Bernegosiasi Dengan Bantuan Tuhan

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 13 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkannya dengan selalu menyebutkan sumbernya

BERKALI-kali saya menggunakan jasa taksi di kota yang tidak saya kuasai jalur lalulintasnya. Tiap naik taksi, saya kadang merasa seperti pengalaman banyak orang, dimana kadang-kadang ada perilaku sopir taksi yang kurang terpuji. Demi mendapatkan lebih banyak uang, mereka sengaja memilih jalur jauh untuk menambah putaran meteran, sehingga penumpang membayarnya lebih banyak dari yang semestinya. Belum lagi supir taksi yang menukangi meterannya sehingga putarannya lebih kencang dan lebih banyak.
            Jika berhubungan dengan sopir taksi di kota yang tidak kita kuasai, jelas posisi tawar kita sangat rendah, artinya; kita tidak tahu si sopir berlaku jujur atau tidak (untung sekarang ada alat GPS di smartphone).
            Sama seperti ketika bernegosiasi dengan tukang, supplier atau bidang bisnis yang tidak kita kuasai. Kita dalam posisi yang tidak bisa begitu saja mengetahui apakah kita sedang ditipu atau tidak.
            Kita hanya tahu setelah terjadi, setelah membayar dan pada kesempatan lain kita menemukan fakta-fakta bahwa layanan atau produk yang kita beli benar dan berkualitas dengan harga yang pantas atau kebalikannya.
            Jika sudah demikian, andaipun kita kecewa dengan layanan atu produk yang kita beli, posisinya sudah terlambat. Bahkan marah besar sekalipun tidak lagi bisa menolong kesialan kita. Kita dalam posisi sangat lemah dan itu sangat menyakitkan.

TAKUT
            Bagi para penipu, posisi ketidaktahuan dan ketidakberdayaan kita adalah sasaran yang empuk. Kita adalah binatang buruan yang sangat mudah dimangsa. Mereka tidak takut kepada kita, karena posisi kita lemah.
            Tapi ingat, bahwa ada lagi yang Maha Kuasa yang tidak bisa ditipu, Dialah Tuhan Yang Maha Tahu. KepadaNyalah kita bisa minta pertolongan dalam kondisi kelemahan dan ketidakberdayaan kita.
            Sebagai upaya terakhir saya jika terpojok dalam posisi tidak nyaman itu, saya menggunakan konsep ini.
            Dalam hal sopir taksi, biasanya sopir taksi akan bertanya tujuan kita dan mau lewat mana. Ketika kita jawab tujuan kita dan kita mengatakan tidak tahu lewat mana, disaat itulah titik lemah kita terbuka lebar. Jika si sopir tadi berniat jahat, pada saat itulah ia mulai beraksi, dengan menyebutkan bahwa rute ini macet dan banyak alasan lainnya.
            Pada saat itu biasanya saya akan mengakatan bahwa, silahkan saja memilih jalan manapun yang paling efisien dan cepat. Lalu saya sebutkan bahwa saya percaya kepada sopir tersebut diiringi pertanyaan, “Anda bisa dipercaya kan?”.
            Biasanya si sopir akan menjawab dengan kata “iya, bisa”, nah jawaban itulah yang akan menjadi senjata saya. Saya akan mengatakan, “Saat ini saya dan anda saling percaya dan baik-baik saja, dan jika nanti abang berbuat sesuatu yang berlawanan dengan janji anda, itu sudah bukan urusan saya, itu urusan anda dengan Tuhan anda”.
            Saya akan menyampaikan hal yang sama kepada tukang, janji supplier dan lawan negosiasi. Dan biasanya saya akan merasa nyaman karena pertama saya sudah menyerahkan urusan kami dalam kuasa Tuhan dan kedua, lawan negosiasi saya biasanya takut kepada Tuhannya.
  
IKHLAS
Dan jika sudah meminta pertolongan dari Tuhan agar kita tidak tertipu, lalu kita masih juga tertipu, itu artinya ada kehendak lain yang kita harus terima dengan ikhas dan rasa iman yang tinggi. Karena, dibaliknya pasti aka nada kebaikan-kebaikan lain untuk kita.
            Dan biarlah urusan dosa si penipu menjadi urusannya dengan Tuhannya.


                                                                          Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »