ANTI GRAND OPENING

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 1 Agustus 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu mennyebutkan sumbernya

                ANAK saya sedang berlajar berbisnis. Dia dan sepupunya membuat sebuah gerai kuliner di Medan. Saya menyarankan agar tidak usah repot-repot membuat peresmian besar pada awal usahanya dimulai. Mereka terheran tetapi akhirnya tetap menjalankan saran saya.
               Gerai kuliner mereka dimulai dengan merambat pelan pada awalnya. Promosi yang Mereka lakukan sangat sederhana, hanya mengandalkan perkawanan dari jaringan media sosial dan orang-orang yang lalu lalang di depan gerainya saja.
              Jumlah pelanggan yang datang bergerak naik dengan pelan, tidak seperti gerai yang lain yang mendadak ramai-heboh sejak awal pembukaan tetapi lalu drop menghilang pada bulan ke empat dan seterusnya.

GRAND OPENING
 Khusus untuk jasa kuliner, biasanya konsumen yang datang pada masa 3 bulan pertama adalah mereka-mereka yang sedang ‘mencoba’ saja. Ketika anda tidak benar-benar siap menyambut mereka yang datang dalam jumlah sekaligus besar, anda sedang menggali kuburan anda sendiri. Begitu keluhan demi keluhan terjadi, secara beruntun pada kesan pertama, selanjutnya bisnis anda akan di coret dari daftar pilihan pelanggan itu.
            Benar bahwa “jika diberi waktu, tak akan ada satupun pekerjaan yang selesai”, tetapi memulai hal yang serba baru dan tampil sempurna memerlukan persiapan yang tidak main-main. Sialnya, untuk benar-benar sempurna, anda memerlukan waktu dan sumber daya yang tiada sedikit.
Jika ingin membuat perayaan grand opening untuk usaha anda, pastikan posisi usaha anda sudah benar-benar siap, baik tempat usaha, produk, tim pelaksana, sarana promosi, dan semuanya. Karena begitu anda mulai, anda masuk dalam arus janji yang tiada celah untuk minta time-out / rehat sejenak.`

HENING
Begitu dibilang anak saya. Usaha mereka dibuka dalam ‘keheningan’ tanpa riuh undangan, iklan di Koran, iklan di radio, papan bunga, hingga baligho atau poster.
Keheningan yang sengaja dibuat ini menjadi pilihan karena; Pertama, bagi para pemilik dan pengelolanya ini adalah bisnis serius pertama yang sedang mereka coba pelajari sambil jalan. Mereka belum memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk semua hal, mulai dari pengalaman mengelola pegawai, mengelola operasional, mengelola keuangan, mengelola Pemasaran dan yang lainnya. Mereka hanya punya semangat. Ya itu saja.
Kedua, pegawai yang mereka rekrut hanya satu-dua orang saja yang benar berpengalaman dalam pekerjaannya, sedang selebihnya mereka adalah pemula yang tak pernah ada pengalaman sama sekali.
Ketiga, produk yang mereka tawarkan memerlukan proses uji respon pembeli, memerlukan perbaikan dan penyempurnaan.

TUMBUH BERSAMA
             Ada proses natural yang bertumbuh bersama-sama dalam proses hening ini. Produk, pegawai hingga tamu-tamu yang datang terlibat dalam pertumbuhannya.
              Tamu-tamu yang datang dilibatkan dalam proses bisnis ini, terjadi percakapan dan akhirnya mereka memberikan masukan dan saran. Ketika kunjungan berikutnya mendapati saran dan masukkannya dilakasanakan, para tamu merasa senang dan menjadikan tempat kuliner itu menjadi rumah bagi mereka.
                Produk dan pegawai bertumbuh dengan natural. Pegawai-pegawai yang bekerja terseleksi dengan lumrah. Ada yang tidak cocok bekerja dalam hitungan hari, ada yang cocok bertahan hingga tulisan ini saya buat. Ada proses terkoneksinya aura antara para pekerja dan pengelola. Hanya yang cocok yang bisa bertahan.
               Pertumbuhan yang terkesan ‘lambat’ tetapi terkonstruksi dengan baik ibarat pohon yang ditanam dari biji, pelan tapi memiliki akar yang kokoh menghujam dan mengikat bumi. Karena bisnis bukan cuma untuk semusim saja.


                                                               Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »