Mengawetkan Kenangan Dalam Kaleng



Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 22 Agustus 2016 dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

          JOGJAKARTA, kota keci ini sungguh tiada pernah berhenti dan menjadi poin kenangan indah bagi jutaan orang yang pernah berkunjung atau tinggal disana.  Semua sudut kota ini bercerita dengan gaya yang khas, natural dan bergaya ‘Jogja’.
            Setiap pergi meninggalkan kota ini, selalu saja ada alasan yang kuat untuk berjanji akan kembali lagi.
            Dengan berbagai cara orang membawa kenangan tentang Jogjakarta, ada yang melukisnya dalam lagu dan musik, ada yang membawa produk kerajinan dan kesenian, ada juga yang terpaut dengan makanannya.
           
GUDEG
           Gudeg dan Jogja adalah dua sisi mata uang yang tiada terpisah. Tak ada yang tidak pernah mencicipi gudeg bagi yang pernah tinggal disana. Buah nangka yang dimasak manis dan gurih ini lengket dengan ciri khas jogja. Dan orang-orang merindukannya, hingga terfikir untuk bisa membawa pulang ke kota masing-masing ketika berkunjung ke Jogja.
            Masalahnya, gudeg jogja adalah makanan tanpa pengawet yang tidak bisa bertahan lebih dari 24 jam tanpa disimpan di kulkas. Untuk dibawa atau jadi oleh-oleh, kemasan tradisionalnya terbuat dari kotak anyaman bambu yang disebut besek –tidak layak untuk penyimpanan lama dan kurang nyaman dibawa naik pesawat terbang--.
           
KENANGAN DALAM KALENG
            Adalah seorang Chandra Setiawan Kusuma --generasi ke-2 dari keluarga ibu Lies yang menekuni usaha Gudeg Wijilan di Jogjakarta—yang merasa gemas, tentang kenangan tentang Jogja dan gudegnya, agar bisa dibawa pergi jauh dan lama tanpa masalah.
            Impiannya sangat sederhana, gudeg sebagai poin kenangan tentang Jogjakarta mestinya bisa dikirim kemanapun, kapanpun dan dengan rasa yang tidak berubah. ia ingin Jogjakarta tetap menjadi kenangan indah dan bisa dinikmati dimanapun. Ia ingin menjawab kerinduan jutaaan orang yang kini tinggal jauh dari Jogjakarta.
Sekembali dari perantauannya, Chandra membuat serangkaian ujicoba kelayakan mengemas gudeg jogja dalam kemasan kaleng. Ia terinspirasi dengan berbagai makanan kaleng dari luar negeri yang tetap enak walaupun disimpan lama.
            Tahun 2011 ia yakin dengan hasil uji cobanya mengalengkan gudeg jogja. Tahun 2012 ia mulai memproduksi dengan kelengkapan perijinan dan sertifikasi standard kelayakan produk dan usahanya.
            Kini, produksi gudeg kalengan --yang ia klaim sebagai kenangan tentang Jogjakarta dalam kaleng--, sudah mulai dikenal banyak orang dan produksinya terus naik dan berkembang. Bahkan ia memiliki berbagai varian produk dari rasa manis hingga rasa pedas menderas seperti ledakan mercon.

DUTA BESAR DAN BERKUASA PENUH.
Satu sore di jalan Margo Utomo kawasan Tugu Jogjakarta, saya bertemu dengan Mas Candra si tokoh yang saya ceritakan tadi. Sebuah percakapan bermutu menjadi obrolan kami.
Dalam keyakinannya, ia harus menjadi Duta Besar dan berkuasa penuh atas produk gudeg kalengan yang ia rintis. Produk yang unggul dan praktis ini perlu disosialisasikan. Oleh karenanya ia mengangkat dirinya sebagai Duta Besar bagi produknya tersebut.
Chandra menjadikan dirinya sebagai billboard berjalan. Di pakaiannya ada logo yang selalu menjadi topik obrolan bagi siapapun yang baru saja mengenalnya. Jangan heran ia bawa kartu nama dan brosur kemana-mana.
Ia senang berorganisasi dan mengumpulkan kekuatan kolektif antar para pebisnis yang sejenis dalam sebuah asosiasi. Ia senang bertemu orang-orang baru. Strateginya yang keren adalah ketika ia berusaha memberikan sample untuk dicicipi secara langsung atau melalui pihak hotel dan restoran.


                                                          Konsultasi&Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »