Agen, Makelar, Komisioner



        ADA satu pihak baik berupa pribadi atau perusahaan yang berdiri diantara 2 orang/pihak dalam hal transaksi barang/ jasa. Pihak tersebut menjadi penghubung/ perantara transaksi tersebut.
        Setidaknya ada 3 posisi peran yang sedikit sekali perbedaanya dalam menjadi perantara, yaitu; Agen, Makelar dan Komisioner.
Agen adalah perantara perdagangan yang atas nama suatu perusahaan tertentu untuk menjualkan barang/jasanya. Agen menjual barang/jasa tersebut dengan harga berdasarkan kesepakatan antara dirinya dan produsen. Disana agen mendapatkan keuntungan berdasar komisi atau pendapatan lain sesuai kesepakatan.
Makelar adalah perantara yang atas nama orang lain (pemberi kuasa) mencarikan barang bagi pembeli dan atau menjualkan barang bagi penjual. Makelar mengadakan perjanjian-perjanjian atas nama mereka dalam penjualan atau pembelian suatu barang.
Makelar tidak ikut bertanggung jawab atas penyerahan barang dan pembayarannya. Tugasnya hanya memungkinkan penjual dan pembeli mengadakan perjanjian jual beli sendiri. Bebas jasa makelar disebut provisi atau krtasi.
Komisioner (sering pula disebut pedagang komisi) adalah perantara dalam perdagangan seperti juga makelar. Ia bekerja atas namanya sendiri dan ikut bertanggung jawab sendiri atas tindakan yang dilakukan dalam mengadakan perjanjian jual beli. Untuk jasanya ia memperoleh komisi.

KAPASITAS PERSONAL
        Tidak perduli agen, makelar atau komisioner (selanjutnya saya sebut agen untuk memudahkan penyebutan), ada kesamaan dasar yang membuatnya sukses; yaitu kapasitas personal pribadi pelakunya. Saya memperhatikan beberapa kondisi penting;
        DEDIKASI, ini menjadi syarat dasar suksesya para agen. Mereka yang sukses terbukti memiliki dedikasi yang sangat tinggi. Mereka jelas tidak memiliki/memproduksi barang/jasa-nya sendiri. mereka juga tidak memiliki kepentingan untuk membeli barang/jasa untuk dirinya sendiri.mereka hanya perantara. Mereka seperti burung yang pagi keluar rumah dan sore pulang membawa rejeki/makanan.
        Dedikasi itu membawa diri kepada PENCITRAAN keagenan yang dalam. Didalamnya bersangkutan dengan jumlah JARINGAN pergaulan yang luas. Di handphone-nya terdaftar banyak sekali nomor kontak yang dengan nomor itu si agen bisa mengkases informasi apapun. Setelah jaringan, agen memiliki tingkat kedekatan hubungan yang baik serta menjadi pihak yang pertama mendapatkan informasi. Informasi yang jauh lebih dalam daripada yang dimiliki penjual dan pembeli yang mereka agenkan.
        Agen sukses mengetahui banyak hal tetapi biasanya memperkenalkan dirinya sebagai agen khusus atas produk/jasa tertentu saja. Itu cara sederhana untuk dapat diterima oleh public. Sebutan “agen dunia” adalah sindiran kepada seseorang yang tidak memiliki spesifikasi produk, dan menjadi agen apapun.
        Agen sukses berinvesati pada kepercayaan. Mereka harus memainkan peran jangka panjang. Mereka berusaha untuk tidak pernah cacat komitment. Mereka yang menyadari peran bisnisnya, tidak akan gegabah sekedar mendapat keuntungan jangka pendek. Agen pemula sering terkapar karam karena terjebak oleh kebutuhan hidup jangka pendek. Investasi ini juga membutuhkan modal, setidaknya modal pergaulan yang kadang harus bergaya seperti level pasar yang harus ia masuki dan itu tidak murah.
Agen sukses memiliki kesabaran yang tangguh dan mampu menunggu momen yang tepat. Agen sukses tidak terjadi dalam waktu singkat. Mereka mulai merasakan hasil panen setidaknya setelah berjalan lebih dari 2 tahun masa karirnya, jika dikerjakan dengan intens dan serius serta berkelanjutan.
Agen tidak lekang oleh waktu. Dari jaman kuno hingga kini masih terus dibutuhkan agen. Jangan heran, jika ada presiden satu negara meggunakan agen untuk bisa bertemu dengan presiden negara lainnya.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 31 Oktober 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya

                                                   Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com


Previous
Next Post »