BEDA LUKISAN DI DINDING RUMAH SI KAYA DAN SI MISKIN

Artikel ini sudah diterbitan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 20 Juni 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

            LIHATLAH, bahwa banyak tema lukisan yang menjadi hiasan dinding di rumah-rumah mewah milik orang kaya adalah gambaran potret tentang kemiskinan, kesederhanaan dan cederung tradisinonal dan urban.
            Pada tema itu terpotret kehidupan kampung nelayan sangat sederhana, petani, penari tradisional atau pasar tradisional. Lukisan itu terlihat artistik karena lumrah, original, tanpa basa-basi dan tradisional.
            Lukisan gambar yang sederhana itu menjadi indah karena berada di gedung mewah dan bisakah anda bayangkan, jika lukisan yang serupa itu ditempatkan dibangunan kumuh atau sederhana seperti yang terlihat dalam lukisan itu.
            Pengalaman saya mengunjungi masyarakat urban dan sub urban justru kebalikannya. Mereka sebagai orang yang menjalani kehidupan nyata seperti dalam lukisan di dinding gedung mewah itu justru tidak memasang lukisan yang demikian, mereka memasang lukisan atau foto-foto yang menggambarkan kesempurnaan hidup yang tiada mereka miliki.
            Mereka memasang gambar mobil-mobil modern, mahal dan mewah. Mereka memasang foto-foto artis-artis ganteng dan cantik. Mereka memasang gambar atau foto yang menjadi impiannya.
            Kedua jenis lukisan diatas adalah refleksi rindu akan kehidupan impian dari si miskin dan pembanding bagi si kaya. Masing-masing terobsesi dengan pendekatan yang berbeda. Si miskin berharap agar segera menjadi kaya dan si kaya lebih menonjolkan kekayaannya ketika melihat fakta-fakta bahwa mereka lebih beruntung daripada yang didalam lukisan itu.

PANGSA PASAR
            Dalam dunia bisnis, ilustrasi lukisan diatas bisa menjadi pertimbangan ketika akan menentukan pola dan tampilan produk yang akan dipasarkan. Siapa pangsa pasar yang ingin anda tuju? Apakah si benar-benar kaya atau yang daya belinya relatif lebih kecil.
            Sebutlah anda akan berbisnis yang lokasi bisnis anda harus dikunjungi oleh pembeli, sebutlah restoran, toko dan lainnya. Jika pasar anda adalah dari kalangan menengah kebawah, cobalah tampil dengan mengujudkan impian mereka. Mulailah dengan setting lokasi dan interior yang menggambarkan kehidupan yang layak dan sempurna, modern dan mapan. Jadikan lokasi usaha anda menjadi hiburan dan bentuk realisasi atas impian-impian pasar anda.
            Demikian juga untuk lokasi dan sasaran dari kalangan menengah keatas, bayangkan bahwa pasar anda ini sudah hidup dengan mapan. Artinya, kita harus set anti kemapanan. Bentuknya bisa jadi dengan penggunaan unsur daur ulang. Bahan daur ulang di gedung mahal akan terkesan antik dan nyeni.
Yang jadi kebalikannya adalah ketika orang membuat café di pinggiran kota dengan tampilan yang merefleksikan kesederhanaan, mulai dari bahan dan perkakas yang dibuat dari bahan daur ulang dan atap rumbia, sangat tidak pas.

APLIKASI
            Semua pola tentang kaya dan miskin ini harus diterapkan dalam berbagai bentuk aplikasi, mulai dari nama produk, jenis produk, hingga tokoh yang digunakan.
            Untuk pasar menengah kebawah, pilihlah nama-nama produk yang terkesan asing, berkelas dan mahal, lalu jenis produk yang melambangkan kemapanan dan jika menggunakan tokoh untuk iklan, gunakanlah artis yang melambangkan kemampanan itu sendiri.
            Untuk pasar menengah keatas, pilihan produk klasik, berkelas karena kualitas dan lambang-lambang kemapanan. Mereka sudah sangat mengerti merek-merek kelas dunia yang sudah terkenal lama. Tokoh-tokoh yang digunakan adalah mereka yang menggambarkan keadaan yang diatas kebiasaan, misalnya petualang alam liar, ekspedisi khusus, tokoh pemenang penghargaan tinggi seperti pemenang nobel dll.
            Apapun pasar anda, pasti mereka memiliki impian-impian, penuhi saja impiannya maka produk anda akan mudah diterima.

Konsultai & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »