APA BISNIS ANDA?

                KLIEN coaching bisnis saya sering salah menyebut bisnisnya. Sebutlah bang Anto yang mengaku memiliki bisnis sebuah restoran. Pak Juned mengaku berbisnis pembuatan cangkul dan Ibu Elida pemilik bisnis penyewaan tratak.
              Dalam cara pandang itu, Bang Anto merasa produk catering untuk pesta dan makanan rantangan bukanlah bisnisnya. Sehingga ketika restorannya mencapai titik penjualan maksimum, ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan pendapatannya.
              Sama ketika permintaan alat cangkul mulai menurun, Pak Juned merasa ide pembuatan pisau dan alat pertanian lain bukan merupakan solusi yang cemerlang.
               Demikian juga dengan Ibu Elida yang ketika merasa pendapatannya kurang bagus, ia tidak merasa terpanggil untuk menambah produknya dengan penyewaan kursi, meja, pelaminan, meja makan, piring dan gelas atau perlengkapan pesta lainnya.

URUSAN
                Dalam terminologi bahasa Ingris, secara sederhana kata Bisnis/Business bisa diartikan sebagai ‘urusan’.  Sehingga sering kita lihat dalam dialog berbahasa inggris, jika seseorang menolak sesuatu sering menyebutkan, “That is not my business” yang berarti, “Itu bukan urusan saya”.
                Oleh karenanya, saya menyebut bisnis sejatinya adalah urusan. Sebuah kegiatan yang kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen atau membantu konsumen. Ada unsur pelayanan dalam urusan itu.  Sehingga saya mendeskripsikan bisnis adalah sebuah upaya untuk melayani konsumen dalam memenuhi kebutuhannya degan sebuah produk atau membantunya dalam sebuah jasa pelayanan.
                Jika tadi Bang Anto menyebutkan bahwa bisnisnya adalah mengelola restoran, maka dalam cara pandang ini, bisnisnya/urusannya adalah melayani konsumen dengan menyediakan serta melayani kebutuhan dalam hal makanan dan minuman.
                  Sehinga jelas bahwa restoran bukanlah urusan/bisnis, tetapi hanya salah satu produk dari urusan utamanya menyediakan serta melayani kebutuhan dalam hal makanan dan minuman.
                Jika tadi Pak Juned menyebutkan bahwa bisnisnya adalah membuat cangkul, maka sebenarnya; urusan/bisnisnya adalah melayani konsumen dalam hal pembuatan perkakas pertanian. Dalam hal ini, pembuatan cangkul hanyalah salah satu dari produk dari produk bisnis/urusannya.
                Kesalahan penyebutan bisnis dengan menyebutkan produknya akan mengakibatkan sempitnya cara pandang dan cara berfikir. Hal ini berakibat kepada keterbatasan ide serta kreatifitas ketika opsi mengganti atau mengembangkan binis harus dilakukan.
                  Jadi saat ini saya pikir anda sudah Paham bahwa bisnis anda bukanlah produk atau jasa bisnis yang anda miliki, tetapi urusan besar yang lebih luas dalam urusan anda. Dengan memandang bisnis anda dengan lebih luas, maka pikiran anda akan lebih luas dan potensi kreatifitas tidak akan terpagar oleh tembok-tembok karakter produk anda.
               
MELAYANI
                Saya tidak hendak latah asal menyebut pelayanan. Karena sejatinya kita memiliki urusan dengan konsumen. Apapun itu adalah upaya melayani, membantu dan memenuhi kebutuhannya melalui produk atau jasa yang kita tawarkan.
                Kata melayani tidak bisa ditinggalkan karena sejatinya bisnis/urusan kita adalah memang melayani. Artinya budaya memberikan pelayanan adalah pilihan yang tidak bisa kita hindari. Dan kata melayani adalah kata sakti yang memiliki bobot kemuliaan. Kata melayani adalah penggambaran bentuk tidakan yang mulia, terpuji dan bernilai.
                Oleh karenanya, siapapun kita harus memiliki kemuliaan jiwa untuk bisa menyelesaikan urusan/bisnis kita. Jiwa mulia ini harus ada karena melayani memaksa diri untuk tunduk merendah dibawah orang yang dilayani.
                Merendah bukanlah rendah. Merendah adalah tindakan nyata dari pernyataan bahwa kita sebenarnya tinggi dan mulia. Karena hanya mereka yang tinggi saja yang bisa merendah.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 10 Oktober 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                                                Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »