yang diperbantukan untuk membangun program kewirausahaan tersebut, ditambah banyak mahasiswa yang memang berniat dan berminat untuk belajar bisnis. Artinya, sang dosen memiliki sumberdaya manusia yang bisa dilibatkan dalam bisnis yang ia kehendaki.
          Kelima fakta diatas saya gambarkan seperti lumbung padi yang tiada akan habis jika dimakan oleh orang satu kampung.

PENDUKUNG
            Ketika obrolan berlangsung, berkembang potensi dan peluang bisnis bagus. Yang pertama, ada ide dari salah seorang rekan sang dosen tentang potensi bisnis T-Shirt. Ia memiliki rekanan konveksi pembuat kaos dengan harga murah dan kualitas yang terjangkau. Bahkan rekanan tersebut memiliki divisi design. Rekan sang dosen menawarkan bantuan untuk menghubungkan
          Yang kedua, sang dosen merasa belum cukup memiliki modal. Lalu rekan sang dosen menawarkan patungan sehingga mengurangi beban.
            Yang ketiga, sang dosen memiliki ribuan kontak di jaringan media sosialnya yang selalu aktif berkomunikasi dengannya. Artinya, sang dosen sudah memiliki sarana promosi yang sangat tepat.
          Yang keempat, status-status di media sosial sang dosen lumayan bagus untuk dijadikan tema kaos yang akan diperdagangkan.

PLIN-PLAN
            Fakta-fakta diatas sangat menjanjikan. Sayangnya sang dosen plin-plan. Sebelah hati ingin bisnis dan sebelah lainnya takut memulai. Sampai pada saat ditantang untuk segera mulai, sang dosen memilih untuk pikir-pikir. Sebuah sikap yang sulit diikuti, tidak ada keyakinan dan tak punya pendirian. Pemilik sikap ini sulit untuk ditolong.
            Bukti nyata bahwa bisnis bukan sekadar modal. Ternyata benar ada tikus mati kelaparan di lumbung padi.


                                                                    Konsultasi & pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »