TARGET YANG MEMAKSA


              APALAH arti sebuah perjalanan ketika tidak memiliki target yang jelas? Laksana seonggok sampah yang terapung dan terbawa arus sugai. Ia menyerahkan dirinya kepada arus sungai yang membawanya kemanapun.
            Sebagian orang menyebutnya dengan pasrah, tetapi saya menyebutnya sebagai sebuah kekalahan dan ketidakbersungguhan sikap. Kecuali memang seseorang itu berniat dan menargetkan dirinya hanya untuk mengalir begitu saja dan membiarkan dirinya menjadi objek yang dibawa arus kemanapun ia terbawa. Jika sudah demikian, tak pantas seseorang itu menghendaki sesuatu dan tidak pantas seseorang itu merasa kecewa dan sakit hati untuk keadaan dirinya yang mungkin kurang menyenangkan. Namanya juga mengikut arus. Dia bukan pihak yang menentukan arah, dia bukan pihak yang menentukan tujuan. Dia hanya objek. Dia bukan siapa-siapa.
               Ketika kita sebagai manusia diberikan hak berusaha, maka menentukan target dan tujuan adalah kewajiban pertama yang tidak bisa ditawar.

HENDAK
               Banyak dari kita yang terjebak dengan angan-angan ingin menjadi kaya dan sukses, tetapi angan-angan itu hanya sekadar khayalan bahkan jauh dari yang disebut dengan cita-cita. Saya menyebutnya dengan “hendak” saja.
            Bahkan ‘hendak’ ini juga menyelimuti banyak kepala pemilik bisnis. Mereka hanya berkhayal tanpa merubahnya menjadi cita-cita yang bisa diukur tahap-tahap pancapaiannya. Pebisnis korban khayalan ini adalah mereka yang tidak bisa menjelaskan secara detail, jelas, terukur dan dalam kurun waktu yang pasti atas apa saja yang mereka cita-citakan.
             Mereka yang menjadi korban ini biasanya merasakan kebingungan ketika mau mengerjakan sesuatu untuk mengujudkan cita-citanya. Mereka tidak tahu mau kemana, kapan, bagaima, dengan siapa, berapa dan seterusnya.
               Sialnya lagi, ada sebagian dari mereka yang bahkan tidak tahu harus memiliki tujuan atau target apa yang seharusnya mereka perjuangkan.

TARGET
              Hakikat manusia adalah berusaha, sedangkan hasil adalah urusan Tuhan. Oleh karenanya, menentukan target adalah hal wajib yang harus dilakukan. Inilah jawaban untuk mereka yang tidak tahu harus kemana. Tentukan tujuan. Tentukan target kerja. Tentukan target bisnis, jika perlu tentukan target hidup anda.
            Target adalah sebuah tujuan yang diyakini harus dituju sebagai ujung sebuah perjalanan atau proses. Target disusun agar menjadi patokan, rambu-rambu dan panduan arah bagi pembuatnya.
             Target lebih mudah jika di-angka-kan. Sebut dalam jumlah sehingga jelas ukurannya. Target disusun dengan ukuran waktu yang jelas angka-nya. Angka-angka itulah yang akan menjadi panduan.

MEMAKSA
               Banyak dari kita yang menjadi penakut ketika mentukan target. Kita merasa tidak yakin dan tidak percaya diri, sehingga target yang tersusun sangatlah normatif, biasa-biasa dan umum. Dalam cara pandang kemajuan, target yang biasa-biasa saja sebenarnya bukan tanda kemajuan.
Sebutlah target kenaikan penjualan yang hanya 10%. Angka itu sangat bisa tercapai hanya karena faktor kenaikan harga jual. Angka itu menjadi tidak berarti ketika nilai inflasi justru mendekati angka tersebut. Artinya, target yang biasa-biasa jelas bukan merupakan kemajuan, tapi hanya jalan ditempat.
               Paksalah diri anda sendiri. Paksalah semua tim kerja anda. Karena jika tidak terpaksa, kita cenderung tidak akan berubah dan bekerja. Tentukan target anda dalam angka yang memaksa. Seting setinggi mungkin. Jangan takut.
Target bagi saya adalah doa. Ingat, anda hanya disuruh meminta, dan Tuhan akan mengabulkan. Jika anda tidak berani meminta dan khawatir, sesungguhnya besar kemungkinan anda sedang krisis keimanan terhadap Tuhan anda. 
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 26 September 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya


                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »