PENGGEMBIRA UNJUK RASA

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 30 Mei 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
           TIAP pagi saya melewati Kantor DPRD. Pada waktu-waktu tertentu, saya mendapati banyak pedagang kaget yang berjualan di depan kantor ini setiap ada unjuk rasa. Saya menjadi tahu, setiap ada mereka, berarti bakal ada keramaian semacam unjuk rasa.
              Ketika banyak orang merasa terganggu dengan aksi unjuk rasa, ternyata ada beberapa pengusaha kecil yang selalu bersyukur jika ada keramaian seperti unjuk rasa. Yang selalu menjadi pertanyaan dalam pikiran saya, adalah bagaimana mereka bisa tahu sebelumnya. Rasa penasaran itu membawa saya untuk mendekat dan bertanya.
   “Habis bang?” Tanya saya kepada seorang penjual bakso. “Habis mas, maaf”, jawabnya. Gerobak mie ayam disebelahnya sudah mulai dibersihkan oleh penjualnya. Nampaknya juga habis. Tinggal penjual tahu isi yang masih ada barang dagangannya, itupun ternyata sudah putaran yang ketiga. Sudah dua kali istri si penjual tahu isi mengantarkan tambahan barang dagangannya. Sambil menjawab pertanyaan saya, si penjual tahu isi berkata, “Alhamdulillah pak, hari ini yang demo banyak”.
               
KEKUATAN INFORMASI
               Saya selalu penasaran, bagaimana mereka yang selama ini entah berjualan dimana, tetapi setiap ada demonstrasi di Gedung DPRD, mereka seperti sudah tahu duluan. Para pedagang kaget ini sudah buka lapak pagi-pagi bahkan sebelum tim kepolisian datang mengamankan lokasi.
            Artinya, mereka sudah mendapat informasi jauh hari sebelumnya. Sementara sebagian besar anggota DPRD sendiri tidak semua tahu jika hari itu bakal ada rombongan demonstrasi.
 Informasi yang akurat ini menjadi bekal utama konsep bisnis ini. Konon sampai tahu berapa jumlah peserta demo, rute objek demo dan durasi demo juga bisa mereka tahu. Saya sangat heran ketika mereka mengaku tahu berapa tim pengamanan dari kepolisian yang akan datang. Atas inforasi tersebut, mereka tahu berapa stok barang dagangan yang harus mereka siapkan.
Informasi lain yang tidak kalah penting adalah karakter pendemo. Apakah tipe rusuh yang berpotensi makan tetapi tidak bayar atau tipe gaduh yang berpotensi menciptakan huru-hara dan membahayakan dagangan. Informasi tersebut berguna untuk menetukan posisi lapak, memilih yang strategis dan aman.

MARKETING INTELEGENT
                Saya mencoba bersabar mengorek informasi. Saya mendapati jawaban yang membuat saya terkagum dengan cara mereka. Ternyata mereka punya jaringan ‘orang dalam’ yang hebat. Mereka punya kawan-kawan di kantor DPRD tersebut. Jelas bukan pimpinan dewan, tetapi sepertinya mereka yang memiliki akses informasi dan sudah mereka ajak berkawan sejak lama.
               Bukan hanya di kantor DPRD, mereka juga punya jaringan di Kantor Walikota bahkan Kantor Gubernur. Bahkan konon ada juga informan mereka di kantor polisi. Luar biasa…
                Sekali waktu ada seorang ibu anggota DPRD yang menerima peserta unjuk rasa, karena merasa iba, si ibu meminta ke penjual makanan itu untuk memberi makan beberapa pengunjuk rasa. Yang terjadi kemudian adalah semua pengunjuk rasa menyerbu dagangan. Dalam hitungan menit ludes. Dengan kekuatan jaringannya, si pedagang bisa memiliki akses untuk mengetahui kemana ia menagih pembayarannya. Antas bantuan informan-informannya, si pedagang menemukan dengan mudah si ibu tadi sedang dimana dan jam berapa hingga si ibu tak bisa lari kemanapun.
                Bisnis pola ini tidak saja mengandalkan kekuatan rasa produk makanannya, tetapi lebih kepada keandalan informasi. Terjadi dengan pola jaringan yang rapih, terselubung dan berkesinambungan. Betapa dicelah sesempit apapun selalu ada kesempatan bagi mereka yang bersungguh.


                                                                    Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »