SENTIMEN

              KONON, kini terjadi penurunan tajam atas penjualan sebuah produk roti yang diproduksi secara besar di Indonesia. Menurut kabar angin, penurunan itu terjadi serta-merta setelah pihak manajemen produsen roti tersebut mengeluarkan statemen bahwa mereka tidak terlibat dalam sebuah aksi masal tertentu. Tambahan pernyataan sikap manajemen produsen roti tersebut malah menjadi kontra produktif. Singkatnya, bagi sebagian besar konsumen mereka, pernyataan itu bukan lagi dianggap bersikap netral, tetapi malah menuding pelaku aksi masal tersebut dengan posisi yang tidak menyenangkan.
                Itulah sikap pasar, itulah sikap konsumen. Pasar bisa saja bereaksi sangat keras terhadap sikap produsen/penjual. Saya menyebutnya dengan Sentimen.

SENTIMEN
                Pada Kamus bahasa Indonesia, kata sentimen/sen•ti•men/ /séntimén/  adalah pendapat atau pandangan yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu (bertentangan dengan pertimbangan pikiran) atau emosi yang berlebihan, bisa juga berarti iri hati; tidak senang; dendam.
              Sejarah membuktikan bahwa Sentimen konsumen terbukti sudah menjatuhkan banyak produk dan merusak pasar.   
   Pada suatu ketika di tahun 90-an, ada sebuah produsen biskuit yang merasakan efek sentiment konsumen yang sangat merugikan, konon gara-gara satu produksinya ter-isu-kan mengandung lemak babi, maka produk tersebut langsung tidak laku di pasaran. Yang lebih sial lagi, ratusan produk lain dalam groupnya merasakan hal yang sama. tidak laku.
               Sentimen konsumen tidak bekerja dalam alur logika sederhana. Mereka tidak perduli kualitas produk. Mereka kadang tidak perduli dengan harga. Mereka hanya ingin memuaskan perasaan mereka.

SIMPATI
             Memanfaatkan momen, kondisi dan situasi sentiment konsumen, sejarah juga membuktikan banyak suksesnya sebuah produk.
                Ketika pasar rindu akan produk yang berbau religi, muncullah sebuah mie instant dengan merek yang terdengar seperti bahasa arab. Mie instant ini sempat menikmati suksesnya beberapa waktu hingga kemudian terbongkar fakta bahwa pemiliknya bukan seperti yang pasar sangkakan pada awalnya.
                Ketika banyak pertanyaan tentang kandungan alkohol dalam proses pembuatan kue tradisioanal di kota medan, muncullah sebuah merek kue yang meraup sukses hingga saat ini.  Nama mereknya seperti nama seorang muslimah dengan embel-embel kata “hajah” didalam kemasannya. Bukan itu saja, pada waktu peluncurannya, pengusaha kue tersebut menyampaikan kepada publik bahwa kue buatannya tidak menggunakan alkohol. Belum lagi para petugas penjualannya menggunakan atribut muslim seperti jilbab bagi yang perempuan.

MUSUH KONSUMEN
                Berposisi berlawanan dengan sikap dan perasaan konsumen secara terbuka mungkin harus dipertimbangkan secara masak-masak sebelum dilakukan.
                Kita harus mempertimbangkan, apakah kita akan mencari keuntungan bisnis atau sekedar memuaskan perasaan kita.
                Melalui media massa, produsen roti tersebut diatas bisa saja mencoba memperbaiki situasi dan menyampaikan bahwa mereka tidak menghadapi masalah apapun sehubungan pernyataan mereka. tetapi pada saat yang bersamaan, masyarakat juga melihat secara langsung bagaimana bertumpuknya produk roti mereka yang tidak laku digerai-gerai tempat mereka menjualnya.
                Kini, sudah terbukti kehebatan media massa tidaklah bisa mengalahkan arus informasi melalui media sosial di internet. Konsumen sudah semakin sulit kita kendalikan dengan media tradisional. Dan publik kini tahu bahwa media massa tradisional bisa ‘dipesan’ oleh pemilik kepentingan dan berkuasa.
                Demikian juga pedagang kue yang mecoba mengikuti gaya jualan ala muslim yang sudah sukses di seberang toko-nya. Mereka membuat embel-embel kata “Haji” dan mewajibkan pegawai yang perempuan menggunakan hijab, tetap saja pasar sudah tahu bahwa ia hanya mengekor, tidak genuine, tidak original.
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Medan Bisnis pada tanggal 19 Desember 2016, dihalaman 7. Diperbolehkan mengcopy dan menyebarkan dengan selalu menyebutkan sumbernya.

                                                              Coaching & Pelatihan; tj@cahyopramono.com
Previous
Next Post »