Kata Siapa?

Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 15 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya
AKHIR minggu lalu, saya meng-coach seorang pekerja karir yang ingin berinvestasi. Ia ingin sekali mendapatkan hasil investasi yang besar dengan bentuk investasi yang sesederhana mungkin.
Dalam pikirannya ia memiliki 2 alternatif investasi yaitu membeli tanah yang luas di kampung atau membuat rumah dipinggiran kota dengan tanah yang lumayan luas. Tetapi ia ragu-ragu. Jika memilih membeli tanah di kampung, bisa saja status legalitas tanahnya bermasalah, karena kebetulan salah satu temannya sudah bertahun sedang menjalani proses hukum karena tanah yang dibelinya ternyata memiliki surat ganda, sehingga kepemilikannya bertumpuk.
Lalu, jika ia pilihannya adalah membuat rumah di pinggiran kota, ia ingin rumahnya ia desian sendiri. Ia ingin rumah itu menjadi rumah tinggal yang nyaman bagi diri dan keluarganya.

PERTANYAAN
            Saya membantunya dengan beberapa pertanyaan; misalnya apakah ada di dunia ini yang sedikit modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Setelah bebarapa waktu hening, ia menjawab, hasil besar harus dengan usaha besar. Hasil besar berbanding lurus dengan pengorbanan yang dilakukan.
            Lalu saya bertanya lagi; apakah hanya 2 bentuk investasi itu saja yang dia ketahui? Apakah tidak ada yang lain? Sejenak dia berfikir dan menjawab, “mungkin ada ya…”.
           Saya bertanya lagi;  jika harus memilih berinvestasi di tanah, apakah semua tanah bermasalah? Apakah semua tanah berstatus bermasalah dalam legalitasnya? Apakah ada sumber informasi lain tentang pertanahan selain satu-satunya kawan yang sedang bermasalah dipengadilan itu? Apakah mungkin dia cari sumber-sumber informasi itu , agar lebih melengkapi datanya.
          Semua pertanyaan itu ia jawab satu persatu dengan ‘aha…!’, sebuah klik dimana ia menemukan bagian-bagian yang terlewat dari cara berfikirnya karena kurangnya data yang valid.
            Ketika terfikir untuk berinvestasi dalam bentuk rumah di pinggiran kota, saya bertanya, apa beda nilai modal yang harus dikeluarkan antara membangun rumah untuk investasi dan rumah untuk memuaskan selera diri sendiri?
            Jelas rumah sesuai selera akan mengambil modal yang jauh lebih besar daripada rumah untuk investasi dan dijual. Karena ini menyangkut selera dan selera mengenai rumah sangat sulit dikendalikan.
            Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah selera dirinya atas sebuah desain rumah akan sesuai dengan selera pasar jika suatu saat nanti ia jual?
            Pertanyaan lainnya adalah; apakah ada bangunan rumah yang relatif tidak ada maintenance? Sehingga nilai modal tidak tergerus tiap tahun hanya untuk perawatannya.

 KATA SIAPA?
Semua dari kita selalu bisa bersikap dan mengambil keputusan masing-masing. Permasalahannya adalah, bagaimana kesimpulan itu diambil? Atas dasar apa? Apakah data pertimbangannya cukup lengkap?
Kata-kata; ‘saya pikir’ dan  ‘saya rasa’, memang bagus, tetapi dasar pikiran dan perasaaan itulah yang sering terbukti kurang cukup, sehingga mengakibatkan pikiran dan perasaan yang dangkal serta kurang bijaksana.
Perlu sumber-sumber data yang kredibel, falid dan layak dipercaya. Perlu upaya memperkaya data sehingga cara pandang yang lebih luas dan bijaksana.
Yang kita perlukan hanyalah keluar dari tempurung yang mengurung diri kita dan bertanya. Ya, cuma bertanya. Bahkan mencari dan menilai kredibilatas narasumber juga bisa dilakukan dengan bertanya.
Ketika kita bertanya, kita akan mendapatkan banyak data. Ada yang pro dengan pikiran anda dan ada yang kebalikannya. Teruslah bertanya.
Pada akhirnya, kesempurnaan kelengkapan data harus diakhiri dengan keberanian pengambilan keputusan. Terlalu banyak data tanpa keberanian, hanya membuat kita menjadi penakut yang tidak mengambil langkah apapun.


            Konsultasi & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »